Thursday, April 17, 2014

HAKIKAT KEPEMIMPINAN

Hakikat Kepemimpinan adalah 
1. Pengertian Kepemimpinan : Hampir setiap literatur-literatur tentang kepemimpinan memberikan gambaran yang ideal tentang kepemimpinan. Hal ini dapat dimengerti, karena masnusia membutuhkan kepemimpinan itu. Dan dari waktu ke waktu kepemimpinan menjadi tumpuan harapan dari manusia, sehingga dewasa ini masalah kepemimpinan semakin menarik perhatian banyak kalangan terutama dalam kajian komtemporer, sebab kepemimpinan memiliki dimensi yang luas. 

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan adalah perihal memimpin; cara memimpin. Rebecca kepemimpinan bisa dirumuskan sebagai kiat mempengaruhi orang banyak agar mau bekerjasama memperjuangkan tujuan-tujuan yang ingin mereka capai. Rebecca kemudian menambahkan bahwa seoarng pemimpin adalah penggerak ke arah usaha bersama yang terorganisasi. Ia merupakan agen atau pelaksana dari suatu kekuasaan yang menggunakan dirinya.

Berdasarkan paradigma tersebut mempengaruhi persepsi atau cara pandang kita mengenai orang-orang yang menempati posisi istimewa dan menjadi boss untuk mempengaruhi orang banyak. Hal ini tidak terlepas dari karateristik kualitas IQ dan Emotional Inteligent seorang pemimpin sebagai pribadi yang luar biasa yang membedakannya dari manusia-manusia lain. 

Kusnadi (2005:353) mengemukakan bahwa kepemimpinan tidak saja berarti pemimpin dan mempengaruhi orang-orang, tetapi juga pemimpin terhadap perubahan dan sumber aspirasi serta motivasi bawahan.

Winardi (2000:47) mengartikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin, yang tergantung dari macam-macam, faktor-faktor intern maupun ekstern, diantaranya meliputi orang-orang; bekerja dari sebuah posisi organisatoris; dan timbul dalam sebuah situasi yang spesifik. Sehingga kepemimpinan timbul, apabila ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yaitu situasi dan posisi ada, orang-orangnya juga ada.

Beberapa implikasi dari berbagai definisi adalah : (1) kepemimpinan melibatkan orang lain yaitu pengikut. Sebagai akibat dari kesediaan menerima petunjuk dari seorang pemimpin. Anggota kelompok harus dapat memahami status pemimpinnya yang memungkinkan proses kepemimpinan berjalan dengan baik. (2) Kepemimpinan melibatkan kekuasaan yaitu kemampuan untuk menggunakan pengaruh artinya kemampuan untuk mengubah sikap dan tingkah laku individu atau kelompok. (3) Kepemimpinan melibatkan pengaruh (influence) yaitu tindakan tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap dan tingkah laku individu dan kelompok. 

Gitosudarmo dan Sudita (2000:127) mengartikan bahwa kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi prestasi organisasi, karena kepemimpinan merupakan aktivitas yang utama, untuk dicapainya tujuan organisasi. Dari pengertian ini kepemimpinan didefinisikan sebagai salah satu proses mempengaruhi aktivitas dari individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.

Dari definisi ini, nampak bahwa kepemimpinan adalah suatu proses, bahwa orang yang meliputi faktor pemimpin pengikut dan faktor situasi untuk menghasilkan prestasi dan kepuasan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusnadi dkk (2005:354) bahwa : kepemimpinan adalah sebagai tindakan atau upaya untuk memotivasi atau mempengaruhi orang lain agar mau bekerja atau bertindak ke arah pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan atau kepemimpinan merupakan tindakan membuat sesuatu menjadi kenyataan.

Anoraga (2001:20) mengemukakan bahwa idealnya seorang pemimpin itu memegang kekuasaan sesuai dengan bidang dan keahlian dan bakatnya. Sebab tanpa hal tersebut, seorang pemimpin akan menemui kesulitan dalam melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri, kesulitan mawas diri dan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga secara rasional pemimpin dituntut kepandaiannya untuk memimpin jalannya perkumpulan yang berada dalam wewenangnya sesuai dengan misi perkumpulan itu dibentuk secara bersama, misalnya sebuah desa idealnya dipimpin oleh kepala desa

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan tersebut, esensi kepemimpinan adalah ”Kepengikutan”, dalam arti bahwa yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin adalah jika adanya kemauan orang lain untuk mengikutinya. Dengan demikian secara umum dan sederhana kepemimpinan didefinisikan sebagai seni atau proses mempengaruhi orang lain sedemikian rupa, sehingga mereka mau melakukan usaha atau keinginan usaha atau keinginan untuk bekerja dalam rangka pencapaian suatu tujuan.

2. Teori-Teori Kepemimpinan : Kemampuan seseorang dalam menyelenggarakan berbagai fungsi manajerial, sesungguhnya merupakan bukti yang paling nyata dari efektivitasnya sebagai seorang pemimpin sehingga dewasa ini banyak gaya yang digunakan untuk mengidentifikasi tipe-tipe kepemimpinan. Teori kepemimpinan pada dasarnya ada tiga yaitu : (1) Trait theories, (2) Style theories, (3) Contingency theories.(Veryard Projects Ltd & Antelope Projects Ltd, dalam Robbin, 2002:1).

Teori Karakter ( Trait theories) yaitu untuk menjadi seorang pemimpin, harus mempunyai kemampuan : intelegensi (kemampuan memahami dan memecahkan masalah), karakter (inisiatif dan percaya diri), fisik, (sehat), kategori sosial (jender, kelas sosial atau etnik). Robbins (2002:40) mengemukakan teori ciri kepemimpinan ini mencari ciri kepribadian, sosial, fisik, atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin. 

Teori ini mencoba untuk mencari karakter yang konsisten dan unik yang berlaku secara universal yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif. Karakter yang dimaksud meliputi ambisi dan energi, hasrat untuk memimpin, kejujuran dan integritas (keutuhan), percaya diri, kecerdasan, dan pengetahuan yang relevan dalam pekerjaan. 

Style theories yaitu gaya kepemimpinan yang baik yaitu meliputi : kepemimpinan yang autokratik (eksploitatif, partisipatif dan demokratif), memberitahukan, menjajakkan, mengikutsertakan, mendelegasikan. 

Contingency theories yaitu teori ini model kepemimpinan ada dua yaitu : (1) style depends on circumstance yang terdiri dari : pemimpin bawahan yang menjalin hubungan, struktur tugas, tinggi rendahnya posisi dan otoritas kekuasaan. (2) gauge situasion favourableness yang terdiri dari : Pemimpin senantiasa berorientasi tugas, orientasi anggota.

Gitosudarmo dan Sudita (2000:132) mengemukakan dasar dari pendekatan gaya kepemimpinan ini diyakini bahwa pemimpin yang efektif menggunakan gaya (style) tertentu untuk mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini pendekatannya lebih dipusatkan pada efektivitas pemimpin, yang menekankan pada dua gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemmpinan berorientasi tugas (task orientation) dan orientasi pada bawahan (employ orientation). Di mana orientasi tugas adalah perilaku pimpinan yang menekankan bahwa tugas-tugas harus dilaksanakan dengan baik dengan cara mengarahkan dan mengendalikan secara ketat bawahannya. Sedangkan orientasi bawahan adalah perilaku pimpinan yang menekankan pada memberikan motivasi kepada bawahan dalam melaksanakan tugasnya dengan melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tugasnya, dan mengembangkan hubungan yang bersahabat saling percaya dan saling menghormati diantara anggota kelompok. Teori kontingensi ini meliputi :

Robbins (2002:47) mengemukakan terdapat tiga dimensi kemungkinan situasi yang dapat mempengaruhi efektifitas kepemimpinan yaitu : (1) Hubungan pemimpin dengan anggota meliputi tingkat keyakinan, kepercayaan dan aspek bawahan terhadap pemimpin. (2) Struktur tugas meliputi tingkat di mana tugas pekerjaan terstruktur atau tidak berstruktur. (3) Kekuasaan jabatan meliputi tingkat di mana seorang pemimpin mempunyai variabel seperti mempekerjakan, memecat, mendisiplinkan, mempromosikan, serta menaikkan gaji.

Teori Situasional Hersey dan Blanchard yaitu teori yang memfokuskan kepada pengikut. Menurut teori ini bahwa kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya kepemimpinan yang tepat, bersifat tergantung pada kesiapan atau kedewasaan para pengikutnya. (Robbins, 2002:49) mengemukakan kepemimpinan situasional lebih menekankan pada pengikut yaitu pada kesiapan atau kematangan pengikut.

Menurut Paul Hersey dan Blachard (1995:34) mengemukakan bahwa hubungan antara pemimpin dengan bawahannya berjalan melalui 4 (empat) tahap menurut perkembangan dan kematangan bawahan yaitu :

a. Gaya Penjelasan (telling style) yaitu pada saat bawahan pertama kali memasuki organisasi, orientasi tugas yang tinggi dan orientasi hubungan yang rendah paling tepat. Bawahan harus lebih banyak diberi perintah dalam pelaksanaan tugasnya dan diperkenalkan dengan aturan-aturan dan prosedur organisasi.

b. Gaya Menjual (selling style) yaitu pada tahap ini bawahan mulai mempelajari tugas-tugasnya. Kepemimpinan orientasi tugas yang tinggi masih diperlukan, karena bawahan belum bersedia menerima tanggung jawab yang penuh. Tetapi kepercayaan dan dukungan pemimpin terhadap bawahan dapat meningkat. Di mana pemimpin dapat mulai menggunakan perilaku yang berorientasi hubungan yang tinggi.

c. Gaya Partisipasi (participating style) yaitu tahap ini kemampuan dan motivasi pestasi bawahan meningkat, dan bawahan secara aktif mulai mencari tanggung jawab yang lebih besar. Di mana perilaku pemimpin adalah orientasi hubungan tinggi dan orientasi tugas rendah.

d. Gaya Pendelegasian (delegating style) yaitu tahap ini bawahan secara berangsur-angsur menjadi lebih percaya diri, dapat mengarahkan diri sendiri, cukup berpengalaman, dan tanggung jawabnya dapat diandalkan. Di mana gaya pendelegasian yang tepat yaitu orientasi tugas dan hubungan rendah.

Teori jalur tujuan yaitu perilaku seorang pemimpin dapat diterima baik oleh bawahan sejauh mereka pandang sebagai suatu sumber dari atau kepuasan segera atau kepuasan masa depan. Jadi hakekatnya teori ini adalah tugas pemimpin untuk membantu pengikutnya dalam mencapai tujuan mereka, memberikan arahan atau dukungan yang diperlukan guna memastikan apakah tujuan mereka sesuai dengan sasaran keseluruhan kelompok atau organisasi.

Teori model partisipasi pemimpin adalah suatu teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi yang berlainan. (Robbins, 2002:55). Model partisipasi pemimpin mengandalkan bahwa pemimpin dapat menyesuaikan dirinya dengan situasi yang berlainan.

Teori atribusi pemimpin yaitu bahwa kepemimpinan semata-mata sebagai atribusi yang dibuat orang mengenai individu-individu lain. Atribusi-atribusi yang dimaksud seperti kecerdasan, kepribadian ramah-tamah keterampilan verbal yang kuat, keagresifan, pemahaman dan kerajinan. Salah satu tema yang menarik dalam teori atribusi kepemimpinan adalah persepsi bahwa kepemimpinan yang efektif umumnya dinggap konsisten dalam keputusan mereka. 

Teori kepemimpinan kharismatik, yaitu para pengikut membuat atribusi (penghubungan) dari kemampuan pemimpin yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Menurut House, seorang pemimpin kharismatik mempunyai dampak yang dalam dan tidak luar biasa terhadap pengikut, mereka merasakan bahwa keyakinan-keyakinan pemimpin tersebut adalah benar maka mereka menerima pemimpin tersebut tanpa mempertanyakan lagi, mereka tunduk kepada pemimpin dengan senang hati, mereka merasa sayang terhadap pemimpin tersebut, mereka terlibat secara emosional dalam misi kelompok atau organisasi dan mempunyai tujuan-tujuan kinerja tinggi. 

Teori transaksional lawan transformasional yaitu memandu atau memotivasi pengikut mereka ke arah tujuan yang telah ditetapkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas, sedangkan kepemimpinan transaksional, pemimpin memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual individual, dan memiliki kharisma. Pemimpin mentransformasi dan memotivasi para pengikut dengan jalan membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada diri sendiri dan mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.

Teori kepemimpinan visioner yaitu kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang atraktif, terpercaya, realistik tentang masa depan suatu organisasi atau suatu unit organisasi yang terus tumbuh dan membaik pada saat ini.

Teori kepemimpinan situasional didasarkan atas hubungan antara kadar bimbingan dan arahan (perilaku tugas), kadar hubungan sosio emosional (perilaku hubungan), level kesiapan (kematangan). Dengan demikian kepemimpinan memiliki tiga dimensi yaitu perilaku tugas, perilaku hubungan dan kematangan anggota. Perilaku tugas diartikan sebagai kadar sejauhmana pemimpin menyediakan arahan kepada pengikut. Arahan yang dimaksud meliputi apa yang harus dilakukan, kapan dimana melakukannya, cara melakukan pekerjaan. Sedangkan perilaku hubungan diartikan kadar sejauhmana pemimpin melakukan hubungan dua arah dengan pengikut. Pemimpin dalam hal ini menyediakan dukungan, dorongan, memberikan kemudahan kepada pengikutnya. Dengan demikian pemimpin secara aktif menyimak dan memberikan dukungan terhadap upaya pengikut dalam melaksanakan pekerjaan mereka (Gibson, 1992 : 124).

Kombinasi dari perilaku tugas dan perilaku hubungan menciptakan gaya kepemimpinan situasional sebagai berikut :

a. Telling (memberitahukan) adalah gaya bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan yang rendah. Maksudnya orang-orang tidak memiliki kemampuan dan kemauan memikul tanggung jawab untuk melakukan sesuatu adalah tidak kompoten atau tidak yakin. Peran pemimpin dalam hal ini memberikan arahan, suvervisi. Gaya ini dicirikan oleh perilaku pemimpin yang menetapkan peranan dan memberitahu orang-orang tentang apa, bagaimana, kapan, dan dimana melakukan tugas.

b. Selling (menjajakan) gaya ini diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan rendah ke sedang, orang-orang tidak memiliki kemampuan tetapi juga mau memikul tanggung jawab untuk melakukan sesuatu tugas adalah yakin tetapi kurang memilki keterampilan. Hal ini disebut “Menjajakan” karena pemimpin menyediakan hampir seluruh arahan. Tetapi melalui komunikasi dua arah dan penjelasan, diharapkan pengikut turut mengambil bagian dalam perilaku yang diinginkan.

c. Participating “mengikutsertakan” gaya kepemimpinan ini diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan dari sedang ke tinggi. Orang-orang pada tingkat kematangan ini memiliki kemampuan tetapi tidak mau melakukan hal-hal yang diinginkan pemimpin. Disebut Participating artinya pemimpin dan pengikut berbagi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, dan peranan pemimpin dalam hal ini adalah memudahkan dalam berkomuniksi dengan pengikut

d. Delegation (mendelegasikan) adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan bagi pengikut yang memiliki tingkat kematangan yang tinggi. Orang-orang dengan tingkat kematangan seperti ini memiliki kemauan dan kemampuan atau keyakinan untuk memikul tanggung jawab. Pada gaya ini arahan dan dukungan pemimpin adalah rendah, pemimpin menyerahkan tanggung jawab melaksanakan rencana kepada pengikut yang matang untuk melaksanakan sendiri pekerjaan.

Jadi penekanan perilaku kepemimpinan situasional adalah pada pola membangun hubungan antara pemimpin dan bawahannya. Sebagai pemimpin kepala desa menurut teori kepemimpinan situasional idealnya mengedepankan kebiasaan mendengar, berkomunikasi multi arah, memfasilitasi, mengklarifikasi, dan memberikan dukungan sosial atau emosional kepada masyarakatnya.

Menurut Robbins (1996:52) ketepatan penerapan gaya kepemimpinan didasarkan pada tingkat kematangan (maturity) atau kesiapan (readiness) para pengikut yaitu kemampuan dan kemauan (ability and willingness) para pengikut dalam hal ini memikul tanggung jawab untuk mengarahkan perilaku para pengikut itu sendiri. Kematangan para pengikutnya terdiri dari : (1) Kematangan rendah, dalam hal ini pengikut tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk memikul tanggung jawab. (2) Kematangan rendah ke sedang, artinya anggota tidak memiliki kemampuan akan tetapi memiliki keinginan untuk memikul tanggung jawab. (3) Kematangan sedang ke tinggi, dalam hal ini anggota memiliki kemampuan akan tetapi tidak memiliki kemauan untuk memikul tanggung jawab. (4) Kematangan tinggi, artinya anggota memiliki kemampuan dan kemauan untuk memikul tanggung jawab.

Berbicara tentang kepemimpinan, hal yang perlu dipertimbangkan adalah keberhasilan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Robbins (1996:50) bahwa kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya yang tepat, tergantung pada kesiapan dan kedewasaan para pengikutnya. Dalam kepemimpinan situasional, variabel situasional dititik beratkan pada perilaku seorang pemimpin dalam hubungannya dengan pengikut, yang didasarkan pada pendekatan pengarahan (perilaku tugas), dukungan sosio emosional (perilaku hubungan), dan tingkat kematangan pengikut.

Strategi Kepemimpinan adalah

Hakikat Strategi  : Dalam kegiatan sehari-hari masalah strategi merupakan masalah yang sangat urgen, yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, setelah dijabarkan tujuan yang hendak dicapai. Hal demikian terjadi dalam setiap organisasi atau lembaga, dimana tidak terlepas dari penetapan strategi, yang berbeda hanyalah apakah strategi itu tepat, berjalan dengan baik, efisien, dan efektif atau memenuhi semua unsur yang perlu diperhatikan dalam hal penerapannya.

Cravens (2001:6) strategi adalah rencana yang disatukan dan terintegrasi, menghubungkan keunggulan strategi organisasi dan dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi. Strategi dimulai dengan konsep menggunakan sumber daya organisasi secara efektif dalam lingkungan yang berubah-ubah.

Kotler (2004:31) mengemukakan bahwa strategi adalah penempatan misi suatu organisasi, penetapan sasaran organisasi dengan mengingat kekuatan eksternal dan internal, perumusan kebijakan dan teknik tertentu untuk mencapai sasaran dan memastikan implementasinya secara tepat sehingga tujuan dan sasaran utama dari organisasi akan tercapai.

Aliminsyah dan Pandji (2004:81) mengartikan bahwa strategi adalah wujud rencana yang terarah untuk memperoleh hasil yang maksimal. Dalam hal ini strategi dalam setiap organisasi merupakan suatu rencana keseluruhan untuk mencapai tujuan. Jadi organisasi tidak hanya memilih kombinasi yang terbaik, tetapi juga harus mengkoordinir berbagai macam elemen untuk melaksanakan kegiatannya secara efisien dan efektif.

Dengan adanya strategi, maka suatu organisasi akan dapat memperoleh kedudukan atau posisi yang kuat dalam wilayah kerjanya. Hal ini disebabkan karena organisasi tersebut mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dalam melakukan pendekatan bagi pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan dalam wilayah kerja yang dilayaninya.

Dengan demikian strategi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari suatu organisasi, namun strategi bukanlah sekedar suatu rencana, melainkan adalah rencana yang menyatukan. Strategi mengikat semua bagian yang ada dalam organisasi menjadi satu, sehingga strategi meliputi semua aspek penting dalam suatu organisasi, strategi itu terpadu dari semua bagian rencana yang harus serasi satu sama lain dan berkesesuaian. Oleh karena itu penentuan strategi membutuhkan tingkatan komitmen dari suatu organisasi, dimana tim organisasi tersebut bertanggung jawab dalam memajukan strategi yang mengacu pada hasil atau tujuan akhir.

Pada kenyataannya, teknik dan kerangka dalam suatu organisasi merupakan rumusan strategi yang telah direncanakan, untuk itu sejumlah informasi yang berkaitan dengan strategi yang telah direncanakan tersebut harus dilakukan guna mengembangkan organisasi atau instansi tanpa mengabaikan kemungkinan resiko, karena manajemen strategi merupakan rangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja suatu organisasi atau instansi dalam jangka panjang yang meliputi, pengamatan lingkungan, rumusan strategi atau biasa disebut dengan perencanaan strategi jangka panjang, impelementasi strategi dan evaluasi serta pengendalian.

Dalam hal ini manajemen strategi menekankan pada pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman lingkungan dengan melihat kekuatan dan kelemahan suatu organisasi, namun demikian manajemen strategi tidak selalu membutuhkan proses. 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan tentang manajemen strategi bagi kinerja suatu organisasi atau instansi adalah efektif dalam lingkungan yang berubah, dengan kata lain penggunaan perencanaan strategi dan pemilihan alternatif dari tindakan berdasarkan penilaian faktor-faktor internal yang merupakan bagian terpenting dari pekerjaan pimpinan organisasi.

Aliran dari strategi menyediakan pedoman luas untuk pengambilan keputusan suatu organisasi secara keseluruhan yang merupakan kebijakan untuk menghubungkan perumusan strategi dan implementasinya. Dalam implementasi strategi diharapkan dapat mewujudkan strategi kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur, sehingga proses tersebut meliputi perubahan budaya secara menyeluruh, struktur dan sistem manajemen dari suatu organisasi secara keseluruhan, serta diharapkan proses tersebut akan menghasilkan informasi hasil kerja yang perlu dievaluasi dan dikendalikan sebagai tindakan perbaikan dan tahapan pemecahan masalah.

Untuk mengembangkan budaya kualitas dari suatu sistem organisasi yang menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan kualitas secara terus menerus yang terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai tradisi, prosedur dan harapan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan penerapan strategi dalam suatu organisasi atau instansi adalah sebagai sarana untuk mencapai hasil akhir dengan merumuskan kebijakan dan teknik tertentu untuk mencapai sasaran tersebut dan memastikan implementasinya secara tepat.

Monday, April 14, 2014

PROPOSAL SKRIPSI SISTEM INFORMASI PENJUALAN HARIAN

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya teknologi yang semakin pesat sekarang ini . Pengaruh jasa dan informasi dikatakan sangat menonjol, di samping ilmu disiplin lainnya. Kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan banyaknya perubahan untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Kesemuanya ini tentu tidak terlepas dari jasa informasi berkat  ditemukannya komputer yang dapat membantu manusia dalam menyelesaikan masalah informasi.
Komputer sebagai alat bantu yang perkembangannya sangat cepat berperan penting dalam mengolah dan memanipulsi data.
Jika 10 tahun belakangan komputer dianggap sebagai peralatan mahal dan mewah, namun sekarang ini sudah menjadi kebutuhan sama pentingnya dalam mesin ketik pada suatu instansi pemerintahan. Hampir  semua instansi pemerintahan menggunakan komputer meski hanya  sebagai media pembuatan work sheet sederhana maupun untuk pengolahan data.
Dalam proses pengolahan data salah satu hal yang teramat penting yang harus diperhatikan adalah system penanganannya. Penanganan secara manual akan mengakibatkan biaya, waktu dan tenaga yang cukup banyak. Untuk menanggulangi hal tersebut di anjurkan memakai system peralatan komputer yang memakai aplikasi pemograman. Peranan komputer sangat menonjol, hampir setiap perusahaan besar dan instansi pemerintahan selalu menggunakan komputer bahkan perusahaan kecil saat  sekarang ini mulai melangkah pada komputerisasi.
PT.Delami Garment Industries adalah perusahan yang bergerak di bidang  retail . Dalam kegiatan Penginputan Penjualan perhari PT.Delami Garment  sangat berhubungan langsung dengan komputer. Karena system pengolahan data sangat menunjang dalam penetapan strategi kebijaksanaannya. Informasi yang di butuhkan juga sangat penting dari manajement instansi pemerintahan  khusus nya dalam penginputan penjualan perhari.
Untuk itu penulis mencoba merancang dan menganalisa system penginputan penjualan perhari yang dapat menunjang kelancaran dan kecepatan penginputan penjualan perhari menggunakan peralatan komputer. Bertitik tolak dan permasalahan tersebut diatas maka penulis memilih judul sesuai dengan masalah dan kendala yang dihadapi oleh PT.Delami Garment Industries. Dalam penjualan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan yaitu: “SISTEM INFORMASI PENJUALAN  HARIAN  BRAND JOCKEY PADA  PT.DELAMI GARMENT INDUSTRIES”

1.2  Perumusan Masalah
Pada dasarnya perusahaan atau instansi tidak luput dari permasalahan. Permasalahannya bisa timbul dari aktivitas untuk mencapai tujuan atau sarana pendukung dalam pengambilan keputusan.
      Adapun perumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana Penginputan penjualan harian dilakukan pada PT.Delami Garment Industries dengan mengunakan Laporan tertulis ?
2.      Bagaimana merancang system informasi penginputa penjualan perhari pada PT. Delami Garment Industries ?

1.3  Ruang Lingkup Masalah
Untuk menghindari kekeliruan yang menyimpang maka penulis memberikan batasan masalah penulisan tugas akhir mengenai system informasi penginputan penjualan harian pada PT.Delami Garment Industries, adapun batasan masalah sebagai berikut :
1.      Dalam tugas akhir  ini penulis hanya membahas tentang penginputan penjualan harian brand jockey pada PT. PT.Delami Garment Industries.
2.      Membuat laporan harian  pada PT.Delami Garment Industries.
3.      Dalam membuat system informasi ini menggunakan program Visual Basic 6.0 dengan menggunakan database Mysql.
  
1.4  Tujuan dan Manfaat Penelitian
a.       Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan utama dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk :
1.      Mengetahui secara mendetail mengenai pelaksanna penginputan penjualan harian PT.Delami Garment Industries yang menggunkan laporan tertulis
2.      Menciptakan suatu rancangan program yang dapat diaplikasikan pada PT.Delami Garment Industries agar dapat menjadi bahan masukan pada PT.Delami Garment Industries dalam mengelolah data penjualan harian  sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja secara cepat dan akurat.
b.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penulisan tugas akhir  ini yang berkaitan dengan system penginputan penjualan harian PT.Delami Garment Industries sebagai berikut:
1.      Menjadi gambaran untuk membuat dan mengembangkan suatu system informasi yang dibutuhkan dimasa yang akan datang, sehingga dapat menangani permasalahan yang semakin komplek yang merupakan sebuah jawaban terhadap masalah yang dihadapi perusahaan dalam menangani proses system informasi dalam penginputan penjualan.
2.      Mempermudah dalam pembuatan laporan penjualan harian

 1.5 Metode pengumpulan data
Untuk memngumpulkan data ini,metodologi penelitian yang digunakan penulis adalah sebagai berikut :
1.      Metode Lapangan
Metode penelitian ini dilakukan langsung ada objek penulisan data serta keterangan yang dikumpulkan yang dilakukan dengan cara :
a.       Pengamatan (observasion)
Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan untuk mendapatkan data secara umum dengan melihat langsung,mengamati dan mencatat system yang sedang berjalan saat ini, serta melihat format format yag dilakukan selama ini.
b.      Wawancara (Interview)
Dalam hal ini penulis melakukan wawancara untuk melengkapi bahan yang sudah ada selama observasi . penulis melakukan tanya jawab kepada staf (Pegawai PT.Delami Garment Industries) yang berkaitan dengan system yang diteliti.
2.      Metode Kepustakaan
Metode ini dimaksudkan untuk mendapatkn landasan teori yang memadai dalam penyusunan tugas akhir ini, dalam hal ini data dan keterangan di kumpulkan dari sumber-sumber seperti buku-buku teks, bacaan,bacaan, bahan-bahan perkuliahan serta materi-materi lainnya yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau dalam penyusunan akhiri ini


1.6  Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan penelitian atau tugas akhir ini  terdiri dari 4 bab, dan diuraikan sebagai berikut :
BAB I       : PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan secara singkat tentang latar belakang,pemilihan                 judul,perumusan masalah, ruanglingkup masalah, tujuan penelitian, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.
     BAB II       : TUJUAN PERUSAHAAN
Pada bab ini menjelaskan tentang sejarah berdirinya PT.Delami Garment Indutries, struktur organisasi,tugas,wewenang, dan tanggung jawab.
     BAB III     : LANDASAN TEORI
Pada bab ini menjelaskan mengenai pengertian system informasi, penginputan,penjualan,perhari, dan sejarah singkat Visual Basic.
     BAB IV     : EVALUASI SISTEM
Bab ini menguraikan langkah-langkah perencanan system informasi dan system yang mendukung.
    BAB V        : KESIMPULAN DAN SARAN
                           Pada bab ini penulis menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran.

PENGERTIAN TEORI PORTOFOLIO

Pengertian Teori Portofolio : Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian.

Teori portofolio adalah pendekatan investasi yang diprakarsai oleh Harry M. Makowitz (1927) seorang ekonom lulusan Universitas Chicago yang telah memperoleh Nobel Prize di bidang ekonomi pada tahun 1990. Teori portofolio berkaitan dengan estimasi investor tehadap ekspektasi risiko dan return, yang diukur secara statistik untuk membuat portofolio investasinya. Markowitz menjabarkan cara mengkombinasikan aset ke dalam diversifikasi portofolio yang efisien. Dalam portofolio ini, risiko dapat dikurangi dengan menambah jumlah jenis aset ke dalam portofolio dan tingkat expected return dapat naik jika investasinya terdapat perbedaan pergerakan harga dari aset-aset yang dikombinasi tersebut (“Harry Max Markowitz”) Pada prakteknya para pemodal pada sekuritas sering melakukan diversifikasi dalam investasinya dengan mengkombinasikan berbagai sekuritas, dengan kata lain mereka membentuk portofolio.

