Thursday, November 26, 2009

Pengertian Perilaku Asertif


Pengertian Perilaku Asertif  : Poerwadarminta (1986) dalam kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa pengertian perilaku asertif, yaitu suatu perbuatan atau cara menjalankan sesuatu. Bila ditinjau dari komponen yang dikemukakan Azwar (1992) yaitu terdiri dari kognitif, afektif dan konatif, maka setiap individu akan bersikap terhadap suatu objek sikap berdasarkan pikirannya (kognitif) yang kemudian akan dinilai apakah sesuai dengan perasaan (afektif) dan selanjutnya akan dilakukan tindakan (konatif) terhadap objek sikap tersebut. Menurut Smith (dalam Rakos.1990) menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan hak setiap individu untuk menentukan sikap, pemikiran dan emosi yang dilandasi rasa tanggung jawab atas segala hasil serta akibat tersebut bagi individu itu sendiri.

Gunarsa (1992) menyatakan bahwa perilaku asertif adalah perilaku antar pribadi (interpersonal behaviour) yang melibatkan aspek kejujuran, keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku asertif ini ditandai dengan adanya kesesuaian sosial dan seseorang yang mampu berperilaku asertif akan mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Selain itu, kemampuan dalam perilaku asertif menunjukkan adanya kemampuan untuk menyelesaikan diri dalam hubungan antar pribadi.

Lazarus (dalam Rakos,1990) adalah tokoh yang pertama sekali mendefinisikan perilaku asertif, yang mengatakan bahwa perilaku asertif adalah cara individu dalam memberikan respon dalam situasi sosial, yang berarti sebagai kemampuan individu untuk mengatakan tidak, kemampuan untuk menanyakan dan meminta sesuatu, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan positif ataupun negatif, serta kemampuan untuk mengawali kemudian melanjutkan serta mengakhiri percakapan. Selain itu perilaku asertif merupakan akibat adanya kebebasan emosional, yang meliputi pengetahuan akan hak-hak dan kemudian memperjuangkannya tanpa perasaan cemas terhadap orang lain.

Master dan Rim (dalam Rakos, 1990) mengatakan bahwa perilaku asertif merupakan perilaku interpersonal antar pribadi yang melibatkan kejujuran dengan pernyataan relatif dan pikiran dan perasaan secara tepat dalam situasi sosial dimana perasaan dan pikiran orang lain ikut dipertimbangkan. Kesemua definisi ini menitikberatkan pada ungkapan emosi sebagai faktor utama dalam perilaku asertif.

Alberti dan Emmons (2001) mengatakan bahwa perilaku asertif merupakan pernyataan diri yang positif, dengan tetap menghargai orang lain. Sehingga akan dapat meningkatkan kepuasan kehidupan pribadi serta kualitas hubungan dengan orang lain.

Perilaku asertif merupakan kemampuan seseorang untuk dapat menyampaikan atau merasa bebas untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya, serta dapat berkomunikasi dengan semua orang.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku antar pribadi yang menyangkut ekspresi yang tepat, jujur, terbuka, mempunyai sikap yang tegas, positif dan mampu bersikap netral serta dapat mengutarakan akan sesuatu objektif tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
Faktor–faktor yang mempengaruhi perilaku asertif menurut beberapa ahli seperti Allport (dalam Suryabrata, 1988), Fukuyama dan Greenfield (1993), Bidulp (1992), dan Maslow (dalam Goble,1987) adalah sebagai berikut :

a. Kepribadian 
Allport (dalam Suryabrata, 1988) mengatakan bahwa kepribadian ialah organisasi dinamis dalam diri Individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kepribadian yang dimiliki seseorang juga mempengaruhi perilaku asertif dalam berinteraksi dengan individu lain di lingkungan sosial.

b. Jenis Kelamin
Fukuyama dan Greenfield (1993) mengatakan bahwa pria lebih asertif dibandingkan wanita. Perbedaan perilaku asertif ini terutama jika berada dalam suatu kelompok.

c. Sikap Orang Tua
Bidulp (1992) mengatakan bahwa orang tua yang agresif maupun pasif tidak akan menghasilkan anak yang asertif dalam perkembangan kepribadian anak tersebut. Sebaliknya, orang tua yang tegas atau asertif besar kemungkinan bahwa anak-anaknya berprilaku asertif, sebab orang tua yang asertif selalu terbuka, mantap dalam bertindak, penuh kepercayaan diri dan tenang dalam mendidik anak–anak. Maslow (dalam Goble, 1987) mengatakan bahwa cara mengasuh anak yang disarankan ialah pemberian kebebasan dangan batas– batas yang fleksibel, artinya orang tua harus memikirkan sampai dimana batas batas dalam mengontrol anak. Orang tua yang ingin berhasil perlu mengetahui kapan mengatakan ya dan kapan mengatakan tidak. Ada saatnya orang tua harus bersikap keras tegas dan berani sehingga anak dapat mencontoh perilaku orang tuanya, sehingga membentuk anak menjadi asertif. Selain itu perilaku tidak asertif sering terjadi dikarenakan orang tua terlalu menekankan pada anak untuk lebih mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri.

