Friday, January 29, 2016

Hubungan Fiskal Antar-Jenjang Pemerintahan di Malaysia

Malaysia adalah sebuah negara berpenduduk sekitar 25 juta jiwa dengan mayoritas berasal dari etnik Melayu (65%), disusul etnik Cina (25%), etnik India (8%) dan lain-lainnya (2%). Sistem pemerintahan mengikuti bentuk federal yang dilandasi dengan tatanan politik gabungan antara demokrasi parlementer dan monarkhi konstitusional. Pemimpin puncak di negara federal ini adalah Perdana Menteri yang sekaligus merupakan ketua parlemen dan biasanya dipilih dari partai politik yang memenangi pemilihan umum. Sistem pemerintahan federal dibentuk dengan berdirinya Federasi Malaysia pada tahun 1963 (ketika itu meliputi Federasi Malaya, Sabah, Sarawak dan Singapura) sebelum terpisahnya Singapura pada tahun 1965. Saat ini, negara federal Malaysia terdiri dari 13 negara bagian dengan sistem tiga jenjang, yaitu: 1) pemerintah federal, 2) pemerintah negara bagian, dan 3) pemerintah lokal (tempatan). Pembagian kekuasaan mengikuti trias politika (kekuasaan legislatif, judikatif dan eksekutif) selanjutnya dilakukan berdasarkan ketiga jenjang pemerintahan ini.

Secara umum, pemerintah federal sebagai representasi dari pemerintahan nasional memiliki kekuasaan yang sangat besar jika dibandingkan pemerintah negara bagian (di Malaysia disebut “kerajaan negeri”). Pemerintah federal memegang kekuasaan pada hampir semua fungsi penting, termasuk merumuskan rencana pembangunan nasional, menarik semua jenis pajak, melakukan perjanjian pinjaman luar negeri, dan mengumumkan keadaan darurat. Sementara itu pemerintah negara bagian diberi tanggungjawab untuk mengurus hal-hal yang menyangkut wilayah, administrasi pertanahan, urusan pertanian, kehutanan, pekerjaan umum, pengadaan air bersih dan pelayanan publik di daerah. Diantara negara-negara bagian, terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal kekuasaan yang dimilikinya. Negara-negara bagian di semenanjung Malaysia seperti Selangor, Negeri Sembilan, dan Pulau Pinang termasuk yang setara satu sama lain. Sebaliknya, Sabah dan Sarawak diberi otonomi yang relatif lebih besar dengan dana subsidi dari pemerintah federal seringkali diberikan secara khusus.

Pemerintah lokal sepenuhnya menjadi instrumen untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas negara bagian. Kecuali itu pemerintah lokal juga diberi tugas-tugas pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan lokal. Dalam hal ini urusan dari pemerintah lokal misalnya menyangkut pengadaan air bersih, penanganan sampah, pemeliharaan drainase, perlakuan terhadap limbah, penanganan kebakaran, penerangan jalan, urusan pasar, taman, fasilitas olah-raga dan pusat-pusat kemasyarakat lainnya. Untuk membiayai urusan-urusan semacam ini, pemerintah lokal sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah negara bagian atau pemerintah federal secara langsung.

Undang-undang Dasar Malaysia tahun 1957 menggariskan bahwa pemerintah federal memiliki kekuasaan untuk melaksanakan tidak kurang dari 26 jenis urusan, meliputi urusan luar-negeri, pertahanan, keamanan, pendidikan, kesehatan, hingga urusan pemadaman kebakaran. Pemerintah negara bagian di Federasi Malaysia atau semenanjung Malaysia memiliki kekuasaan terhadap 11 jenis urusan mulai dari urusan agama Islam dan adat, pertanahan, pertanian dan kehutangan, pelayanan publik tempatan, hingga urusan pelestarian kura-kura dan perikanan air tawar. Khusus untuk pemerintah Sabah dan Sarawak terdapat urusan hukum adat dan tradisi, pelabuhan yang tidak menjadi kewenangan negara federal, survai, dan keretaapi di negeri Sabah. Di luar ketentuan tersebut terdapat juga urusan konkuren yang diselenggarakan berdasarkan prinsip kerjasama antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. Jenis-jenis urusan yang termasuk urusan konkuren antara lain kesejahteraan sosial, beasiswa, perindungan burung dan satwa liar, kebudayaan dan olah-raga, perumahan, dan sebagainya.

Pemerintah federal memiliki kekuasaan luas dalam hal pemungutan pajak dan cukai. Oleh sebab itu bisa dipahami bahwa sumber-sumber keuangan pemerintah di Malaysia sebagian besar masuk ke kas pemerintah federal. Dalam hal ini harus diakui bahwa sistem administrasi pajak oleh pemerintah federal di Malaysia sudah cukup efisien. Pada awal tahun 1990-an, ketika rerata pendapatan dari pajak sebagai proporsi dari PDB di negara-negara ASEAN baru sebesar 23,1%, angka di Malaysia sudah mencapai 28,3%.3
3 Chong Hui Wee. 2006. Fiscal Policy and Inequality in Malaysia. Kuala Lumpur: University of Malaya Press. hal. 27. Karena itu, bisa dipahami bahwa sentralisasi kebijakan fiskal tetap mewarnai hubungan keuangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian di Malaysia. Penerimaan pemerintah yang diberikan tanggungjawabnya kepada pemerintah negara-negara bagian hanya menyangkut sumber-sumber yang relatif kurang strategis, seperti pajak atas jual-beli tanah, pajak tanah, pertambangan umum dan kehutanan, pajak hiburan serta penerimaan dari kegiatan keagamaan Islam. Khusus untuk Sabah dan Sarawak, terdapat tambahan penerimaan dari pajak impor dan bea-masuk terhadap produk-produk minyak, kayu dan produk-produk dari hutan lainnya.

Dengan kekuasaan terhadap sumber-sumber penerimaan negara yang demikian besar, pemerintah federal dapat mengendalikan politik di banyak negara bagian dengan mudah. Hampir semua sumber penerimaan yang potensial dan mudah dimobilisasi dikuasai oleh pemerintah federal. Sebaliknya, pemerintah negara-negara bagian hanya memperoleh kekuasaan terhadap sumber-sumber penerimaan yang terbatas. Wilayah negara-negara bagian di Malaysia yang relatif mudah terjangkau juga memungkinkan diserapnya sumber-sumber penerimaan yang terdapat di daerah ke pemerintah federal dengan mudah. Tetapi akibatnya, perencanaan pembangunan ekonomi di setiap negara bagian menjadi sangat tergantung kepada pendanaan yang disediakan oleh pemerintah federal. Sistem perencanaan lima-tahunan yang dibuat oleh pemerintah federal menjadi semacam cetak-biru yang harus diikuti oleh setiap negara bagian.

Disparitas kemampuan fiskal negara bagian di Malaysia dipengaruhi oleh potensi sumberdaya alam yang tidak merata serta basis pajak di daerah yang terbatas. Pendapatan paling besar dari negara-negara bagian itu adalah dari sektor kehutanan, pertanahan dan pertambangan. Selain itu, ternyata tidak semua negara bagian punya sumberdaya yang memadai. Sebagai contoh, walaupun sejak tahun 1960-an Malaysia sangat terkenal sebagai produsen timah, tetapi potensi ini hanya terdapat di negara bagian Perak. Demikian pula, potensi minyak bumi hanya terdapat di Sarawak, Sabah, dan Terengganu. Sedangkan potensi kehutanan juga terbatas di Sarawak, Sabah, dan sebagian Pahang. Sebagian dari pajak hiburan atau pariwisata menjadi pendapatan potensial bagi negara bagian seperti Selangor, Johor dan Pulau Pinang, tetapi tentu jumlahnya sangat kecil di negara bagian seperti Kelantan dan Terengganu yang tidak banyak tempat-tempat hiburan karena dilarang oleh pemerintah negara bagian yang dipengaruhi oleh partai berbasis agama. Dalam pelaksanaan pemungutan pajak, sebenarnya banyak negara bagian yang juga tergantung kepada pegawai dari pemerintah federal. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karena sumber-sumber penerimaan yang terbatas, maka pendapatan negara bagian sebagian tergantung kepada pemerintah federal.

Untuk membiayai pembangunan di daerah atau di negara-negara bagian seluruh Malaysia, pemerintah federal menyediakan transfer dan sumber-sumber keuangan secara langsung. Tujuannya tentu adalah menutup celah fiskal yang dihadapi di masing-masing negara bagian dan sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya ketimpangan horisontal. Diantara pemerintah negara bagian memang terdapat perbedaan dalam hal kemampuan mengelola pajak dan sumber-sumber potensial bagi penerimaan. Lembaga yang bertanggungjawab untuk mengelola ini adalah Dana Cadangan Negara Bagian (State Reserve Fund) yang bertugas untuk menyeimbangan anggaran serta mendistribusikan dana berdasarkan sumber penerimaan, jumlah penduduk, PDRB, dan indikator-indikator sosial ekonomi lainnya.

Subsidi pemerintah federal dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) subsidi pembagian-pajak (tax-sharing grants), 2) subsidi umum (general-purpose grant), dan 3) subsidi khusus (specific-purpose grant). Termasuk di dalam subsidi pembagian pajak adalah 10 persen pajak ekspor atas timah, besi dan bahan-bahan tambang lain yang digali dari negara bagian tertentu. Subsidi umum terdiri dari bantuan modal (capitation grants), subsidi peningkatan pendapatan (growth revenue grants), subsidi Cadangan Negara Bagian, dan subsidi-subsidi yang lain. Sedangkan subsidi khusus meliputi subsidi jalan, subsidi pembangunan ekonomi, subsidi retribusi (service charge grants), dan subsidi penggantian biaya (cost reimbursement grants). Namun dari segi proporsinya, subsidi yang diberikan kepada negara bagian kebanyakan berbentuk subsidi jalan, bantuan modal, subsidi peningkatan pendapatan, dan subsidi Cadangan Negara Bagian. Untuk berbagai keperluan di negara bagian dan pemerintah lokal, subsidi inilah yang terus mengalir dari pemerintah federal. Pemerintah negara bagian tidak diperbolehkan untuk meminjam langsung dari donor di luar negeri, tetapi pinjaman kepada pemerintah negara federal diperbolehkan hingga prosentase yang tidak terbatas terhadap kebutuhan dana di daerah. Pada periode tahun 1990-1998, hampir semua negara bagian memiliki pinjaman kepada pemerintah federal.

Dalam hal kebijakan anggaran publik, Malaysia pada masa pemerintahan Abdullah Badawi tetap menganut sistem yang sangat tersentralisasi dengan lebih dari 90 persen anggaran dikelola oleh pemerintah federal. Kerangka kebijakan NDP (National Development Policy) yang merupakan kelanjutan dari kerangka NEP (National Economic Policy) dan penguasaan sektor publik yang semakin besar pada tahun 2000-an ternyata tidak menghasilkan perubahan berarti dalam hubungan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian di Malaysia. Dengan berbagai tuntutan demokratisasi dan desentralisasi di beberapa negara bagian seperti di Kelantan dan Pulau Pinang, kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah federal adalah dengan memberikan subsidi lebih banyak lagi yang juga berarti membuat sistem keuangan yang semakin sentralistis dan hanya ditentukan oleh pemerintah federal.

Akan tetapi, meskipun secara umum hubungan fiskal antar-jenjang pemerintahan di Malaysia bersifat sangat sentralistis, hasil dari penggunaan dana tersebut sangat mengesankan ditinjau dari berbagai indikator ekonomi. Melalui proyek-proyek pembangunan yang didanai oleh pemerintah federal, ekonomi di negara-negara bagian dapat tumbuh terus dan relatif tetap seimbang satu dengan yang lainnya. Kendatipun celah fiskal di masing-masing negara bagian berlain-lainan, kegiatan ekonomi di setiap negara bagian senantiasa tumbuh pada tingkat yang tidak terlalu timpang. Pada tahun 1997, misalnya, dari 13 negara bagian, ada 8 negara bagian yang tumbuh di atas rerata nasional. Sarawak bahkan bisa tumbuh sebesar 11,9 persen. Sementara itu Johor, Kedah, Melaka, Negeri Sembilan dan Terengganu tumbuh dengan angka di atas 9 persen sedangkan Perak dan Perlis tumbuh sekitar 8 persen. Hanya Kelantan, Pahang, Pulau Pinang, Sabah dan Selangor yang tumbuh di bawah rerata nasional, yaitu sebesar antara 5-8 persen.

Situasi politik di Malaysia yang relatif tetap stabil membuat banyak kebijakan pembangunan yang konsisten dengan peruntukan subsidi yang dapat diarahkan ke sektor-sektor yang produktif. Ini dapat dilihat dari berbagai indikator ekonomi makro maupun mikro, serta indikator pelayanan publik di Malaysia yang relatif terus meningkat jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Dari indikator PDB per kapita, misalnya, Malaysia kini sudah masuk sebagai negara berpendapatan menengah dengan rerata pendapatan rumah-tangga yang sudah lebih dari $US 4.000. Sementara itu dari segi indikator pelayanan publik yang utama, yaitu sektor pendidikan dan sektor kesehatan, berbagai indikator menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan.


Meskipun tanda-tanda perubahan dalam hubungan keuangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian masih belum jelas, tetapi perkembangan politik paling mutakhir di Malaysia menunjukkan bahwa ada gelombang perubahan yang akan terjadi secara nasional. Hasil pemilihan umum sela pada tanggal 8 Maret 2008 menunjukkan bahwa kekuasaan mayoritas Barisan Nasional yang sudah berkuasa selama lebih dari 50 tahun mendapat tantangan serius dari kalangan oposisi. Kalau selama ini Barisan Nasional (sebuah koalisi dengan pendukung utama partai UMNO, MIC dan MCA) selalu mendapatkan suara lebih dari dua pertiga suara, pada Pemilu ini hanya memperoleh 51% suara dan 63% kursi parlemen. Selama ini, kekuasaan partai oposisi hanya terdapat di Kelantan, sebuah negara bagian dengan mayoritas Islam dan relatif terbelakang secara ekonomi. Tetapi pada pemilu sela 2008 tersebut, negara bagian lain yang relatif lebih kaya seperti Pulau Pinang, Selangor, Perak dan Kedah sudah jatuh ke partai oposisi. Ini berarti bahwa lima negara bagian, termasuk Selangor yang begitu padat penduduknya, akan diperintah oleh perumus kebijakan dari partai oposisi.

Di masa mendatang, tuntutan rakyat di negara bagian yang menghendaki perubahan kerangka kebijakan NEP yang dipandang hanya menguntungkan rakyat Melayu tampaknya akan lebih besar. Kecuali itu, tuntutan demokratisasi yang memunculkan Anwar Ibrahim sebagai ikon baru politik dari kalangan oposisi juga akan bisa mengubah pola hubungan keuangan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian. Tentu masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi dari aspek politik nasional di Malaysia. Tetapi yang jelas ialah bahwa perubahan hubungan keuangan antar-jenjang pemerintahan yang lebih desentralistis baru akan terjadi apabila terdapat perubahan peta politik atau adanya komitmen politik baru dari pemerintah Malaysia di tingkat nasional.

KLASIFIKASI Anomalous trichromacy

Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa dan merupakan defisit penglihatan warna yang sering dijumpai.Anomalous trichromacy terdiri dari protanomaly (1% laki-laki dan 0.01% wanita), penderita kurang sensitive terhadap warna merah,deuteranomaly (lebih umum pada 6% laki-laki, 0.4% wanita) penderita lemah terhadap warna hijau, warna hijau tua diasumsikan sebagai warna hitam, dan tritanomaly (kejadiannya jarang pada laki-laki dan wanita). Padaanomalous trichromacy, penderitamemiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna tersebut.Pasien buta warna dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda daripada normal. Kelainan yang paling sering ditemukan adalah:
  • Trichromat anomaly, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue). Pigmen biru ini bergeser ke area hijau dari spektrum merah. Pasien mempunyai ketiga pigmen kerucut akan tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak hanya pada satu atau lebih pigmen kerucut. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop berbeda dibanding dengan orang normal.
  • Deutronomaly, disebabkan oleh kelainan bentuk middle-wavelenght (green) pigment dimana ditemukan cacat pada pigmen hijau sehingga diperlukan lebih banyak pigmen hijau.
  • Protanomalyadalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan terhadap long-wavelenght (red) pigment, sehingga menyebabkan rendahnya sensitifitas terhadap warna merah yang mengakibatkan penderita protanomaly tidak akan mempu membedakan warna merah dan melihat campuran warna merah yang dilihat oleh mata normal. Penderita juga akan mengalami penglihatan yang buram terhadap spektrum warna merah. Hal ini mengakibatkan mereka dapat salah membedakan warna merah dan hitam.

Dichromacy
Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau tidak berfungsi.Akibat dari disfungsi salah satu pigmen pada sel kerucut, seseorang yang menderita dichromacyakan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu.Dichromacy dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:
  • Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan oleh tidak adanya photoreceptor retina merah. Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada. Nuetral point berada pada panjang gelombang 492nm (titik dimana penderita tidak bisa membedakan warna ini dengan warna putih). Penderita hanya melihat satu warna yang mendekati warna kuning. Oranye yang merupakan gabungan warna primer merah dan kuning hanya terlihat kuning oleh penderita. Warna merah dibingungkan dengan warna hitam atau abu-abu tua. Bunga warna merah muda yang merupakan kombinasi warna merah dan biru, terlihat hanya berwarna biru oleh penderita, demikian halnya dengan warna sekunder lain seperti ungu yang merupakan gabungan warna primer merah dan biru, hanya terlihat biru oleh penderita dan lampu lalu lintas yang berwarna merah dilihat padam oleh penderita, dan warna biru-hijau terlihat abu-abu oleh penderita. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal dengan buta warna merah-hijau.
  • Deutranopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan tidak adanya photoreceptor retina hijau. Kekurangan sensitivitas sel kerucut terhadap gelombang medium (medium wavelength/M-cones) ini juga dikenal sebagi Daltonism. Kelainannya menyerupai pada protanopia. Neutal point berada pada 498nm, sehingga warna yang memiliki panjang gelombang besar, lebih sulit dibedakan dengan warnaputih. Warna hijau, kuning dan merah sulit dinilai karena dilihat sama menyerupai warna merah, warna hijau gelap dilihat hitam, sedangkan warna violet, ungu dan biru terlihat sama oleh penderita. Warna hijau terlihat abu-abu oleh penderita. Pada defek penglihatan warna ini, intensitas cahayanya tidak mengalami perubahan. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).
  • Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-wavelength cone. Seseorang yang menderita tritanopia akan kesulitan dalam membedakan warna biru dan kuning dari spektrum cahaya tampak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning dan merupakan tipe dichromacy yang sangat jarang dijumpai(kurang dari 1% laki-laki) (Shah et al, 2013).
Monochromacy
Monochromacy atau akromatopsia adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones. Pasien hanya mempunyai satu pigmen kerucut (monokromat rod atau batang).Pada monokromat kerucut, penderita hanya dapat membedakan warna dalam arti intensitasnya saja dan biasanya tajam penglihatannya 6/30. Pada orang dengan buta warna total atau akromatopsia akan terdapat keluhan silau dan nistagmus dan bersifat autosomal resesif. Terdapat dua bentuk monokromatisme, walaupun penderitanya tidak memiliki diskriminasi warna sama sekali dengan kata lain hanya mampu membedakan tingkat kecerahan, akantetapi adalah dua entitas yang berbeda, yaitu:
  • Rod monochromacy (Monokromatisme batang) atau disebut juga suatu akromatopsia di mana terdapat kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja, dengan kelainan refraksi tinggi. Pada pemeriksaan dapat dilihat adanya makula dengan pigmen abnormal.
  • Cone monochromacy(Monokromatisme kerucut), di mana terdapat hanya sedikit cacat, hal yang jarang, tajam penglihatan normal, tidak nistagmus.
PEMERIKSAAN
Tes buta warna adalah suatu tes yangdigunakan untuk mengetahui apakah seseorangmengalami buta warna atau tidak.Hasil dari tesbuta warna ada tiga macam yaitu buta warna total,buta warna sebagian (parsial) dan normal.Hasiltes buta warna sangat penting, terutama untukmelanjutkan pendidikan dan bekerja di bidang-bidangtertentu seperti teknik elektro, teknik informatika, desain danlain-lain.Salah satu metode tes buta warna yaitu uji Ishihara.Uji Ishihara merupakan uji untuk mengetahui adanya defek pengelihatan warna, didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu dengan berbagai ragam warna (Ilyas, 2008).Menurut Guyton (2007) Metode Ishihara adalah suatu metode yang dapat dipakai untuk menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna didasarkan pada penggunaan kartu bertitik-titik.Kartu ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacam-macam warna.

Metode Ishihara ini dikembangkan menjadi Tes Buta Warna Ishihara oleh Dr. Shinobu Ishihara.Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di Jepang dan terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang.Tes buta warna Ishihara terdiri darilembaran yang didalamnya terdapat titik-titikdengan berbagai warna dan ukuran.Titikberwarna tersebut disusun sehingga membentuklingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikianrupa sehingga orang buta warna tidak akanmelihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal (pseudo-isochromaticism).Dalam tes buta warna Ishihara inidigunakan 38 plate atau lembar gambar, dimana gambar-gambar tersebut memiliki urutan1 sampai 38.Plate 1-25 merupakan plate dengan gambar angka (numeral) yang sebaiknya dijawab dalam waktu tidak lebih dari 3 detik.Jika anak tidak mampu membaca angka, dapat digunakan plate 26-38, dimana anak diminta untuk menghubungkan garis yang harus diselesaikan dalam waktu 10 detik.











Buku Ishihara dapat mendiagnosa defek penglihatan warna dengan klasifikasi red-green deficiency, buta warna total, protanopia atau strong protanomaly, protanomaly, deuteranopia atau strong deuteranomaly, dan deuteranomaly. Kelainan tritanomaly tidak dapat dilihat disini. Tes Ishihara digunakan untuk mendiagnosis defek penglihatan warna kongenital, untuk mengetahui penyebab yang didapat (saraf, kelainan makula, trauma kranial) perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut (Vaughan, 2008).


REFRENSI
Agusta, S., Mulia, T. & Sidik, M., 2012. Instrumen Pengujian Buta Warna Otomatis. Jurnal Ilmiah Elite Elektro 3(1):15-22.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional.
Botts, P., 2010.Color Blindness.School of Earth and Environment.
Daniel, 2006.Color Blind Essentials.
Dargahi, H., Einollahi, N. & Dashti, N., 2009. Color Blindness Defect and Medical Laboratory Technologists: Unnoticed Problems and the Care for Screening.ActaMedicaIranica 48(3): 172-177.
Deeb, S.S., & Motulsky, A.G., 2011. Red-Green Color Vision Defects.
Gupta, A., Laxmi, G., Nittala, M.G. &Raman, R., 2011. Structural and Functional Correlates in Color Vision Deficiency. Eye (25): 909-917.
Gupta, M., Gupta, B.P., Chauhan, A & Bhardwaj, A., 2009. Ocular Morbidity Prevalence among School Children in Shimla, Himachal, North India. Indian J Ophthalmol 57(2): 133-138.
Guyton, A.C & Hall, J.E. 2007.Buku Ajar FisiologiKedokteran.

FOTOKIMIAWI PENGLIHATAN WARNA

FOTOKIMIAWI PENGLIHATAN WARNA



Penglihatan bergantung pada stimulasi fotoreseptor retina oleh cahaya. Pigmen-pigmen di berbagai benda secara selektif menyerap panjang gelombang tertentu cahaya yang datang dari sumber-sumber cahaya, dan panjang gelombang yang tidak diserap dipantulkan dari permukaan benda. Berkas-berkas cahaya yang dipantulkan inilah yang memungkinkan kita melihat benda tersebut. Suatu benda yang tampak biru menyerap panjang gelombang cahaya merah dan hijau yang lebih panjang dan memantulkan panjang gelombang biru yang lebih pendek, yang dapat diserap oleh fotopigmen di sel-sel kerucut biru mata, sehingga terjadi pengaktifan sel-sel tersebut.

Baik sel batang maupun kerucut mengandung bahan kimia yang akan terurai bila terpajan cahaya, dan dalam prosesnya, akan merangsang serabut-serabut saraf yang berasal dari mata. Bahan kimia peka cahaya di dalam sel batang disebut rodopsin; bahan kimia peka cahaya di dalam sel kerucut, disebut pigmen kerucut, atau pigmen warna, memiliki komposisi sedikit berbeda dari rodopsin. Perbedaannya hanya terletak pada bagian protein, atau opsin-yang disebut fotopsin dalam sel kerucut-sedikit berbeda dengan skotopsin dalam sel batang. Bagian retinal semua pigmen visual yang ada dalam sel kerucut sama persis dengan sel batang. Berdasarkan hal tersebut, pigmen peka terhadap warna dari sel kerucut merupakan kombinasi antara retinal dan fotopsin(Guyton, 2007).

Pada sel kerucut, hanya satu dari tiga jenis pigmen warna yang berbeda, sehingga menyebabkan sel kerucut mempunyai kepekaan yang selektif terhadap berbagai warna seperti warna biru, hijau, dan merah. Masing-masing pigmen warna ini disebut pigmen peka warna biru, pigmen peka warna hijau, dan pigmen peka warna merah. Sifat absorbsi dari pigmen yang terdapat di dalam ketiga macam kerucut itu menunjukkan bahwa puncak absorbsi adalah pada panjang gelombang cahaya, berturut-turut sebesar 445, 535, dan 570 nanometer. Panjang gelombang ini juga merupakan panjang gelombang untuk puncak sensitivitas cahaya untuk setiap tipe sel kerucut, yang dapat mulai digunakan untuk menjelaskan bagaimana retina dapat membedakan warna (Guyton, 2007).

Untuk melihat warna, manusia harus memiliki sedikitnya dua kelas spektrum berbeda dari sel kerucut. Pada mata manusia normal, ada tiga tipe sel kerucut dimana ketiganya merupakan tiga sistem cone-opsin. Tiga sistem cone-opsin tersebut adalah sel kerucut short-wavelength-sensitive (S), middle-wavelength-sensitive (M), dan long-wavelength-sensitive (L)(Gupta et al, 2011). Ketiga macam pigmen tersebut membuat kita dapat membedakan warna mulai dari ungu sampai merah. Untuk dapat melihat normal, ketiga pigmen sel kerucut tersebut harus bekerja dengan baik. Jika salah satu pigmen mengalami kelainan atau tidak ada, maka terjadi buta warna.