Menurut Husnan (2003:45), portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak sekuritas (pemodal melakukan diversifikasi) dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang ditanggung. Pemilihan sekuritas ini dipengaruhi antara lain oleh preferensi risiko, pola kebutuhan kas, status pajak, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya kita akan sulit membentuk portofolio yang terdiri dari semua kesempatan investasi, karena itu biasanya dipergunakan suatu wakil (proxy) yang terdiri dari sejumlah besar saham atau indeks pasar. Contohnya di Bursa Efek Jakarta yang menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Indeks LQ45.

Evaluasi Kinerja Portofolio
Dalam tahap evaluasi, pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Menurut Husnan (2003:45), tidaklah benar jika portofolio yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik dari portofolio lainnya.

Menurut John (2005:53), Kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yangdiharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman, makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut.

Wednesday, April 9, 2014

CONTOH PIDATO PERPISAHAN KELAS 9 SMP

Contoh teks Pidato Perpisahan yang mewakili seluruh Kelas 9 (IX) atau kela 3 (III) SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua yang ada ditempat yang berbahagia ini

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah serta  Bapak dan Ibu guru/ Ibu tercinta yang kami homati dan yang kami banggakan. Tak lupa pula kepada Bapak dan Ibu orang tua siswa yang turut hadiri dan sangat berbahagia ini dan khusus kepada seluruh teman-teman dan adik-adik kelas yang kami cintai tanpa terkecuali. Alhamdulillah wasyukurillah, kami ucapkan rasa puji dan syukur kehadirot Allah Subhanahu wa Ta’ala karena pada kesempatan ini kami bisa berdiri dengan bijaksana dihadapan Bapak dan Ibu sekalian dan merupakan suatu kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk mengucapkan Pemohonan maaf yang tidak terhingga jika ada kesalahan selama kami belajar di SMP Swasta Bhayangkara yang kita cintai ini.

Pada acara Perpisahan kelas 9 SMP Swasta Bhayangkara tahun ajaran 2013/2014 ini, Kami , mewakili teman-teman kelas 9 menyadari jika selama kami menjadi siswa di SMP Swasta Bhayangkara ini membuat Bapak dan Ibu guru kesal, marah dan kecewa terhadap prilaku kami baik sengaja ataupun tidak sengaja, dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang tidak terbatas, dan kami sangat berharap dengan segala ketulusan hati agar kiranya bapak dan Ibu Guru tercinta bekenan memberikan maaf pada kami.

Pada kesempatan ini pula kami selaku wakil dari teman-teman kami kelas 9 juga memohon maaf pada Orangtua Bapak/Ibu, ayah bunda kami tercinta, atas kesalahan kami baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja serta mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu guru dan juga ayah bunda yang telah mendidik dan menjaga  kami sehingga kami menjadi siswa yang disiplin dan berprestasi.

Buat teman-temanku sekalian dan adik-adik kelasku tercinta, selama 3 tahun lamanya kita bersama, tentu saja  ada rasa suka maupun duka sering kita rasakan. Semua itu tentu saja tidak akan terlupakan begitu saja dan akan menjadi kenangan selamanya. Walaupun rasanya hati ini terasa berat, namun pada acara perpisahan ini tak ada kata lain yang bisa kami ucapkan selain Kata “ Selamat Berpisah” dan selamat melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Raga Boleh berpisah Namun Jiwa kita tetap akan selalu bersama.

Semoga perpisahan ini menjadi kenangan indah selamanya, Sekali lagi Kepada Bapak Kepala Sekolah SMP…. Serta Bapak Dan Ibu guru yang sangat kami hormati , kami mengucapkan selamat berpisah, Do’a dan Restu Bapak dan Ibu sangat kami harapkan untuk kami terus maju meraih cita-cita, Semoga SMP …. Tetap selalu jaya

Amin ..allahumma Amin…
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Semoga bermanfaat untuk adek-adek sekalian yang sedang menyusun teks Pidato Perpisahan nanti menjadi lebih baik dan bermanfaat serta tauladan bagi kawan-kawannya. Salam Kegembiraan.