Friday, October 3, 2014

FAKTOR YANG PENGARUHI PENGEMBANGAN KARIR

Faktor yang mempengaruhi pengembangan karir adalah Kesuksesan proses pengembangan karir tidak hanya penting bagi organisasi secara keseluruhan. Dalam hal ini, beberapa hal atau faktor yang sering kali amat berpengaruh terhadap manajemen karir adalah :

o Hubungan pegawai dan organisasi 
o Personalitas pegawai 
o Faktor-faktor eksternal 
o Politicking dalam organisasi 
o System penghargaan 
o Jumlah pegawai 
o Ukuran organisasi 
o Kultur organisasi 
o Tipe manajemen 

a. Hubungan Pegawai dan Organisasi 
Dalam situasi ideal, pegawai organisasi berada dalam hubungan yang saling menguntungkan. Dalam keadaan ideal ini, baik pegawai maupun organisasi dapat mencapai produktifitas kerja yang tinggi. 

Namun, kadangkala keadaan ideal ini gagal dicapai. Adakalanya pegawai sudah bekerja baik, tetapi organisasi tidak mengimbangi prestasi pegawai tersebut dengan penghargaan sewajarnya. Maka, ketidakharmonisan hubungan antara pegawai dan organisasi ini cepat atau lambat akan mempengaruhi proses manajemen karir pegawai. Misalnya saja, proses perencanaan karir pegawai akan tersendat karena pegawai mungkin tidak diajak berpartisipasi dalam perencanaan karir tersebut. Proses pengembangan karir pun akan terhambat sebab organisasi mungkin tidak peduli dengan karir pegawai. 

b. Personalia Pegawai 
Kadangkala, menajemen karir pegawai terganggu karena adanya pegawai yang mempunyai personalitas yang menyimpang (terlalu emosional, apatis, terlalu ambisius, curang, terlalu bebal, dan lain-lain). Pegawai yang apatis, misalnya, akan sulit dibina karirnya sebab dirinya sendiri ternyata tidak perduli dengan karirnya sendiri. Begitu pula dengan pegawai yang cenderung terlalu ambisius dan curang. Pegawai ini mungkin akan memaksakan kehendaknya untuk mencapai tujuan karir yang terdapat dalam manajemen karir. Keadaan ini menjadi lebih runyam dan tidak dapat dikontrol bila pegawai bersangkutan merasa kuat karena alasan tertentu (punya koneksi dengan bos, mempunyai backing dari orang-orang tertentu, dan sebagainya). 

c. Faktor Eksternal 
Acapkali terjadi, semua aturan dalam manajemen karir di suatu organisasi menjadi kacau lantaran ada intervensi dari pihak luar. Seorang pegawai yang mempromosikan ke jabatan lebih tinggi, misalnya, mungkin akan terpaksa dibatalkan karena ada orang lain yang didrop dari luar organisasi. Terlepas dari masalah apakah kejadian demikian ini boleh atau tidak, etis atau tidak etis, kejadian semacam ini jelas mengacaukan menajemen karir yang telah dirancang oleh organisasi. 

d. Politicking Dalam Organisasi 
Manajemen karir pegawai akan tersendat dan bahkan mati bila faktor lain seperti intrik-intrik, kasak-kasak, hubungan antar teman, nepotisme, feodalisme, dan sebagainya, lebih dominan mempengaruhi karir seseorang dari pada prestasi kerjanya. Dengan kata lain, bila kadar “politicking” dalam organisasi sudah demikian parah, maka manajemen karir hampir dipastikan akan mati dengan sendirinya. Perencanaan karir akan menjadi sekedar basa-basi. Dan organisasi akan dipimpin oleh orang-orang yang pintar dalam politicking tetapi rendah mutu profesionalitasnya. 

e. Sistem Penghargaan 
Sistem manajemen (reward system) sangat mempengaruhi banyak hal, termasuk manajemen karir pegawai. Organisasi yang tidak mempunyai sistem penghargaan yang jelas (selain gaji dan insentif) akan cenderung memperlakukan pegawainya secara subyektif. Pegawai yang berprestasi baik dianggap sama dengan pegawai malas. Saat ini, mulai banyak organisasi yang membuat sistem penghargaan yang baik (misalnya dengan menggunakan sistem “kredit poin”) dengan harapan setiap prestasi yang ditunjukkan pegawai dapat diberi “kredit poin” dalam jumlah tertentu. 

