Tuesday, April 5, 2016

Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari kata comunicare yang berarti menyampaikan pandangan. Menurut Everett Roggers, komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Kemudian Carl I. Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. Sementara itu, Harold Lasswell dalam karyanya The Structure and Function Of Communication In Society memberikan definsi komunikasi dengan pernyataan “who says what, to whom, in with what channel, with what effect”. Artinya, komunikasi sebagai suatu proses penyampaian pesan dari komunikator yang ditujukan pada komunikan melalui media atau saluran yang menimbulkan efek tertentu (Mulyana, 2007: 68-69). Jadi, komunikasi pada dasarnya berkaitan dengan penyampaian sesuatu dalam rangka mendapatkan kesamaan makna dan menimbulkan efek.

Unsur-unsur dalam komunikasi merupakan bagian yang sangat penting dan melengkapi satu sama lain dalam rangkaian aktivitas komunikasi. Menurut Effendy (2006: 18) dari berbagai pengertian komunikasi yang telah ada, tampak adanya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Komponen atau unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut :
1. Komunikator : Orang yang menyampaikan pesan;
2. Pesan : Pernyataan yang didukung oleh lambang;
3. Komunikan : Orang yang menerima pesan;
4. Media : Sasaran atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya;
5. Efek : Dampak sebagai pengaruh pesan.

Prinsip-Prinsip Komunikasi
Menurut Deddy Mulyana (2007: 92-126), ada 12 prinsip komunikasi yaitu antara lain:
1. Komunikasi adalah proses simbolik
Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Misalnya, si Pulan sedang sedih kemudian ia menulis status di akun media sosial facebook atau twitter-nya dengan kata-kata sedih. Lambang memiliki sifat sewenang-wenang, tidak mempunyai makna sehingga kita yang memberi makna pada lambang tersebut.

2. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi baik yang tersirat secara verbal maupun non-verbal namun bukan berarti semua perilaku adalah komunikasi. Komunikasi terjadi apabila seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri.

3. Komunikasi mencakup dimensi isi dan hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal sementara dimensi hubungan disandi secara non-verbal. Dimensi isi menunjukkan muatan komunikasi yaitu apa yang dikatakan sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Misalnya, si Pulan menulis komentar di akun media sosialnya dengan menggunakan huruf kapital tau yang disebut dengan capslok kepada orang yang tidak dikenalnya. Tulisan tersebut bagi sebagian orang adalah tulisan yang menggambarkan bahwa seseorang menekankan sesuatu pada suatu kalimat dalam tulisan sehingga si Pulan dianggap sedang marah atau sedang memaki namun bisa berarti sebaliknya.

4. Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Kesengajaan bukan syarat untuk terjadinya komunikasi meskipun kita sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesankepada orang lain, perilaku kita potensial untuk ditafsirkan oleh orang lain. Kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita.

5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang, waktu, sosial dan psikologis

6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya. Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prediksi ini tidak selalu disadari dan sering berlangsung cepat.

7. Komunikasi bersifat sistematika
Ada 2 sistem yang beroperasi dalam transaksi komunikasi yaitu sistem internal dan sistem eksternal. Sistem Internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi yang ia serap selama bersosialisasi dalam berbagai lingkungan sosialnya. Misalnya, kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (filed of experience), struktur kognitif (cognitive structure), pola pikir (thinking pattern) atau sikap (attitude). Sementara itu sistem eksternal adalah unsur-unsur dalam lingkungan luar individu termasuk kata yang ia pilih, isyarat fisik dan sebagainya.

8. Semakin mirip latar belakang sosial budaya, semakin efektif komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya. Makna suatu pesan, baik verbal ataupun non-verbal pada dasarnya terikat budaya. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkommunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami bahasa yang sama.

9. Komunikasi bersifat non-sekuensial
Proses komunikasi tidak terikat oleh suatu tatanan tertentu.

10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Komunikasi merupakan proses yang berkelanjutan dimana para peserta komunikasi saling mempengaruhi baik secara verbal ataupun non-verbal. Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah secara kumulatif. Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan bahwa seseorang mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi.

11. Komunikasi bersifat Irreversible
Suatu perilaku adalah suatu peristiwa yang berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali”. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah sehingga prinsip ini menyadarkan kita bahwa kita harus hati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain karena efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali.

12. Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Banyak persoalan dan konflik antarmanusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah “obat” untuk menyelesaikan masalah apalagi yang berkaitan dengan masalah struktural.

Tujuan Komunikasi Ada empat tujuan atau motif komunikasi menurut Devito (1997: 30) yaitu:
1. Menemukan Universitas Sumatera Utara
Penemuan diri (personal discovery) merupakan salah satu tujuan utama dari komunikasi. Melalui komunikasi dengan orang lain, kita tidak hanya belajar mengenai diri kita sendiri melainkan juga tentang orang lain. Persepsi-persepsi yang kita punya sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah kita pelajari tentang diri sendiri dari orang lain selama komunikasi. Komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar, dunia yang dipenuhi objek, peristiwa dan manusia lain.

2. Untuk berhubungan
Salah satu alasan kita yang paling kuat untuk melakukan komunikasi adalah berhubungan dengan orang lain, membina dan memelihara hubungan dengan orang lain.

3. Untuk meyakinkan
Komunikasi bertujuan untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Namun dalam komunikasi interpersonal sehari-hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku orang lain.

4. Untuk bermain
Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri. Adakalanya hiburan ini merupakan tujuan akhir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang lain sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain.
Jadi, tujuan komunikasi pada dasarnya tidak terlepas dari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia saling berinteraksi satu sama lain dengan tujuan untuk aktualisasi diri, interaksi, eksistensi, ekspresi maupun menciptakan esensi dalam hidupnya.

New Media
Media baru adalah istilah yang digunakan untuk sejak kemunculan digital, komputer atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi diakhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai media baru yaitu bersifat jaringan, interaktif dan tidak memihak. Misalnya internet, website, aplikasi komputer, CD-ROOM dan DVD. Kemunculan media baru turut membawa perubahan pola komunikasi manusia. Media baru, dalam hal ini internet sedikit banyak mempengaruhi cara individu bekomunikasi dengan individu lainnya. Seperti yang dikatakan oleh McNamus (Nasrullah, 2014: 1) bahwa ada pergeseran dari ketersediaan media yang dahulu langka dengan akses yang juga terbatas menuju media yang melimpah.

Keberadaan media baru memberi ruang tersendiri bagi masyarakat karena media baru menawarkan banyak kelebihan. Kehadiran jenis-jenis media baru telah  memperluas dan merubah keseluruhan ketidakmungkinan hubungan sosio-teknologi terhadap komunikasi publik. Internet adalah salah satu bentuk dari media baru (new media) dimana internet merupakan bentuk konvergensi dari berbagai media seperti radio, televisi dan telepon. Penemuan komputer pada tahun 1960-an hingga 1990-an ternyata mampu menciptakan masyarakat dunia global. Sehingga tanpa disadari internet telah membentuk komunitas manusia menjadi dua dunia kehidupan, yakni kehidupan masyarakat nyata dan masyarakat maya (cybercomunity). Kebanyakan dari anggota masyarakat maya menjadi penduduk tetap dalam masyarakat tersebut dengan memiliki alamat rumah seperti email, website dan lain sebagainya (Bungin, 2006: 164).

Internet dapat menghubungkan komputer-komputer pribadi yang paling sederhana hingga komputer-komputer yang sudah canggih. Layanan yang diberikan oleh internet mencakup e-mail, File Transfer Protocol (FTP) dan world wide web (www.) dan yang paling banyak digunakan adalah e-mail dan www. Para pengguna dapat memasuki situs yang diinginkannya. Dennis McQuail (http://repository.unhas.ac.id) memberikan beberapa ciri mengenai internet, yaitu: teknologi berbasis komputer, potensi interaktif, fungsi publik dan privat, peraturan yang tidak ketat, saling terhubung, tidak tergantung lokasi. Selain itu dapat diakses individu sebagai komunikator, media komunikasi massa dan pribadi.

Internet juga menyediakan mesin pencari seperti browser dan search engine. Melalui mesin ini informasi atau teks dalam situs manapun dapat dilacak sehingga para pengguna dapat melakukan browsing acak secara cepat dan sistematis. Internet juga menyedikan banyak aplikasi yang memanjakan penggunanya agar dapat saling terkoneksi satu sama lain, seperti Surat Elektronik (e-mail), Surat Bersuara (voice note), Sistem Percakapan tertulis (chatt), Media Sosial dan lain-lain.

Paradigma Kajian

Paradigma Kajian : Istilah paradigma (paradigm) dikenalkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution. Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, istilah tersebut dipopulerkan oleh Robert Friedrichs yang merumuskan pengertian paradigma sebagai suatu pandangan mendasar suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Kemudian George Ritzer merumuskan pengertian paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang seharusnya dipelajari oleh suatu cabang (baca: disiplin) ilmu pengetahuan. Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang harus dijawab, bagaimana harus menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut (pengertianahli.com).

Berdasarkan beberapa pengertian paradigma itu dapat ditarik kesimpulan bahwa paradigma adalah suatu kerangka konseptual termasuk nilai, teknik dan metode yang disepakati dalam memahami atau mempersepsi segala sesuatu. Fungsi utama paradigma adalah sebagai acuan dalam mengarahkan tindakan, baik tindakan sehari-hari maupun tindakan ilmiah. Penelitian pada hakekatnya merupakan suatu upaya untuk menemukan suatu kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Usaha untuk mencari kebenaran dilakukan oleh para filsuf, peneliti maupun para praktisi melalui model-model tertentu. Model-model tertentu biasanya disebut dengan paradigma. Dengan kata lain, paradigma dapat diartikan sebagai cara memahami gejala dan fenomena semesta yang dianut oleh sekelompok masyarakat (world view).

Harmon mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas.Sementara itu Baker mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang melakukan dua hal yaitu: hal itu membangun atau mendefinisikan batas-batas dan hal itu menceritakan kepada kita bagaimana seharusnya melakukan sesuatu di dalam batas-batas itu agar bisa berhasil (Moleong, 2012: 47). Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme sebagai cara pandang peneliti dalam memahami bagaimana konstruksi pemahaman remaja di kota Medan tentang etika komunikasi di media sosial facebook dan twitter.

Konstruktivisme
Konstruktivisme telah muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia dan sejak Plato menemukan akal budi dan ide. Gagasan tersebut lebih konkret lagi setelah Aristoteles mengenalkan istilah informasi, relasi, individu, substansi, materi, esensi dan sebagainya. Ia mengatakan jika manusia adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci dari pengetahuan adalah logika dan dasar pengetahuan adalah fakta. Kemudian Socrates memperkenalkan ucapannya yaitu “saya berpikir karena itu saya ada” (Bungin, 2006: 193). Sementara itu, Von Glaserfield menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Pannen dkk, 2001: 3). Pernyataan para ahli tersebut menjelaskan bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Pengetahuan merupakan bentukan dari individu yang mengetahui dan tidak dapat ditularkan kepada individu yang pasif, sehingga sangat diperlukan sekali keaktifan dari seorang individu dalam merespon pengetahuan dengan menggunakan lingkungan sebagai sarana untuk mengkonstruksi pemahamannya.
Paradigma ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya, menurut Dedy N. Hidayat ada 3 paradigma: Pertama, paradigma klasik yang bersifat interventionist yakni melakukan pengujian hipotesis melalui eksperimen dengan analisis kuantitatif. Kedua, paradigma kritis yang berorientasi participative dengan mengutamakan analisis. Ketiga, paradigma konstruktivisme yang bersifat reflektif dan dialektikal dimana antara peneliti dan subjek yang diteliti menciptakan interaksi dialektis agar mampu mengkonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif (Bungin, 2006: 242).

Paradigma konstruktivis dalam ilmu komunikasi yaitu suatu pendekatan teoritis yang dikembangkan pada tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan-rekannya. Penggunaan teori ini pada waktu itu untuk meneliti komunikasi antarpesonal yang dikembangkan akademisi secara sistematik dengan membuat peta terminologi secara teoritik dan hubungan-hubungannya (Ardianto & Q. Annes, 2007: 158).
Sementara itu, Frans M. Parera (Bungin, 2006: 201) mengemukakan 3 tahap konstruksi yang berlangsung antara diri (self) dengan dunia sosiokultural yaitu:
  1. Tahap eksternalisasi yaitu tahap penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai bagian dari produk manusia.
  2. Tahap objektivasi yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Proses ini bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang di masyarakat melalui diskursus opini masyarakat tentang produk sosial tanpa harus terjadi tatap muka antar individu dan pencipta produk sosial itu.
  3. Tahap internalisasi yaitu tahap dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya.
Suparno, menetapkan 3 macam konstruktivisme: Pertama, konstruktivisme radikal yang menyatakan bahwa individu hanya mengakui apa yang dibentuk oleh pikirannya sendiri berdasarkan pengalamannya sendiri. Kedua, realisme hipotesisnya itu memaknai pengetahuan sebagai sebuah hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju pada pengetahuan yang hakiki. Ketiga, kontruktivisme biasa memahami pengetahuan sebagai gambaran dari realitas itu. Kemudian pengetahuan individu dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam dirinya sendiri (Bungin, 2008:14). 

Sementara itu, Piaget (terwujud.com) menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, rangsangan atau persoalan. Teori Piaget sering disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Belajar menurut pandangan konstruktivistik bukanlah sekadar menghafal akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain akan tetapi hasil dari proses konstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari “pemberian” tidak akan bermakna. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat dalam setiap individu. 

Pembentukan pengetahuan menurut Jean Piaget (terwujud.com) memandang bahwa subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Berkat bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah.Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi. Proses konstruksi yang dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut: 

Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. 

Asimilasi adalah pemaduan data baru dengan struktur kognitif yang ada atau proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skema melainkan perkembangan skema. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru. 

Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru. Dalam perjumpaan individu dengan lingkungan, akomodasi menyertai asimilasi. Terkadang, ketika dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skema yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Kemudian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada akan mengalami struktur yang baru.

Friday, April 1, 2016

Definisi Intensi

Schiffman dan Kanuk (2007) menyatakan bahwa intensi adalah hal yang berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau berperilaku tertentu. Chaplin (1999) menyatakan bahwa intensi merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Intensi menurut Corsini (2002) adalah
keputusan bertindak dengan cara tertentu, atau dorongan untuk melakukan suatu tindakan, baik itu secara sadar atau tidak sadar. Menurut Sudarsono (1993) menyatakan intensi adalah niat, tujuan, keinginan untuk melakukan sesuatu, mempunyai tujuan.

Horton (1984) mengatakan bahwa intensi terkait dalam 2 hal yang saling berhubungan yaitu, kecenderungan untuk membeli dan rencana dari keputusan membeli. Jadi intensi berhubungan dengan perilaku. Individu melakukan perilaku tersebut, apabila ia benar-benar ingin melakukannya untuk membentuk intensi.

Ajzen (2005), menyatakan bahwa intensi adalah indikasi seberapa kuat keyakinan seseorang akan mencoba suatu perilaku, dan seberapa besar usaha yang akan digunakan untuk melakukan perilaku. Menurut Theory of Planned Behavioral, intensi untuk melakukan suatu perilaku merupakan prediktor paling kuat bagi munculnya perilaku tersebut. Menurut Ajzen (1991) yang menjadi  faktor utama dalam theory of planned behavior ini adalah intensi seseorang untuk memunculkan suatu perilaku. Berdasarkan theory of planned behavior, intensi adalah fungsi dari tiga penentu utama, pertama adalah faktor personal dari individu tersebut, kedua bagaimana pengaruh sosial, dan ketiga berkaitan dengan kontrol yang dimiliki individu (Ajzen, 2005).

Berdasarkan uraian diatas, maka intensi adalah suatu keputusan atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu baik secara sadar atau tidak.