d. Pendidikan
Hadjam (1998) mengatakan bahwa lingkungan pendidikan mempunyai andil yang cukup besar terhadap pembentukan perilaku, khususnya perilaku asertif. Pendidikan mempunyai tujuan untuk menghasilkan individu yang mudah menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan–perubahan, lebih mampu untuk menghasilkan individu yang mudah menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan–perubahan, lebih mampu untuk mengungkapkan pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab dan lebih berorientasi ke pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab dan lebih kemasa depan.

e. Kebudayaan 
Thoha (1993) mengatakan bahwa kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu merupakan salah satu faktor yang kuat dalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara individu berperilaku.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan perilaku asertif ditentukan oleh faktor kepribadian masing–masing individu, jenis kelamin, sikap orang tua terhadap anak–anaknya, pendidikan individu itu sendiri dan kebudayaan dimana individu itu berada.

Aspek–aspek Perilaku Asertif
Bove (dalam Ernita, 1999) mengemukakan enam aspek perilaku asertif, yaitu : (a) bekerjasama, (b) rasa percaya diri, (c) keterbukaan, (d) kejujuran, (e) kepekaan perasaan dan (f) ekspresi diri.

Selanjutnya Arianti (1992) menyebutkan aspek-aspek perilaku asertif adalah sebagai berikut :
a. Perasaan yang dikemukakan secara spontan, langsung, terbuka dan jujur.
b. Mengutamakan keinginan dan gagasan dengan spontan, langsung, terbuka dan jujur.
c. Penuh percaya diri, mampu berkata tidak menolak sesuatu yang kurang dikehendaki tanpa perasaan 
   cemas, gugup ataupun tegang terhadap individu lain.
d. Dapat menerima diri sendiri (self acceptance) dan dapat diterima individu lain dan serta tanpa merugikan 
    diri sendiri maupun individu lain..

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek–aspek perilaku asertif adalah dapat menguasai diri, yaitu bersikap bebas dan menyenangkan, dapat merespon hal–hal yang sangat beraarti dalam hidupnya, penuh percaya diri, yaitu mampu berkata “tidak” untuk menolak sesuatu yang tidak dikehendaki tanpa perasaan cemas, gugup ataupun tegang terhadap individu lain, dapat menerima diri sendiri (self acception) dan dapat diterima individu lain, mampu untuk berkerjasama, keterbukaan dan kejujuran.

4. Karekteristik Perilaku Asertif
Feinsterheim dan Baer (1980) serta Myers dan Myers (1992) mengatakan bahwa terdapat empat karakteristik perilaku asertif, yaitu :
  • Bebas mengungkapkan atau menyatakan perasaan dan pendapatnya. 
  • Dapat berkomunikasi dengan orang lain baik orang yang telah di kenalnya maupun belum, dengan komunikasi yang terbuka, langsung jujur dan tepat.
  • Mempunyai pandangan yang positif tentang hidup dan selalu tanggap terhadap perubahan (baik situasi ataupun pengalaman baru).
  • Bertindak dengan cara hormat, artinya menerima keterbatasannya sehingga kegagalan tidak membuatnya kehilangan harga diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari perilaku asertif adalah : bebas mengungkapkan diri, mampu berkomunikasi dengan baik dalam hal menolak, memuji maupun meminta bantuan orang lain, mempunyai pandang yang aktif serta respek pada diri sendiri dan juga pada orang lain.

Menurut Jung ada dua arah orientasi manusia terhadap dunianya,yaitu :
  • Orientasi mengarah kedalam; Orientasi ini merupakan energi psikis yang menjelma kedalam diri, lingkungan. Dalam kaitan relasi antar subjek-subjek, maka subjek akan selalu melihat ke dirinya terlebih dahulu. Dengan demikian arah orientasi ini menurut Jung merupakan gerak negatif. Hal ini dikatakan demikian karena subjek menuntut bahwa objek harus menyesuaikan diri terhadap subjek. Hal ini berarti bahwa tipe ini lebih tertarik pada dirinya bagaimana segala sesuatu itu berhubungan dengan dirinya. Seluruh pikiran, perasaan. Oleh karena itu tipe ini lebih menerima pikiran dan perasaannya sendiri dari pada dunia luar.
  • Orientasi mengarah keluar ; Orientasi ini merupakan orientasi energi psikis yang mengarah keluar. Orientasi seseorang mengarah kelingkungan objektifnya, dengan demikian orientasi tersebut merupakan gerak positif antara perhatian subjek terhadap objek.
Menurut Gunarsa, 1992 membagi perilaku asertif dalam tiga kategori, yaitu : 
  • Asertif penolakan, yaitu ditandai oleh ucapan untuk memperhalus seperti kata-kata maaf.
  • Asertif pujian, yaitu ditandai oleh kemampuan untuk mengekspresikan perasaan positif, seperti menyukai, menghargai, mencintai, memuji dan bersyukur.
  • Asertif permintaan, yaitu terjadi apabila individu meminta orang lain dalam mencapai tujuan individu itu sendiri tanpa tekanan atau paksaan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah bebas mengungkapkan diri, mampu berkomunikasi dengan baik dalam hal menolak memuji maupun meminta bantuan kepada orang lain.

Ditulis Oleh : Efendi Pakpahan // 2:53 AM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment