Thursday, January 18, 2018

Pengertian Coping Stress

Coping stress berarti upaya yang dilakukan oleh individu untuk menghadapi sumber stres dan mengendalikan reaksi tersebut (Lahey, 2012). Coping juga dapat disebut sebagai proses mencoba untuk mengolah tuntutan yang dibuat oleh peristiwa stres yang dinilai melebihi sumber daya seseorang (Lazarus & Folkman dalam Sarafino, 2011). Upaya ini dapat berorientasi pada aksi dan interpsikis; mereka mencari untuk mengolah, menguasai, mentoleransi, mengurangi atau meminimalkan tuntutan lingkungan yang stres (Lazarus & Launier dalam Taylor & Annette, 2007). 

Coping dalam definisi ini menunjukkan bahwa cara mengatasi stres sangat bervariasi dan tidak selalu mengarah pada solusi dari masalah. Meskipun upaya coping dapat ditunjukkan untuk memperbaiki atau menguasai masalah, cara tersebut mungkin akan membantu orang mengubah persepsi ketidaksesuaian, mentolerir atau menerima bahaya dan ancaman, melarikan diri atau menghidari situasi (Lazarus & Folkman, 1984 dalam Sarafino, 2011). 

Coping dapat membantu dalam proses mengatasi stres. Cara mengatasi stres melalui kognitif dan transaksi perilaku dengan lingkungan (Sarafino, 2011). Sumber daya dalam mengatasi stres termasuk optimisme, rasa penguasaan, harga diri dan dukungan sosial. Sumber daya akan mempengaruhi proses coping yang dilakukan dan khususnya akan ditandai dengan pendekatan seperti mengambil tindakan langsung atau menghadapi respon emosional ke sumber stres (stressor) dan ditandai dengan penghindaran seperti penarikan atau penolakan. Upaya dalam melakukan coping mungkin akan adaptif atau maladaptif dan bentuk dari proses coping yang dilakukan akan mempengaruhi sukses atau tidaknya dalam menghadapi situasi tersebut (Taylor & Annete, 2007). 

Dalam penelitian ini, lanjut usia yang menjadi penyintas erupsi Gunung Sinabung merasakan stres yang ditunjukkan dengan beberapa gejala, tetapi lanjut usia mampu untuk bertahan selama bertahun-tahun dengan keadaan yang disebabkan oleh Gunung Sinabung. Lanjut usia memiliki beberapa cara untuk mengatasi hal tersebut seperti mengayam, menari atau biasa disebut juga dengan landek, bekerja dan memasak. Peneliti juga melihat bahwa lanjut usia melakukan beberapa upaya untuk mengatasi stres seperti berkumpul dengan pengungsi lain, bercerita, memakan sirih dan menonton televisi. 

b. Coping With Stress 
Menurut Lahey, 2012 ada beberapa strategi coping yang dilakukan individu ketika menghadapi situasi stres sebagai berikut : 

a. Effective Coping 
Metode ini efektif untuk mengatasi baik menghapus stres atau mengontrol reaksi seseorang 

1. Removing Stress 
Salah satu cara efektif untuk menangani stres adalah menghapus sumber stres yang dirasakan atau menghilangkan sumber stres. Ketika individu menggunakan cara removing stress, maka diperlukan analisis yang mendalam mengenai apa yang menjadi sumber stress sesungguhnya. Apabila individu tidak melakukan analisis, maka pengambilan keputusan hanya menyelesaikan masalah terbesar saja dan akan menimbulkan masalah baru. 

2. Cognitive Coping 
Kognisi sangat erat kaitannya dengan reaksi seseorang terhadap peristiwa stres. Salah satu metode yang efektif untuk mengatasi stres adalah reappraisal atau melakukan penilaian kembali. Hal ini mengubah atau menafsirkan cara berfikir tentang peristiwa stres yang mendorong kehidupan seseorang atau dapat juga dikatakan dengan selalu berfikir positif. 