Aspek-aspek Intensi
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) intensi memiliki empat aspek, yaitu:
1. Sasaran (Target): yaitu sasaran yang ingin dicapai jika menampilkan suatu perilaku.
2. Action: merupakan suatu tindakan yang mengiringi munculnya perilaku.
3. Context: mengacu pada situasi yang akan memunculkan perilaku.
4. Time (waktu): yaitu waktu terjadinya perilaku yang meliputi waktu tertentu, dalam satu periode atau jangka waktu yang tidak terbatas.

Faktor- faktor Intensi
Ajzen (2005) mengemukakan intensi merupakan fungsi dari tiga faktor,
yaitu:
1. Faktor Personal merupakan sikap individu terhadap perilaku berupa evaluasi positif atau negatif terhadap perilaku yang akan ditampilkan.
2. Faktor sosial diistilahkan dengan kata norma subjektif yang meliputi persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk menampilkan atau tidak menampilkan perilaku.
3. Faktor kendali yang disebut perceived behavioral control yang merupakan perasaan individu akan mudah atau sulitnya menampilkan perilaku tertentu.

Menurut Ajzen (2005) ketiga faktor yaitu sikap, norma subjektif, dan perceived behavioral control dapat memprediksi intensi individu dalam melakukan perilaku tertentu. Hubungan antara intensi dan ketiga faktor yang mempengaruhinya dapat dilihat dalam gambar 1.





Gambar 1. Teori Planned Behavior

Umumnya seseorang menunjukkan intensi terhadap suatu perilaku jika mereka telah mengevaluasinya secara positif, mengalami tekanan sosial untuk melakukannya, dan ketika mereka percaya bahwa mereka memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya. Sehingga dengan menguatnya intensi seseorang terhadap perilaku tersebut, maka kemungkinan individu untuk menampilkan perilaku juga semakin besar (Ajzen, 2005). Apabila ketika control diri mereka lebih besar dalam memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya akan langsung mempengaruhi ke perilaku mereka.

Tuesday, February 9, 2016

COMPUTER VISION SYNDROME

Komputer adalah salah satu penemuan yang paling mengangumkan di abad ke-20. Namun pengguna komputer menghadapi masalah baru di tempat kerja dan sistem sekolah. Dengan waktu bekerja yang lama di depan monitor komputer, gejala sistemik dan kelainan pada mata dapat terjadi.1,2

Menurut United States Bureau of Labor Statistics, komputer digunakan di United States, oleh 100 juta orang dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Menurut National Center pada Education Statistics, 95% dari sekolah-sekolah dan 62% dari semua kelas di United States mempunyai komputer sejak tahun 1999.2 Pada penelitian, keluhan penglihatan dilaporkan 75% pada pengguna komputer yang bekerja 6-9 jam di depan layar komputer dan 50% pada pekerja lainnya.1

Kebutuhan akan penggunaan komputer di perusahaan atau keperluan pribadi membuat seseorang harus berlama-lama di depan komputer. Kebiasaan berlama-lama di depan komputer lambat laun akan mengganggu kesehatan sehingga sering kali muncul keluhan-keluhan mulai dari pusing, mata berair, leher dan punggung kaku. Banyak yang menduga hal ini disebabkan karena rasa tegang dan stres akibat pekerjaannya dan hal ini dianggap wajar. Padahal, keluhan tersebut bisa saja diakibatkan karena penggunaan komputer yang terlalu lama dan jika dibiarkan akan mengganggu kesehatan.3

Gangguan pada mata sering juga disebut sebagai computer vision syndrome. Gejala yang timbul pada gangguan ini seperti nyeri atau sakit kepala, dry eye, iritasi, dan mata lelah.1-5 Gangguan ini dapat mengakibatkan kemampuan fokus mata menjadi lemah, penglihatan kabur, pandangan ganda, dan disorientasi warna.3

Riwayat dan pemeriksaan dapat menyatakan korelasi antara pengguna komputer dan keluhan atau kelainan pada mata. Terapi terbaik yaitu dengan pendekatan multi-directional termasuk modifikasi pada pekerja ergonomik, koreksi kacamata, cahaya, faktor-faktor lingkungan dan jam istirahat dari video screen. Selanjutnya kita lebih mengerti tentang sindroma ini, kita harus lebih lanjut melindungi kesehatan mata kita dan dengan demikian dapat mencegah kejadian ini pada abad ke- 21.1

Definisi Computer vision syndrome (CVS) adalah gejala-gejala kelainan pada mata yang terjadi di antara para pengguna komputer. Gejala pada mata berkaitan dengan sindroma termasuk penurunan penglihatan, mata lelah, rasa terbakar, perih, dan silau.1-5

Frekuensi
Keluhan mata pada para pengguna komputer mempunyai persentase yang besar, ini diketahui dari pemeriksaan mata. Menurut Thompson, prevalensi gejala okular pada pengguna komputer, sebagian mengalami computer vision syndrome, rata-rata 25-93%.1,4,5

Penelitian oleh Sheedy dan kawan-kawan menunjukkan 1 dari 6 pasien memerlukan pemeriksaan matanya mempunyai masalah yang berhubungan dengan komputer. Biaya pemeriksaan mata dan membuat kacamata yang dipakai pada saat menggunakan komputer mendekati 2 milyar, walaupun belum tentu secara langsung menyebabkan computer vision syndrome.2

Hales dan kawan-kawan melaporkan bahwa kira-kira 22% dari pengguna komputer mempunyai masalah seperti masalah pada leher, masalah bahu, dan atau carpal tunnel syndrome 2,6

Etiologi
Penyebab computer vision syndrome (CVS) adalah multi faktor. Beberapa pendapat menyebutkan pengguna komputer ini sebagai sindroma. Faktor-faktor yang merupakan penyebab antara lain lingkungan, personal atau kombinasi dari keduanya.2

Faktor lingkungan
Para pengguna komputer melihat monitor pada sudut pandang tertentu. Terdapat banyak variasi sudut pada penempatan posisi kerja dan meja komputer. Selain itu, cahaya dan sumber pencahayaan di tempat kerja jarang diperhatikan.

Faktor personal
Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat menyebabkan CVS yang berhubungan dengan kelelahan karena penglihatan. Pengguna komputer yang telah mengalami presbiopia pada usia pertengahan dan tua, presbiopianya akan bertambah parah saat melihat dekat dan jarak tertentu, hal ini membutuhkan jarak kerja yang bervariasi pada para pengguna komputer.

Bekerja dalam waktu lama melihat monitor komputer menjadi faktor resiko yang bisa juga menyebabkan pengguna komputer mempunyai keluhan pada mata. Seorang akuntan atau sekretaris bisa duduk sedikitnya 6 jam setiap harinya di depan komputer. Seorang desainer atau programer mungkin tidak cukup 6-8 jam untuk menyelesaikan pekerjaan bahkan sehari penuh atau sampai malam hari. Demikian juga seorang anak yang sedang asyik dengan game-nya. Selain itu, pasien dengan dry eye mempunyai gejala eksaserbasi pada saat menggunakan komputer.

Faktor kombinasi
Pengguna komputer dengan presbiopia atau dry eye (faktor personal) dan pengguna komputer dengan posisi leher ekstensi ( faktor lingkungan ) dapat mempunyai gejala dari sindroma ini.

Gambaran Klinis
Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh komputer secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian yaitu gangguan pada bagian mata dan kepala, gangguan pada lengan dan tangan, serta gangguan pada leher, pundak dan punggung. Gangguan pada mata sering juga disebut sebagai computer vision syndrome.

Gejala yang timbul pada gangguan ini seperti nyeri atau sakit kepala, dry eye, iritasi, mata lelah, rasa terbakar, dan mata terasa perih. Gangguan ini dapat mengakibatkan kemampuan fokus mata menjadi lemah, penglihatan kabur, pandangan ganda, dan disorientasi warna.

Beberapa individu yang mempunyai gangguan penglihatan ringan, seperti kesulitan akomodasi atau masalah penglihatan binokular tidak menimbulkan keluhan bila melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan keseriusan penglihatan. Namun penggunaan komputer dalam waktu lama dapat menyebabkan berkurangnya daya akomodasi, penggeseran titik dekat konvergensi dan foria pada penglihatan dekat. Hal inilah yang menimbulkan kelemahan fungsi visual.



Gejala yang berkaitan dengan permukaan mata
Keluhan yang selalu dirasakan para pengguna komputer adalah dry eye, rasa terbakar, berpasir, atau mata terasa berat. Mata yang digunakan bisa berair sebagai usaha untuk mengembalikan keseimbangan kimia dan sebagai lubrikasi serta membasahi kembali permukaan mata. Dry eye dapat menyebabkan mata lelah, sebagaimana digambarkan oleh pengguna komputer yang mengalami penurunan jumlah berkedip dan paparan permukaan mata yang berlangsung lama menyebabkan mata kering. Suatu pendapat menyatakan rata-rata kedipan berkurang lebih lanjut pada tempat yang gelap, yang menimbulkan kesulitan untuk membaca dan mempercepat timbulnya dry eye sehingga mata menjadi lelah. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permukaan mata menjadi kering adalah 1,2,4,5,8
1. Faktor lingkungan
Kornea sangat sensitif terhadap lingkungan dengan udara kering, ventilasi, debu, kontaminasi bangunan, dan lain-lain
2. Berkurangnya jumlah kedipan
Orang normal berkedip antara 10-15 x/menit. Penelitian menunjukkan bahwa pada pengguna komputer rata-rata berkedip di bawah normal. Penurunan rata-rata berkedip pada komputer menurunkan kualitas tear film dan stress kornea sementara yang dapat menyebabkan gejala dry eye.
3. Meningkatnya paparan
Membaca teks tulisan pada kertas normal dilakukan dengan melihat ke bawah. Hal ini menyebabkan kelopak mata menutupi sebagian besar permukaan mata, sehingga mengurangi evaporasi air mata. Hal yang berlawanan terjadi pada pengguna komputer dimana biasanya melihat pada arah horizontal. Hal ini menyebabkan lebar fissura palpebra dan meluasnya permukaan mata yang terpapar yang berpengaruh evaporasi.
4. Jenis kelamin
Prevalensi mata kering sedikit lebih tinggi pada wanita daripada pria
5. Usia
Produksi air mata menurun seiiring usia. Walaupun mata kering dapat terjadi pada berbagai usia baik wanita maupun pria, wanita yang sudah menopause paling banyak dipengaruhi oleh dry eye.
6. Penyakit-penyakit sistemik dan penyakit sindroma yang berkaitan dengan dry eye. Dry eye berkaitan dengan variasi penyakit sistemik. Sjogren syndrome, mulut kering, rheumatoid arthritis dan beberapa penyakit autoimun yang berhubungan dengan dry eye.
7. Obat-obat sistemik
Beberapa obat-obat sistemik dapat menyebabkan dry eye seperti diurerik, anti-histamin, psikotropik dan anti hipertensi
8. Penggunaan lensa kontak
Beberapa individu yang menggunakan lensa kontak banyak menderita ketidaknyamanan pada mata. Kenyamanan lensa kontak tergantung lubrikasi pada mata
9. Kondisi mata
Disfungsi kelenjar, yang menghasilkan tear film dapat juga berperan dalam terjadinya dry eye. Kelainan yang paling sering, blefaritis anterior mengenai kelenjar meibom yang menghasilkan lapisan lipid dari permukaan mata. Berkurangnya lapisan lipid secara adekuat mempercepat evaporasi tear film yang menimbulkan ketidaknyamanan.

10. Kosmetik
Pemakaian kosmetik yang salah dapat menyumbat sekresi minyak dari kelenjar meibom. Hal ini mempercepat evaporasi tear film dan menyebabkan ketidaknyamanan.

Friday, January 29, 2016

Hubungan Fiskal Antar-Jenjang Pemerintahan di Malaysia

Malaysia adalah sebuah negara berpenduduk sekitar 25 juta jiwa dengan mayoritas berasal dari etnik Melayu (65%), disusul etnik Cina (25%), etnik India (8%) dan lain-lainnya (2%). Sistem pemerintahan mengikuti bentuk federal yang dilandasi dengan tatanan politik gabungan antara demokrasi parlementer dan monarkhi konstitusional. Pemimpin puncak di negara federal ini adalah Perdana Menteri yang sekaligus merupakan ketua parlemen dan biasanya dipilih dari partai politik yang memenangi pemilihan umum. Sistem pemerintahan federal dibentuk dengan berdirinya Federasi Malaysia pada tahun 1963 (ketika itu meliputi Federasi Malaya, Sabah, Sarawak dan Singapura) sebelum terpisahnya Singapura pada tahun 1965. Saat ini, negara federal Malaysia terdiri dari 13 negara bagian dengan sistem tiga jenjang, yaitu: 1) pemerintah federal, 2) pemerintah negara bagian, dan 3) pemerintah lokal (tempatan). Pembagian kekuasaan mengikuti trias politika (kekuasaan legislatif, judikatif dan eksekutif) selanjutnya dilakukan berdasarkan ketiga jenjang pemerintahan ini.

Secara umum, pemerintah federal sebagai representasi dari pemerintahan nasional memiliki kekuasaan yang sangat besar jika dibandingkan pemerintah negara bagian (di Malaysia disebut “kerajaan negeri”). Pemerintah federal memegang kekuasaan pada hampir semua fungsi penting, termasuk merumuskan rencana pembangunan nasional, menarik semua jenis pajak, melakukan perjanjian pinjaman luar negeri, dan mengumumkan keadaan darurat. Sementara itu pemerintah negara bagian diberi tanggungjawab untuk mengurus hal-hal yang menyangkut wilayah, administrasi pertanahan, urusan pertanian, kehutanan, pekerjaan umum, pengadaan air bersih dan pelayanan publik di daerah. Diantara negara-negara bagian, terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal kekuasaan yang dimilikinya. Negara-negara bagian di semenanjung Malaysia seperti Selangor, Negeri Sembilan, dan Pulau Pinang termasuk yang setara satu sama lain. Sebaliknya, Sabah dan Sarawak diberi otonomi yang relatif lebih besar dengan dana subsidi dari pemerintah federal seringkali diberikan secara khusus.

Pemerintah lokal sepenuhnya menjadi instrumen untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas negara bagian. Kecuali itu pemerintah lokal juga diberi tugas-tugas pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan lokal. Dalam hal ini urusan dari pemerintah lokal misalnya menyangkut pengadaan air bersih, penanganan sampah, pemeliharaan drainase, perlakuan terhadap limbah, penanganan kebakaran, penerangan jalan, urusan pasar, taman, fasilitas olah-raga dan pusat-pusat kemasyarakat lainnya. Untuk membiayai urusan-urusan semacam ini, pemerintah lokal sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah negara bagian atau pemerintah federal secara langsung.

Undang-undang Dasar Malaysia tahun 1957 menggariskan bahwa pemerintah federal memiliki kekuasaan untuk melaksanakan tidak kurang dari 26 jenis urusan, meliputi urusan luar-negeri, pertahanan, keamanan, pendidikan, kesehatan, hingga urusan pemadaman kebakaran. Pemerintah negara bagian di Federasi Malaysia atau semenanjung Malaysia memiliki kekuasaan terhadap 11 jenis urusan mulai dari urusan agama Islam dan adat, pertanahan, pertanian dan kehutangan, pelayanan publik tempatan, hingga urusan pelestarian kura-kura dan perikanan air tawar. Khusus untuk pemerintah Sabah dan Sarawak terdapat urusan hukum adat dan tradisi, pelabuhan yang tidak menjadi kewenangan negara federal, survai, dan keretaapi di negeri Sabah. Di luar ketentuan tersebut terdapat juga urusan konkuren yang diselenggarakan berdasarkan prinsip kerjasama antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. Jenis-jenis urusan yang termasuk urusan konkuren antara lain kesejahteraan sosial, beasiswa, perindungan burung dan satwa liar, kebudayaan dan olah-raga, perumahan, dan sebagainya.

Pemerintah federal memiliki kekuasaan luas dalam hal pemungutan pajak dan cukai. Oleh sebab itu bisa dipahami bahwa sumber-sumber keuangan pemerintah di Malaysia sebagian besar masuk ke kas pemerintah federal. Dalam hal ini harus diakui bahwa sistem administrasi pajak oleh pemerintah federal di Malaysia sudah cukup efisien. Pada awal tahun 1990-an, ketika rerata pendapatan dari pajak sebagai proporsi dari PDB di negara-negara ASEAN baru sebesar 23,1%, angka di Malaysia sudah mencapai 28,3%.3
3 Chong Hui Wee. 2006. Fiscal Policy and Inequality in Malaysia. Kuala Lumpur: University of Malaya Press. hal. 27. Karena itu, bisa dipahami bahwa sentralisasi kebijakan fiskal tetap mewarnai hubungan keuangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian di Malaysia. Penerimaan pemerintah yang diberikan tanggungjawabnya kepada pemerintah negara-negara bagian hanya menyangkut sumber-sumber yang relatif kurang strategis, seperti pajak atas jual-beli tanah, pajak tanah, pertambangan umum dan kehutanan, pajak hiburan serta penerimaan dari kegiatan keagamaan Islam. Khusus untuk Sabah dan Sarawak, terdapat tambahan penerimaan dari pajak impor dan bea-masuk terhadap produk-produk minyak, kayu dan produk-produk dari hutan lainnya.

Dengan kekuasaan terhadap sumber-sumber penerimaan negara yang demikian besar, pemerintah federal dapat mengendalikan politik di banyak negara bagian dengan mudah. Hampir semua sumber penerimaan yang potensial dan mudah dimobilisasi dikuasai oleh pemerintah federal. Sebaliknya, pemerintah negara-negara bagian hanya memperoleh kekuasaan terhadap sumber-sumber penerimaan yang terbatas. Wilayah negara-negara bagian di Malaysia yang relatif mudah terjangkau juga memungkinkan diserapnya sumber-sumber penerimaan yang terdapat di daerah ke pemerintah federal dengan mudah. Tetapi akibatnya, perencanaan pembangunan ekonomi di setiap negara bagian menjadi sangat tergantung kepada pendanaan yang disediakan oleh pemerintah federal. Sistem perencanaan lima-tahunan yang dibuat oleh pemerintah federal menjadi semacam cetak-biru yang harus diikuti oleh setiap negara bagian.

Disparitas kemampuan fiskal negara bagian di Malaysia dipengaruhi oleh potensi sumberdaya alam yang tidak merata serta basis pajak di daerah yang terbatas. Pendapatan paling besar dari negara-negara bagian itu adalah dari sektor kehutanan, pertanahan dan pertambangan. Selain itu, ternyata tidak semua negara bagian punya sumberdaya yang memadai. Sebagai contoh, walaupun sejak tahun 1960-an Malaysia sangat terkenal sebagai produsen timah, tetapi potensi ini hanya terdapat di negara bagian Perak. Demikian pula, potensi minyak bumi hanya terdapat di Sarawak, Sabah, dan Terengganu. Sedangkan potensi kehutanan juga terbatas di Sarawak, Sabah, dan sebagian Pahang. Sebagian dari pajak hiburan atau pariwisata menjadi pendapatan potensial bagi negara bagian seperti Selangor, Johor dan Pulau Pinang, tetapi tentu jumlahnya sangat kecil di negara bagian seperti Kelantan dan Terengganu yang tidak banyak tempat-tempat hiburan karena dilarang oleh pemerintah negara bagian yang dipengaruhi oleh partai berbasis agama. Dalam pelaksanaan pemungutan pajak, sebenarnya banyak negara bagian yang juga tergantung kepada pegawai dari pemerintah federal. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karena sumber-sumber penerimaan yang terbatas, maka pendapatan negara bagian sebagian tergantung kepada pemerintah federal.

Untuk membiayai pembangunan di daerah atau di negara-negara bagian seluruh Malaysia, pemerintah federal menyediakan transfer dan sumber-sumber keuangan secara langsung. Tujuannya tentu adalah menutup celah fiskal yang dihadapi di masing-masing negara bagian dan sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya ketimpangan horisontal. Diantara pemerintah negara bagian memang terdapat perbedaan dalam hal kemampuan mengelola pajak dan sumber-sumber potensial bagi penerimaan. Lembaga yang bertanggungjawab untuk mengelola ini adalah Dana Cadangan Negara Bagian (State Reserve Fund) yang bertugas untuk menyeimbangan anggaran serta mendistribusikan dana berdasarkan sumber penerimaan, jumlah penduduk, PDRB, dan indikator-indikator sosial ekonomi lainnya.

Subsidi pemerintah federal dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) subsidi pembagian-pajak (tax-sharing grants), 2) subsidi umum (general-purpose grant), dan 3) subsidi khusus (specific-purpose grant). Termasuk di dalam subsidi pembagian pajak adalah 10 persen pajak ekspor atas timah, besi dan bahan-bahan tambang lain yang digali dari negara bagian tertentu. Subsidi umum terdiri dari bantuan modal (capitation grants), subsidi peningkatan pendapatan (growth revenue grants), subsidi Cadangan Negara Bagian, dan subsidi-subsidi yang lain. Sedangkan subsidi khusus meliputi subsidi jalan, subsidi pembangunan ekonomi, subsidi retribusi (service charge grants), dan subsidi penggantian biaya (cost reimbursement grants). Namun dari segi proporsinya, subsidi yang diberikan kepada negara bagian kebanyakan berbentuk subsidi jalan, bantuan modal, subsidi peningkatan pendapatan, dan subsidi Cadangan Negara Bagian. Untuk berbagai keperluan di negara bagian dan pemerintah lokal, subsidi inilah yang terus mengalir dari pemerintah federal. Pemerintah negara bagian tidak diperbolehkan untuk meminjam langsung dari donor di luar negeri, tetapi pinjaman kepada pemerintah negara federal diperbolehkan hingga prosentase yang tidak terbatas terhadap kebutuhan dana di daerah. Pada periode tahun 1990-1998, hampir semua negara bagian memiliki pinjaman kepada pemerintah federal.

Dalam hal kebijakan anggaran publik, Malaysia pada masa pemerintahan Abdullah Badawi tetap menganut sistem yang sangat tersentralisasi dengan lebih dari 90 persen anggaran dikelola oleh pemerintah federal. Kerangka kebijakan NDP (National Development Policy) yang merupakan kelanjutan dari kerangka NEP (National Economic Policy) dan penguasaan sektor publik yang semakin besar pada tahun 2000-an ternyata tidak menghasilkan perubahan berarti dalam hubungan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian di Malaysia. Dengan berbagai tuntutan demokratisasi dan desentralisasi di beberapa negara bagian seperti di Kelantan dan Pulau Pinang, kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah federal adalah dengan memberikan subsidi lebih banyak lagi yang juga berarti membuat sistem keuangan yang semakin sentralistis dan hanya ditentukan oleh pemerintah federal.

Akan tetapi, meskipun secara umum hubungan fiskal antar-jenjang pemerintahan di Malaysia bersifat sangat sentralistis, hasil dari penggunaan dana tersebut sangat mengesankan ditinjau dari berbagai indikator ekonomi. Melalui proyek-proyek pembangunan yang didanai oleh pemerintah federal, ekonomi di negara-negara bagian dapat tumbuh terus dan relatif tetap seimbang satu dengan yang lainnya. Kendatipun celah fiskal di masing-masing negara bagian berlain-lainan, kegiatan ekonomi di setiap negara bagian senantiasa tumbuh pada tingkat yang tidak terlalu timpang. Pada tahun 1997, misalnya, dari 13 negara bagian, ada 8 negara bagian yang tumbuh di atas rerata nasional. Sarawak bahkan bisa tumbuh sebesar 11,9 persen. Sementara itu Johor, Kedah, Melaka, Negeri Sembilan dan Terengganu tumbuh dengan angka di atas 9 persen sedangkan Perak dan Perlis tumbuh sekitar 8 persen. Hanya Kelantan, Pahang, Pulau Pinang, Sabah dan Selangor yang tumbuh di bawah rerata nasional, yaitu sebesar antara 5-8 persen.

Situasi politik di Malaysia yang relatif tetap stabil membuat banyak kebijakan pembangunan yang konsisten dengan peruntukan subsidi yang dapat diarahkan ke sektor-sektor yang produktif. Ini dapat dilihat dari berbagai indikator ekonomi makro maupun mikro, serta indikator pelayanan publik di Malaysia yang relatif terus meningkat jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Dari indikator PDB per kapita, misalnya, Malaysia kini sudah masuk sebagai negara berpendapatan menengah dengan rerata pendapatan rumah-tangga yang sudah lebih dari $US 4.000. Sementara itu dari segi indikator pelayanan publik yang utama, yaitu sektor pendidikan dan sektor kesehatan, berbagai indikator menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan.


Meskipun tanda-tanda perubahan dalam hubungan keuangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian masih belum jelas, tetapi perkembangan politik paling mutakhir di Malaysia menunjukkan bahwa ada gelombang perubahan yang akan terjadi secara nasional. Hasil pemilihan umum sela pada tanggal 8 Maret 2008 menunjukkan bahwa kekuasaan mayoritas Barisan Nasional yang sudah berkuasa selama lebih dari 50 tahun mendapat tantangan serius dari kalangan oposisi. Kalau selama ini Barisan Nasional (sebuah koalisi dengan pendukung utama partai UMNO, MIC dan MCA) selalu mendapatkan suara lebih dari dua pertiga suara, pada Pemilu ini hanya memperoleh 51% suara dan 63% kursi parlemen. Selama ini, kekuasaan partai oposisi hanya terdapat di Kelantan, sebuah negara bagian dengan mayoritas Islam dan relatif terbelakang secara ekonomi. Tetapi pada pemilu sela 2008 tersebut, negara bagian lain yang relatif lebih kaya seperti Pulau Pinang, Selangor, Perak dan Kedah sudah jatuh ke partai oposisi. Ini berarti bahwa lima negara bagian, termasuk Selangor yang begitu padat penduduknya, akan diperintah oleh perumus kebijakan dari partai oposisi.

Di masa mendatang, tuntutan rakyat di negara bagian yang menghendaki perubahan kerangka kebijakan NEP yang dipandang hanya menguntungkan rakyat Melayu tampaknya akan lebih besar. Kecuali itu, tuntutan demokratisasi yang memunculkan Anwar Ibrahim sebagai ikon baru politik dari kalangan oposisi juga akan bisa mengubah pola hubungan keuangan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian. Tentu masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi dari aspek politik nasional di Malaysia. Tetapi yang jelas ialah bahwa perubahan hubungan keuangan antar-jenjang pemerintahan yang lebih desentralistis baru akan terjadi apabila terdapat perubahan peta politik atau adanya komitmen politik baru dari pemerintah Malaysia di tingkat nasional.