f. Jumlah Pegawai 
Menurut pengalaman dan logika akal sehat, semakin banyak pegawai maka semakin ketat persaingan untuk menduduki suatu jabatan, dan semakin kecil kesempatan (kemungkinan) bagi seorang pegawai untuk meraih tujuan karir tertentu. Jumlah pegawai yang dimiliki sebuah organisasi sangat mempengaruhi manajemen karir yang ada. Jika jumlah pegawai sedikit, maka manajemen karir akan sederhana dan mudah dikelola. Jika jumlah pegawai banyak, maka manajemen karir menjadi rumit dan tidak mudah dikelola. 

g. Ukuran Organisasi 
Ukuran organisasi dalam konteks ini berhubungan dengan jumlah jabatan yang ada dalam organisasi tersebut, termasuk jumlah jenis pekerjaan, dan jumlah personel pegawai yang diperlukan untuk mengisi berbagai jabatan dan pekerjaan tersebut. biasanya, semakin besar organisasi, semakin kompleks urusan manajemen karir pegawai. Namun, kesempatan untuk promosi dan rotasi pegawai juga lebih banyak. 

h. Kultur Organisasi 
Seperti sebuah sistem masyarakat, organisasi pun mempunyai kultur dan kebiasaan-kebiasaan. Ada organisasi yang cenderung berkultur professional, obyektif, raasional, dan demokratis. Ada juga organisasi yang cenderung feodalistik, rasional, dan demokratis. Ada juga organisasi yang cenderung menghargai prestasi kerja (sistem merit). Ada pula organisasi yang lebih menghargai senioritas dari pada hal-hal lain. 

Karena itu, meskipun organisasi sudah memiliki sistem manajemen karir yang baik dan mapan secara tertulis, tetapi pelaksanaannya masih sangat tergantung pada kultur organisasi yang ada. 

i. Tipe Manajemen 
Secara teoritis-normatif, semua manajemen sama saja di dunia ini. Tetapi dalam impelemntasinya, manajemen di suatu organisasi mungkin amat berlainan dari manajemen di organisasi lain. Ada manajemen yang cemderung kaku, otoriter, tersentralisir, tertutup, tidak demokratis. Ada juga manajemen yang cenderung fleksibel, partisipatif, terbuka, dan demokratis. 

Jika manajemen cenderung kaku dan tertutup, maka keterlibatan pegawai dalam hal pembinaan karirnya sendiri juga cenderung minimal. Sebaliknya, jika manajemen cenderung terbuka, partisipatif, dan demokratis, maka keterlibatan pegawai dalam pembinaan karir mereka juga cenderung besar. 

Dengan kata lain, karir seorang pegawai tidak hanya tergantung pada faktor-faktor internal di dalam dirinya (seperti motivasi untuk bekerja keras dan kemauan untuk ingin maju), tetapi juga sangat tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti manajemen. Banyak pegawai yang sebenarnya pekerja keras, cerdas, jujur, terpaksa tidak berhasil meniti karir dengan baik, hanya karena pegawai ini “terjebak” dalam sistem manajemen yang buruk.

JENIS JENIS OBAT

A. Obat 
Obat adalah suatu bahan atau panduan bahan-bahan yang dimasudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnose, mencagah, mengurangi, menyembuhkanpenyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada menusia atau hewan serta memperelok bagian tubuh manusia.

1) Obat Narkotika
Pengertian Narkotika menurut UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan dalam golongan I, II, III.

Contoh :
1) Tanaman Papaver somniferum 
2) Tanaman Kokain
3) Kodeina
4) Heroin
5) Morfina

Penandaan Narkotika berdasarkan peraturan yang terdapat Ordonasi Obat Bius yaitu “Palang Medali Merah”

Obat-obat yang ada di apotek disusun / disimpan berdasarkan :
o FIFO (First in First Out)
Obat-obatan yang masuk diletakkan di belakang, sedangkan obat-obatan yang lama diletakkan di depan dengan tujuan agar obat tersebut tidak kadaluarsa terlebih dahulu.

o Efek Farmakologi
Obat-obatan disusun berdasarkan efek farmakologi agar pasien lebih mudah untuk memilih obat yang diinginkan.