3. Managing stress reaction 
Ketika sumber stres tidak dapat dihapus atau diubah, pilihan lain yang efektif adalah mengelola psikologis atau reaksi psikologis terhadap stres. 

b. Ineffective Coping 
Banyak upaya individu untuk mengatasi stres tidak efektif, mungkin akan memberikan solusi sementara dari ketidaknyamanan yang dihasilkan oleh stres, tidak memberikan solusi jangka panjang dan bahkan dapat membuat masalah lebih buruk. Tiga yang umum tetapi tidak efektif, strategi untuk mengatasinya adalah sebagai berikut 

1. Withdrawal 
Ketika dihadapkan pada situasi stres sering sekali individu menghindari atau lari dari kenyataan atau menarik diri. Hal ini hanya akan menghilangkan stres dalam jangka pendek atau bersifat sementara. 

2. Aggression 
Ketika individu dihadapkan dengan situasi frustasi atau situasi stress maka cenderung melakukan tindakan agresif. Yang dimaksud dengan tindakan aggression adalah tindakan agresif yang merupakan reaksi terhadap situasi stres. 

3. Self medication 
Ketika individu dihadapkan dalam situasi stres dan merasakan coping stres tidak efektif, maka mereka berfokus kepada penggunaan tembakau, alkohol dan obat-obatan untuk meredam reaksi emosi terhadap situasi stres. Bagi sebagian orang mengkonsumsi alkohol dapat mengurangi kecemasan, namun sama sekali tidak menghilangkan penyebab dari stres atau bahkan sering sekali menciptakan masalah-masalah baru. 

4. Defence mechanism 
Coping stress defence mechanism diartikan sebagai ego pembentukan pertahanan seseorang terhadap situasi atau tekanan yang membuat individu merasa tidak nyaman. Ketika situasi yang membuat stres datang, maka secara lahiriah individu akan membuat suatu pertahanan agar kondisi dirinya tetap nyaman. Dalam hal ini penggunaan pertahanan lebih kepada yag bersifat negatif atau hanya bersifat sementara. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Coping Stress 
Ada beberapa faktor sumber daya yang mempengaruhi coping stress, baik sumber daya dari dalam diri individu (internal) maupun sumber daya dari luar diri individu (eksternal ). Menurut Taylor (2014) beberapa faktor tersebut adalah: 

1. Sumber daya internal 
a. Personality (Kepribadian) 
Karateristik kepribadian yang dibawa oleh setiap orang akan mempengaruhi bagaimana cara atau upaya mereka dalam mengatasi situasi yang menekan atau peristiwa stres. Hal ini dapat berupa self esteem, self efficacy, optimism, self regulation dan psychological control 

2. Sumber daya eksternal 
a. Dukungan Sosial 
Dukungan sosial adalah dorongan materi atau sosial yang diterima oleh individu yang berasa dari orang lain. Dukungan dapat diberikan oleh kerabat seperti orangtua, pasangam atau teman. 

b. Materi 
Materi berupa uang, pekerjaan, rumah, transportasi yang dimiliki individu akan mempengaruhi coping stres yang dilakukan dalam menghadapi situasi stres. 

c. Tingkat Pendidikan 
Perkembangan kognitif sangat berhubungan dengan tingkat pendidikan. Apabila tingkat pendidikan seseorang tinggi maka perkembangan kognitifnya akan menjadi semakin baik. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana cara dalam mengatasi situasi yang menekan. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa coping stress merupakan upaya individu untuk mengolah sumberdaya yang dimiliki dengan tuntutan lingkungan agar dapat mengatasi situasi atau peristiwa yang menyebabkan stres atau tekanan baik fisik maupun psikologis. Coping yang dilakukan individu ketika menghadapi situasi stres dibagi menjadi dua yaitu : (1) effective coping merupakan suatu metode yang efektif untuk mengatasi, menghapus dan mengontrol sumber stres. Effective coping dibagi menjadi tiga yaitu : (a) removing stress merupakan cara individu mengatasi stres dengan menghapus sumber stres,(b) cognitive coping merupakan cara individu mengatasi stres dengan melakukan penilaian kembali, (c) managing stres reaction merupakan cara individu mengatasi stres dengan mengolah reaksi psikologis. (2) ineffective coping merupakan solusi sementara ketika individu mengatasi stres tidak efektif, ineffective coping tidak memberikan solusi jangka panjang atau bahkan membuat masalah menjadi lebih buruk. Ineffective coping dibagi menjadi empat cara yaitu:

(a) withdrawal merupakan cara individu menghilangkan stres dengan bersenang-senang, 
(b) aggression merupakan individu melakukan tindakan agresif ketika dihadapkan dengan situasi frustasi, 
(c) self medication merupakan indivdu lebih menggunakan tembakau, alkohol ketika menghadapi situasi stres, 
(d) defence mechanism merupakan individu membentuk pertahanan diri ketika dihadapkan dengan situasi stres. Adapun faktor yang mempengaruhi coping stress adalah sebagai berikut: (1) kepribadian, (2) dukungan sosial, (3) materi dan (4) tingkat pendidikan.

Pengertian Stres

Stres adalah respon individu terhadap situasi yang melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya dengan mengolah sumber dayanya yaitu biologis, psikologis dan sistem sosial.

Stres sudah menjadi bagian konsep teoritis yang sanget penting. Konsep stress telah diterapkan dalam berbagai konteks kehidupan (Gifford, 1987). Stres dalam bentuk apapun adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang mengalami stres secara berbeda dan mungkin tidak menyadari dari mana asalnya atau bagaimana pengaruhnya terhadap diri atau kehidupan sehari-hari (Manktelow, 2007). 

Menurut Manktelow (2007) stres adalah kumpulan hasil respon, jalan, dan pengalaman yang berkaitan yang disebabkan oleh berbagai stressor atau keadaan yang menyebabkan stres. Stres dapat dianggap sebagai suatu peristiwa adanya keterbatasan dan melebihi kemampuan individu untuk mengatasi suatu masalah (Lazarus dalam Lahey 2012). Stres bergantung kepada kognisi yang berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya (Lazarus dalam Pervin & Cervone, 2004). Stres dipandang sebagai hal yang terjadi ketika individu memandang situasi sebagai membebani atau melampaui sumber dayanya yang membahayakan kesejahtraan dan kebahagiaan (Pervin & Cervone, 2004). 

Menurut Santrock (2002) Stres (stress) ialah respon individu terhadap keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa (disebut stressor) yang mengancam individu dan mengurangi kemampuan individu dalam mengatasi segala bentuk stressor. Menurut tokoh lain stres diartikan sebagai pengalaman negatif yang disertai dengan emosi, fisiologis, biokimia dan perilaku yang dapat diprediksi (Baum, 1999). 

Setiap kali kita dihadapkan dengan stres, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis, yang sangat jelas dari ini adalah “fight or flight” melawan atau menghidari terhadap situasi stres. Stres akut mengakibatkan individu merasa bahwa jantung akan berdetak lebih cepat dan tangan yang berkeringat. Hasil dari stres jangka panjang adalah perubahan kronis pada fisiologis (Gibbons & Tim, 1998). Stres terbentuk dari berbagai hal (Manktelow, 2007). Ada dua model dasar stres yang mendominasi. Salah satu menekankan respon fisiologis yang lain menekankan respon psikologis (Gifford, 1987). Stres yang mempengaruhi psikologis telah lama dipelajari oleh Lazarus (1966) yang menekankan peran penilaian kognitif, upaya individu untuk menilai situasi yang serius dan mengatasi stressor (Gifford. 1987). 

Kita dapat mendefinisikan stres sebagai keadaan dimana transaksi mengarahkan seseorang untuk memahami perbedaan antara tuntutan fisik situasi psikologi dan sumber dayanya yaitu biologis, psikologis dan sistem sosialnya. Stres bukan hanya sebuah stimulus atau respon melainkan sebuah proses ketika seseorang merupakan agen aktif yang dapat mempengaruhi dampak dari stressor melalui perilaku, kognitif maupun emosional (Lazarus dalam Sarafino, 2011). Kondisi stres memiliki dua komponen yaitu fisik yang melibatkan jasmaniah atau tantangan fisik dan psikologis yang melibatkan bagaimana individu memandang keadaan hidup mereka (Lovallo, dalam Sarafino, 2011).

Monday, January 15, 2018

MAKALAH KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Komputer merupakan suatu sistem yang saling berkaitan antara input, proses, dan output. Oleh Karena itu jika salah satu saja mengalami kerusakan atau dalam keadaan sakit, Computer tersebut akan mengalami gangguan bahkan dapat pula komputer tersebut tidak bisa digunakan. Terutama sekali dengan peralatan proses (CPU) yang menjadi tumpuan dari sebuah komputer, Untuk menanggulangi hal tersebut, dalam bab ini akan diuraikan tentang pengamanan komputer, ada baiknya kita mengetahui definisi dari pengamanan komputer.

Pengamanan komputer atau yang sering disebut dengan sekuriti komputer adalah pencegahan atas penggunaan data atau program dari masalah yang akan dihadapi, atau lebih mudahnya adalah segala sesuatu yang menyangkut masalah keamanan sistem komputer. Jadi, pengamanan komputer adalah segala sesuatu baik berupa alat – alat, program komputer sampai dengan manusianya untuk saling menjaga dan mencegah komputer dari kerusakan. Karena itu, ketiga komponen tersebut harus saling mengisi satu dengan yang lainnya. Ini disebabkan keterbatasan kemampuan salah satu komponen tersebut. Namun demikian, komponen manusia merupakan komponen terbesar, ini karena alat –alat dan program komputer dapat berfungsi dengan baik jika dioperasikan dengan benar. Selain itu, lingkungan yang paling dekat dengan komputer alah dari faktor manusia, sehingga manusia haruslah dapat berperan banyak dalam pengamanan komputer.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar dapat mengamankan komputer dari salah satu karakteristik penggangggu yang sering dijumpai pada saat pengoperasian komputer oleh user.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Operasi
Penggunaan Sistem operasi dimaksudkan untuk memudahkan interaksi antara manusia dengan komputer, dan pada sistem operasi yang berbasis jaringan berfungsi untuk memudahkan hubungan antarkomputer yang satu dengan yang lain. Dalam penggunaan sistem operasi, Kita akan dicek oleh sistem operasi tersebut atau yang dikenal dengan Identification dan Authentication. Keduanya berfungsi untuk memberitahukan kepada sistem tentang siapa kita. Identification atau dikenal dengan pembuatan password pada umumnya digunakan untuk memastikan sistem operasi apakah kita yang berwenang atau tidak. Authentication pada umumnya menggunakan media pengenal, seperti kunci, tanda pengenal, sidik jari, telapak tangan, suaru dan lain – lain. Kerusakan komputer yang diakibatkan oleh sistem operasi, banyak disebabkan faktor manusianya antara lain :

  • Memberikan password kepada orang lain.
  • Orang lain memberikan kepada orang lain lagi (Pihak Ketiga)
  • Password ditulis pada media dan dibaca oleh orang lain.
  • Terlalu mudah ditebak password-nya.
  • Dicurunya kunci dan tanda pengenal atau kunci dan tanda pengenal tersebut dipinjam orang dan dibuat duplikat.
  • Dibuatnya suatu alat yang membuat duplikat dari sidik jari, telapak tangan, dan suara.
Bila Kejadian tersebut terjadi, komputer dapat dibuka atau dijalankan oleh orang yang telah membuat duplikatnya, sehingga keamanan komputer sudah tidak terjamin lagi.

2.2 Beberapa Ancaman dan Serangan

Tujuan utama dengan adanya keamanan adalah untuk membatasi akses informasi dan sesumber hanya untuk pemakai yang memiliki hak akses.

Ancaman keamanan : 
Leakage (Kebocoran) : Pengambilan informasi oleh penerima yang tidak berhak 
Tampering : Pengubahan informasi yang tidak legal 
Vandalism (perusakan) : Gangguan operasi sistem tertentu. Si pelaku tidak mengharap keuntungan apapun. 
  • Serangan pada sistem terdistribusi tergantung pada pengaksesan ke saluran komunikasi yang ada atau membuat saluran baru yang menyamarkan (masquerade) sebagai koneksi legal
  • Penyerangan Pasive, Hanya mengamati komunikasi atau data
  • Penyerangan Aktif, Secara aktif memodifikasi komunikasi atau data
  • Pemalsuan atau pengubahan Email
  • TCP/IP Spoofing
Faktor- Faktor Penyebab Resiko Dalam Jaringan Komputer : 
Kelemahan manusia (human error) 
Kelemahan perangkat keras komputer 
Kelemahan sistem operasi jaringan 
Kelemahan sistem jaringan komunikasi 

Ancaman Jaringan Komputer :

- FISIK
· Pencurian perangkat keras komputer atau perangkat jaringan
· Kerusakan pada komputer dan perangkat komunikasi jaringan
· Wiretapping
· Bencana alam

- LOGIK
Kerusakan pada sistem operasi atau aplikasi
Virus
Sniffing

Beberapa Metode Penyerangan 
Eavesdropping, mendapatkan duplikasi pesan tanpa ijin 
Masquerading, Mengirim atau menerima pesanmenggunakan identitas lain tanpa ijin mereka 
Message tampering, Mencegat atau menangkap pesan dan mengubah isinya sebelum dilanjutkan ke penerima sebenarnya. “man-in-the-middle attack” adalah bentuk message tampering dengan mencegat pesan pertama pada pertukaran kunci enkripsi pada pembentukan suatu saluran yang aman. Penyerang menyisipkan kunci lain yang memungkinkan dia untuk mendekrip pesan berikutnya sebelum dienkrip oleh penerima 
Replaying, menyimpan pesan yang ditangkap untuk pemakaian berikutnya. 
Denial of Service, membanjiri saluran atau sesumber lain dengan pesan yang bertujuan untuk menggagalkan pengaksesan pemakai lain 


Beberapa Bentuk Ancaman Jaringan :
- Sniffer
Peralatan yang dapat memonitor proses yang sedang berlangsung

- Spoofing
Penggunaan komputer untuk meniru (dengan cara menimpa identitas atau alamat IP)

- Phreaking
Perilaku menjadikan sistem pengamanan telepon melemah

- Remote Attack
Segala bentuk serangan terhadap suatu mesin dimana penyerangnya tidak memiliki kendali terhadap mesin tersebut karena dilakukan dari jarak jaruh di luar sistem jaringan atau media transmisi

- Hole
Kondisi dari software atau hardware yang bisa diakses oleh pemakai yang tidak memiliki otoritas atau meningkatnya tingkatpengaksesan tanpa melalui proses autorisasi

- Hacker
Orang yang secara diam-diam mempelajari sistem yang biasanya sukar dimengerti untuk kemudian mengelolanya dan men-share hasil ujicoba yang dilakukannya.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengamanan Komputer dari Faktor sistem Operasi
Pengganggu komputer dari faktor sistem operasi banyak terjadi karena faktor manusia, yaitu Identification dan Authentication. Untuk mengamankan keduanya, Kita dapat mengikuti cara berikut ini :

1. Identification
Password dapat diibaratkan seperti sikat gigi yang digunakan setiap hari. Oleh Karena itu, harus mengganti password tersebut secara periode dan jangan digunakan oleh orang lain. Password menjadi tanggung jawab setiap orang (Pemilik), sehingga kita dapat mengikuti cara – cara di bawah ini agar password lebih terjamin.
  • Jangan biarkan login tanpa password, Jika kita bekerja dengan jaringan dan kita adalah seorang administrator sistem, pastikan setiap account mempunyai password
  • Jangan pernah membiarkan seseorang menggunakan password kita, Jika kita sudah terlanjur memberitahukan kepada orang lain, segeralah mengganti password dengan yang baru.
  • Janganlah menulis password pada layar monitor, meja, atau sekitar ruang kerja.
  • Jangan mengetik password, sementara di belakang atau sekeliling komputer kita ada orang lain yang mengawasi.
  • Jangan mengirimkan password secara online ke suatu tempat melalui e-mail, karena ada kemungkinan orang lain akan menyadap saluran e-mail anda.
Apabila anda diperbolehkan memilih password, pilihlah password yang sukar ditebak. Dibawah ini saran-saran untuk menentukan nama password, yaitu :
  • Jangan menggunakan kata – kata dalam bahasa Inggris.
  • Jangan menggunakan nama – nama, seperti nama sendiri atau keluarga, pahlawan fiktif, anggota keluarga, hewan piaraan dan lain – lain.
  • Boleh juga menggunakan kata – kata yang tidak mempunyai arti, misalnya Jt93gpy
  • Sebaiknya gunakan gabungan huruf dan angka.
  • Jangan menggunakan nomor telepon anda.
  • Pilih Password yang panjang, karena jika password anda hanya beberapa huruf atau angka atau kombinasi keduanya, akan mudah ditemukan. Gunakan minimal 6 – 8 karakter.
  • Apabila anda bekerja dengan jaringan, sebaiknya bedakan password antara host (Komputer) yang satu dengan yang lain.
  • Password yang baik adalah yang menggunakan kombinasi huruf besar dan kecil.
2. Authentication
  • Proses pengenalan peralatan, sistem operasi, kegiatan, aplikasi dan identitas user yang terhubung dengan jaringan komputer
  • Autentikasi dimulai pada saat user login ke jaringan dengan cara memasukkan password
  • Jangan pernah meninggalkan kartu pengenal atau kunci di tempat terbuka, walaupun hanya sebentar.
  • Tempatkan kartu pengenal atau kunci pada tempat yang sulit dijangkau oleh orang lain, atau letakkan pada tempat yang dapat anda kunci dari luar.
  • Pada beberapa negara maju pengamanan kmputer telah menggunakan sensor untuk mengamankan komputer. Oleh karena itu, jangan pernah merekam sidik jari atau telapak tangan atau suara pada komputer anda karena akan mudah bagi oarang lain untuk membuat duplikatnya.

Sunday, January 14, 2018

Hubungan Kebijakan Publik Dengan Otonomi Daerah

Hubungan Kebijakan Publik Dengan Otonomi Daerah adalah sebagai berikut : 
Kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah yang diatur melalui berbagai macam Peraturan Perundang-undangan, hakekatnya untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik. Konsep pemberian otonomi kepada daerah dan konsep desentralisasi yang telah diuraikan diatas, mengandung pemahaman bahwa kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah, adalah dalam kerangka terselenggaranya kepemerintahan yang baik, yang diwujudkan melalui tanggung jawab dan kewajiban daerah untuk meningkatkan pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat di daerahnya.

Otonomi daerah adalah “hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat…”. Daerah otonom selanjutnya disebut daerah, adalahkesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem NKRI. 

Definisi tersebut dapat diartikan, bahwa otonomi daerah adalah hak,wewenang dan kewajiban yang diberikan kepada kesatuan masyarakat hukum untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan untuk kepentingan mensejahterakan masyarakat.

Pengertian kesatuan masyarakat hukum dapat diartikan, sekelompok masyarakat yang melembaga yang memiliki tatanan hubungan, aturan, adat istiadat, kebiasaan dan tata cara untuk mengatur dan mengurus kehidupannya dalam batas wilayah tertentu. Dalam kontek Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang diberi hak,wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah dan selanjutnya disebut Daerah.

Dengan demikian, penyelenggara otonomi daerah sebenarnya adalah perwujudan dari kesatuan masyarakat hukum, dan selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 32/2004 disebut Pemerintahan Daerah. Pemerintahan Daerah disini, mengandung dua pengertian; yaitu dalam arti institusi adalah Pemerintah Daerah dan DPRD, dan dalam arti proses adalah kegiatan penyelenggaran pemerintahan daerah). 

Dalam meyelenggarakan urusan pemerintahan daerah, Pemerintah Daerah dan DPRD seharusnya berorientasi pada kepentingan masyarakat, dan mengutamakan tanggungjawab dan kewajibannya untuk mensejahterakan masyarakat, dengan memberikan dan/atau menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Konsep otonomi daerah telah membuka sekat komunikasi, transparansi dan akuntabilitas di dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, otonomi daerah memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk semakin memahami hak-haknya mendapatkan pelayanan dari pemerintah daerah, termasuk peran dan hak-hak perempuan di dalam berpemerintahan.

Masyarakat semakin kritis dan berani untuk menyampaikan aspirasi dan melakukan control terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah daerahnya. Harus diakui, pelaksanaan otonomi daerah, dengan kekurangan dan kelebihannya berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam proses memberdayakan masyarakat (empowering) dan memberikan pendidikan politik (demokrasi).

sDilihat dari tujuan pemberian otonomi, kondisi dan perkembangan masyarakat yang dinamis tersebut, memberikan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah, dan merupakan tantangan tersendiri yang harus disikapi positif oleh para pemimpin/pengambil kebijakan dan jajaran aparat penyelenggara pelayanan publik.