o Alphabetis
Obat-obatan disusun berdasaran Alphabetis agar obat lebih mudah untuk dicari dan terlihat rapi sTempat Penyimpan 

1. Narkotika disimpan di lemaari khusus penyimpanan Narkotika
Contoh : codein HCl, Codypront Syr.

2. Psikotropika disimpan terpisah dengan obat lain.
Contoh : Valisanbe, Diazepam

3. Lemari Pendingin 
Contoh : Dulcolax, suppositoria, Faktur suppositoria

o Bentuk sediaan
Misalnya : Bentuk sediaan tablet disusun dengan obat bentuk tablet, sirup dengan sirup, dll. Dengan tujuan agar lebih memudahkan dalam mencari obat yang diinginkan.

2) Obat Psikotropika
Pengertian Psikotropika menurut UU No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan Narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan sraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Contoh :
1. Lisergida 
2. Flunitrazepam
3. Diazepam 
4. Nitrazepam 
5. Phenobarbital

Untuk psikotropika penandaan yang dipergunakan sama dengan penandaan untuk obat keras, hal ini mungkin karena sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, maka obat-obat Psikotropika termasuk obat keras yang pengaturannya ada di bawah Ordonansi Obat Keras, hanya saja kerena efeknya dapat mengakibatkan sindrom ketergantungan pada obat-obat keras tertentu.

Penandaan psikotropika adalah lingkaran bulat berwarnah merah, dengan huruf K berwarna hitam yang menyentuh garis tepi yang berwarnah hitam, seperti berikut :

3) Obat Keras
Obat keras atau obat “G” (“Gevaarlijk”artinya berbahaya), maksudnya obat dalam golongan ini berbahaya jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan / memasukkan obat-obat ke dalam daftar obat keras, memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan sebagai berikut :
  • Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan bahwa obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter.
  • Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk dipergunakan secara parenteral, baik dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek rangkaian asli dari jaringan.
  • Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Dapartemen Kesehatan telah dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak membahayakan kesehatan manusia.
  • Semua obat yang tercantum dalam daftar obat keras : obat itu sendiri dalam substansi dan semua sediaan yang mengandung obat itu, terkecuali apabila di belakang nama obat disebutkan ketentuan lain, atau ada pengecualian Daftar Obat Bebas Terbatas.
Contoh : 
1. Acetanilamidum
2. Adrenalinum
3. Antibiotika
4. Antihistaminika
5. Apomorphinum

Berdasarkan Keputusan Menteri Keasehatan Republik Indonesia No. 02396/A/SK VII/1986 tentang tanda khusus Obat Keras daftar G adalah “Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi, seperti terlihat pada gambar berikut:

4) Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas atau obat yang masuk dalam daftar “W” (“Waarschuwing”) artinya peringatan, adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada pemakainya tanpa resep dokter, bila penyerahan nya memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Ø Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkus asli dari pembuat/pabriknya.
Ø Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan tanda peringatan yang tercetak sesuai contoh. Tanda peringatan tersebut berwarna hitam, berukuran panjang 5 cm, lebar 5 cm dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :

P. No. 1 : Awas ! Obat Keras
Bacalah aturan memakainya

P. No. 2: Awas ! Obat Keras
Hanya untuk kumur, jangan ditelan

P. No. 3: Awas ! Obat Keras
Hanya untuk bagian luar dari badan

P. No 4 : Awas ! Obat Keras
Hanya untuk dibakar

P. No 5 : Awas ! Obat Keras
Tidak boleh ditelan

P. No 6 : Awas ! Obat Keras
Obat wasir, jangan ditelan

Contoh Supposutoria untuk wasir

Contoh :
P. No. 1 : Anti Histamin

Sediaan Anti Histamin yang nyata-nyata dipergunakan untuk obat tetes hidung / semprot hidung.
P. No. 2 : Zincum, obat kumur yang mengandung persenyawaan Zincum
P. No. 3 : Air Burowi
P. No. 4 : Rokok dan serbuk penyakit bengek untuk di bakar yang mengandung Scopolaminum.
P. No. 5 : Amonia 10% ke bawah
P. No. 6 : Suppositoria untuk wasir

Contoh Obat Bebas Terbatas
1. Betadine
2. Komix
3. Decolgen
4. Paramex
5. Konidin

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2380/A/SK/1983 tanda khusus Obat Bebas Terbatas berupa lingkaran berwarna biru garis tepi berwarna hitam, seperti terlihat pada gambar berikut :

5) Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepadaa umum tanpa resep dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika ,psikotropika, oba keras, obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Departemen Kesehatan RI.

Contoh:
1. Minyak Kayu Putih
2. Obat Batuk Hitam
3. Obat Batuk Putih
4. Tablet paracetamol
5. Tablet Vitamin C, B Kompleks

Berdasarkan SK MenKes RI No. 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas. Tanda khusus untuk Obat Bebas yaitu lingkaran bulat berwarna hitam, seperti terlihat pada gambar berikut :

6) Obat Wajib Apotek (OWA)
Obat wajib apotek adalah obat yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter.

Contoh :
v Obat wajib apotek No. 1(artinya yang pertama kali ditetapkan)
Obat kontrasepsi : Linestrenol
Obat saluran cerna : Antasida

v Obat wajib apotek No. 2
Klindamisin

Flumetason
Obat wajib apotek No. 3
Alopurinol
Ranitidine

7) Obat Tradisional
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, cara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
contoh : - Param
- Herbalax 
- Jamu Bersalin Air Mancur
- Kunyit Asam
- Sari Temulawak

Thursday, October 2, 2014

TUGAS DAN FUNGSI APOTEK

Tugas dan Fungsi Apotek
a) Tugas 
Pengelolaan apotek menurut Permenkes No. 889 / MENKES / PER / V / 2011, meliputi pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.

b) Fungsi 
ditinjau dari tujuannya, Apotek mempunyai dua fungsi, yakni fungsi sosial dan ekonomi.

- Fungsi Sosial
Adalah untuk pemerataan distribusi obat dan salah satu tempat pelayanan informasi, apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berkewajiban untuk menyediakan dan menyalurkan obat dan perbekalan farmasi lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apotek merupakan salah satu sarana kesehatan penjunjungan sehingga dalam penyelenggaraan kegiatannya tetap memperhatikan fungsi sosialnya, Misalnya : memperhatikan kebutuhan pelayanan kesehatan golongan masyarakat yang kurang mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan.

- Fungsi Ekonomi 
Fungsi ekonomi apotek juga perlu dilaksanakan agar dapat memperoleh laba demi menjaga kelangsungan usaha. Tetapi antara fungsi ekonomi dengan fungsi sosial harus sejajar sehingga tidak akan terlihat sebuah usaha itu hanya mencari keuntungan saja.

Defenisi Apotek 
a. Apotek 
Menurut Permenkes RI No. 889/MENKES/PER/V/2011, Apotek adalah suatu tempat tertentu, pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. 

Sebagai alat distribusi perbekalan farmasi, apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berkewajiban untuk menyediakan dan menyalurkan obat dan perbekalan farmasi lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga Apotek harus dapat mendukung dan membantu terlaksananya usaha pemerintah untuk menyediakan obat secara merata dan dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat. Terutama yang berpenghasilan rendah sehingga fungsi social dari apotek dapat terlaksana sebagaimana mestiinya. 

b. Apoteker 
Menurut Permenkes RI No. 889/MENKES/PER/V/2011, Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah Jabatan Apoteker. 

Beberaapa poin penting dari permenkes yang baru ini : 
Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat tanda registrasi berupa : 
  • Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) yang dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN) 
  • Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas 
Kesehatan Provinsi 
STRA dan STRKTT berlaku untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan. Persyaratan untuk memiliki STRA meliputi : 

a) Memiliki ijazah Apoteker 
b) Memiliki sertifikat kompetensi profesi 
c) Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker 
d) Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki  surat izin praktik 
e) Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etiket 


Profersi
STRKTT berlaku untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan untuk memiliki STRKTT : 
a) Memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya 
b) Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik

Thursday, July 31, 2014

Belajar Huruf dan Struktur Kalimat Bahasa Jepang

Huruf dan Struktur Kalimat Bahasa Jepang
Bahasa Jepang merupakan bahasa yang sangat mudah untuk dipelajari dari segi huruf dan penulisan, pengucapan serta struktur bahasa itu sendiri, menurut Yoel Sadewa (2003), “Tentang Bahasa Jepang”, (p. 1).