Konsep kebijakan pelayanan publik yang dikemas melalui produk hukum dan/atau kebijakan daerah, umumnya masih didasarkan pada pendekatan kekuasaan atau kewenangan yang lebih mengedepankan kepentingan pemerintah daerah dan/atau birokrasi, dan tidak berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Konsep kebijakan pelayanan publik di era otonomi daerah, pada hakekatnya ditujukan dan berorientasi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (pelanggan) dan memberdayakan (empowerment) staf dan masyarakat, secara bersama-sama saling mendukung untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Bobot orientasi pelayanan umum, seharusnya untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang kurang mampu atau miskin, bukan mengutamakan hak-hak atau kepentingan kalangan yang berkemampuan atau pengusaha. Diperlukan keseimbangan pola pikir para penyelenggara pelayanan.

Thursday, January 4, 2018

Kelebihan dan Kelemahan Otonomi Daerah

Pada prinsipnya, kebijakan otonomi daerah dilakukan dengan mendesentralisasikan kewenangan-kewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Dalam proses desentralisasi ini, kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke pemerintahan daerah sebagaimana mestinya sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Jika dalam kondisi semula arus kekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah tingkat pusat maka diidealkan bahwa sejak diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu, arus dinamika kekuasaan akan bergerak sebaliknya, yaitu dari pusat ke daerah.

Kebijakan otonomi dan desentralisasi kewenangan ini di lihat sangat penting, terutama untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. Karena dalam sistem yang belaku sebelumnya sangat dirasakan oleh daerah-daerah besarnya jurang ketidakadilan struktural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan daerah-daerah. Untuk menjamin perasaan diberlakukan tidak adil yang muncul di berbagai daerah Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat pada gilirannya akan sangat membahayakan integrasi nasional, maka kebijakan otonomi daerah ini dinilah mutlak harus diterapkan dalam waktu yang secepat-cepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan da- erah sendiri.

Dengan demikian, kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut pengalihan kewenangan dari atas ke bawah, tetapi perlu juga diwujudkan atas dasar prakarsa dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandiriaan pemerintahan daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu. Dalam kultur masyarakat Indonesia yang paternalistik, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri.

Beberapa keuntungan dengan menerapkan otonomi daerah dapat dikemukakan sebagai berikut ini.
  • Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat pemerintahan.
  • Dalam menghadapi masalah yang amat mendesak yang membutuhkan tindakan yang cepat, sehingga daerah tidak perlu menunggu intruksi dari Pemerintah pusat.
  • Dalam sistem desentralisasi, dpat diadakan pembedaan (diferensial) dan pengkhususan (spesialisasi) yang berguna bagi kepentingan tertentu. Khususnya desentralisasi teretorial, dapat lebih muda menyesuaikan diri pada kebutuhan atau keperluan khusu daerah.
  • Dengan adanya desentralisasi territorial, daerah otonomi dapat merupakan semacam laboratorium dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan, yang dapat bermanfaat bagi seluruh negara. Hal-hal yang ternyata baik, dapat diterapkan diseluruh wilayah negara, sedangkan yang kurang baik dapat dibatasi pada suatu daerah tertentu saja dan oleh karena itu dapat lebih muda untuk diadakan.
  • Mengurangi kemungkinan kesewenang-wenangan dari Pemerintah Pusat.
  • Dari segi psikolagis, desentralisasi dapat lebih memberikan kewenangan memutuskan yang lebuh beser kepada daerah.
  • Akan memperbaiki kualitas pelayanan karena dia lebih dekat dengan masyarakat yang dilayani.
Di samping kebaikan tersebut di atas, otonomi daerah juga mengandung kelemahan sebagaimana pendapat Josef Riwu Kaho (1997) antara lain sebagai berikut ini.
  • Karena besarnya organ-organ pemerintahan maka struktur pemerintahan bertambah kompleks, yang mempersulit koordinasi.
  • Keseimbangan dan keserasian antara bermacam-macam kepentingan dan daerah dapat lebih mudah terganggu.
  • Khusus mengenai desentralisasi teritorial, dapat mendorong timbulnya apa yang disebut daerahisme atau provinsialisme.
  • Keputusan yang diambil memerlukan waktu yang lama, karena memerlukan perundingan yang bertele-tele.
  • Dalam penyelenggaraan desentralisasi, diperlukan biaya yang lebih banyak dan sulit untuk memperoleh keseragaman atau uniformitas dan kesederhanaan.