1. Huruf dan Abjad Bahasa Jepang
Huruf dan abjad bahasa Jepang terdiri dari empat; yaitu :

a. Hiragana
Digunakan untuk menulis kata-kata asli Bahasa Jepang. Juga digunakan untuk tulisan kata-kata yang ditulis dengan huruf Kanji. Selain itu juga untuk menulis kata Bantu atau partikel, kata Bantu kata kerja atau yang berkonjugasi dengan kata kerja dan sebagainya. Penulisan Hiragana didasarkan atas suku kata dan aturan sendiri.

b. Katakana
Digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari kata asing. Seperti nama orang asing, nama negara dan kota asing (kecuali pada beberapa negara), benda-benda dari negara asing dan lain-lain. Tetapi sekarang ini banyak pula kata-kata Jepang asli yang juga sering ditulis dengan huruf Katakana, namun biasanya bersifat sebagai penegasan saja.

Selain itu Katakana juga banyak digunakan untuk menulis onomatope (bentuk kata yang menirukan suatu bunyi atau suara baik dari manusia, hewan atau benda).

Penulisan Katakana didasarkan atas suku kata dan aturan sendiri.

c. Kanji
Digunakan untuk menulis kata-kata asli Bahasa Jepang yang telah diterapkan dengan tulisan Kanji. Jumlah yang ditetapkan secara resmi dan digunakan pada pendidikan di Jepang sekarang adalah sekitar 1850 huruf. Selain itu juga merupakan menulis kata-kata yang berasal dari Cina dan memang huruf Kanji berasal dari Cina.

d. Roomaji
Roomaji adalah huruf Latin (a-z). terdapat dua macam sistem ejaan Bahasa Jepang dalam huruf Roomaji (latin) yang digunakan dalam penulisan, yaitu :

§ Sistem Kunreishiki
Pada penulisan bunyi panjang atau vokal panjang ditulis secara lengkap.
Contoh : okaasan (ibu).

§ Sistem Hepburn
Pada penulisan bunyi panjang atau vokal panjang ditulis tanda “-“ di atas vokal tersebut.
Contoh : okāsan (ibu).

Penulisan Roomaji digunakan untuk beberapa hal, diantaranya :
Penulisan pada beberapa buku teks Bahasa Jepang dasar untuk orang asing.
Penulisan singkatan-singkatan.
Penulisan kata-kata asing yang dipandang perlu ditulis sesuai asli (huruf Latin).

2. Pengucapan Bahasa Jepang

Hampir semua kata dalam Bahasa Jepang ditulis (dalam huruf latin) dan diucapkan seperti dalam Bahasa Indonesia, sehingga dalam mempelajari sistem pengucapan tidak terlalu sulit bagi orang Indonesia, jika dibandingkan dengan ucapan dalam bahasa asing lain seperti Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Belanda dan sebagainya. Dalam Bahasa Jepang hanya sedikit saja yang diucapkan berbeda dari Bahasa Indonesia.

Terdapat 5 vokal dasar. Vokal dalam Bahasa Jepang ada vokal pendek/biasa dan vokal panjang/dobel. Terkadang panjang pendeknya vokal ini mempengaruhi arti. Adapun vokal tersebut adalah :
A, dibaca sama seperti pada kata : jaya, para, sama dan lain-lain.
I, dibaca sama seperti pada kata : sini, bibi, tari dan lain-lain.
U, dibaca sama seperti pada kata : kuku, buku, kamu dan lain-lain.
E, dibaca sama seperti pada kata : hebat, lele, desa dan lain-lain.
O, dibaca sama seperti pada kata : toko, dosa, orang dan lain-lain.

Dalam Bahasa Jepang tidak terdapat konsonan L, Q dan X, kecuali konsonan N dan konsonan rangkap. Konsonan lainnya adalah diikuti vokal, contoh : KA, SA, TA, NA, HA dan sebagainya. Sedangkan cara baca konsonan tersebut hampir semua sama seperti dalam Bahasa Indonesia, kecuali beberapa konsonan berubah bunyi; diantaranya adalah :

G
a. Diawal kata tetap dibaca “g” seperti pada kata : gagak, gila, guru dan lain-lain.
b. Ditengah kata bisa dibaca “ng” seperti pada kata : ungu, angan dan lain-lain. Namun juga dapat dibaca tetap “g”.

N
a. Diakhir kata dibaca “ng” seperti pada kata : anjing, urung dan lain-lain.
b. Diikuti konsonan “k” dan “g” juga dibaca “ng”.
c. Diikuti konsonan “b”, “m”, “p” dibaca “m”.
d. Diikuti konsonan lain tetap dibaca “n”.
 
3. Struktur Kalimat
Struktur kalimat dalam Bahasa Jepang berbeda dengan struktur kalimat dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Adapun secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut :
Di belakang kata digunakan kata bantu atau partikel. Kata bantu ini menunjukan sebagai arti dan untuk menghubungkan antara kata atau kalimat.
Predikat terletak pada akhir kalimat.
Kata yang diterangkan terletak di belakang kata yang menerangkan M.D (Menerangkan Diterangkan). Hal ini berlawanan dengan hukum D.M (Diterangkan Menerangkan) seperti dalam Bahasa Indonesia.
Kebanyakan kata bendanya tidak memiliki bentuk jamak.
Subjek dan objek yang telah diketahui dari sebuah kalimat biasanya dihilangkan.
Terdapat bentuk kalimat biasa dan bentuk sopan. Dalam menggunakannya tergantung pada situasi.

CARA MENGETAHUI SESEORANG SEDANG BERBOHONG

Dalam kehidupan kita seharii-hari kita sering menjumpai permasalahan ini baik dilingkungan domisili kita, baik di sekitar pekerjaan kita, maupun di keluarga kita, maupun secara global dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Ada baik nya kita belajar untuk mendeteksi atau mengetahui trik trik dan tips yang kita ketahui pada suatu saat seseorang ingin berbohon kepada kita. 
Disini sedikit saya jelaskan tips untuk mendeteksi seseorang yang sedang berbohon kepada kita :
 
Merasa sedang dibohongi oleh teman atau keluarga baik anak atau istri terhadap suamui? Atau Anda berpikir kalau teman sedang menutupi-nutupi sesuatu? Siapapun bisa membohongi Anda, termasuk orang-orang dekat yang dipercaya.
Mereka mungkin punya alasan kuat untuk berbohong pada Anda. Tapi, jangan sepelekan firasat, jika memang Anda merasa sedang dibohongi. Analisis saja firasat itu dengan melakukan jurus mendeteksi kebohongan dari doktor psikologi dari University of Central Lancashire, Inggris, Paul Seager. Berikut beberapa mitos dan fakta yang wajib Anda tahu dari sang doktor, Daily Mail.

Kontak mata
Menurut Seager, adalah salah kaprah mengganggap pembohong menghindari kontak mata. Justru pembohong yang andal akan melakukan kontak mata lebih lama dari biasanya. Itu karena orang cenderung melihat kontak mata sebagai landasan kepercayaan.

Gelisah
Mitos lain yang beredar yaitu orang akan terlihat gelisah saat berbohong. Faktanya justru sebaliknya. Jika seseorang membuat kebohongan, mereka akan mengalihkan energi dari aktivitas fisik menjadi aktivitas otak yang lebih aktif. Jadi, mereka akan lebih diam, karena berpikir keras, untuk menutupi kebohongannya.

Melihat ke satu titikMitos besar ketiga adalah bahwa ketika seseorang berbohong, ia akan memfokuskan pandangannya pada titik tertentu, baik ke atas, ke kanan ataupun ke sudut lain. Ini didasarkan pada gagasan bahwa ketika kita melihat ke atas atau bawah, ke kiri atau kanan, kita mengakses memori tertentu.

"Apa yang kita lontarkan, melibatkan berbagai jenis fungsi otak dan memori, jadi ini tidak benar," kata Dr. Seager.

Tekanan suara
Perhatikan juga tekanan suara, itu karena orang yang berbohong suaranya cenderung lebih tinggi dari biasanya. Menurut Dr. Seager, penelitian menunjukkan peningkatan nada suara jadi indikator yang baik untuk mendeteksi kebohongan, namun kadang sulit dilakukan.

Kecepatan menjawab pertanyaan
Lontarkan saja berbagai pertanyaan di kepala saat firasat dibohongi muncul. Lalu, perhatikan kecepatan menjawab orang yang Anda curigai berbohong. Jika ia menjawab agak lama, bisa jadi memang sedang menyusun strategi untuk berbohong.