ETIOLOGI
Buta warna adalah kondisi yang seringkali diturunkan secara genetik, tetapi dapat juga didapat karena disebabkan oleh kerusakan pada mata, nervus, atau otak. Buta warna yang diturunkan secara genetik dibawa oleh kromosom X pada perempuan, dan diturunkan pada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal. Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu.

Buta warna karena yang diturunkan dibagi menjadi tiga: monokromasi (buta warna total), dikromasi (hanya dua sel kerucut yang berfungsi), dan anomalus trikromasi (tiga sel kerucut berfungsi, salah satunya kurang baik). Dari semua jenis buta warna, kasus yang paling umum adalah anomalus trikromasi, khususnya deutranomali, yang mencapai angka 5% dari pria. Sebenarnya, penyebab buta warna tidak hanya karena ada kelainan pada kromosom X, namun dapat mempunyai kaitan dengan 19 kromosom dan gen-gen lain yang berbeda. Beberapa penyakit yang diturunkan seperti distrofi sel kerucut dan akromatopsia juga dapat menyebabkan seseorang menjadi buta warna.

Gen buta warna terkait dengan dengan kromosom X (X-linked genes). Buta warna hampir tidak pernah terjadi pada perempuan karena setidaknya satu dari dua kromosom X akan hampir selalu memiliki gen normal untuk setiap jenis sel kerucut (Shah et al, 2013). Karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, gen yang hilang dapat menyebabkan buta warna. Karena kromosom X pada laki-laki selalu diturunkan dari ibu, dan tidak pernah dari ayahnya, buta warna diturunkan dari ibu ke anak laki-lakinya, dan ibu tersebut dikatakan sebagai carrier buta warna; keadaan tersebut terjadi pada sekitar 8% dari seluruh perempuan (Guyton, 2007). Menurut salah satu riset, 5-8% pria dan 0,5% wanita dilahirkan buta warna dan 99% penderita buta warna termasuk dikromasi, protanopia, dan deuteranopia.

Dua gen yang berhubungan dengan munculnya buta warna adalah OPN1LW (Opsin 1 Long Wave), yang menyandi pigmen merah dan OPN1MW (Opsin 1 Middle Wave)yang menyandi pigmen hijau (Deeb, S.S., & Motulsky, A.G., 2011).
Sementara, buta warna yang didapat, dapat terjadi pada :
  1. Trauma. Kecelakaan atau pukulan yang menyebabkan kerusakan pada mata dapat menyebabkan buta warna.
  2. Obat. Beberapa antibiotik (obat-obat anti TBC),barbiturat, obat-obat hipertensi.
  3. Toksin industri. Bahan-bahan kimia dengan kadar tinggi dapat menyebabkan buta warna, seperti karbon monoksida, karbon disulfida.
  4. Umur. Pada umur di atas 60 tahun dapat terjadi perubahan dalam kapasitas pengelihatan warna.
Buta warna yang di dapat juga ditemukan pada penyakit makula, saraf optik, sedang pada kelainan retina ditemukan cacat relative penglihatan warna biru dan kuning sedang kelainan saraf optik memberikan kelainan melihat warna merah dan hijau (Ilyas, 2008). Buta warna yang didapat bisa karena pengaruh dari kerusakan daerah otak bagian atas (cranial) karena daerah otak bagian atas memiliki peran dalam identifikasi warna yang meliputi “parvocellular pathway” dari nuklei lateral geniculate dari talamus, visual area V4 dari korteks penglihatan. Buta warna yang didapat tidak sama dengan buta warna karena pengaruh genetik, misalnya, sangat mungkin mengalami buta warna pada satu porsi dari daerah penglihatan warna namun daerah lainnya berfungsi normal. Penurunan penglihatan warna merupakan indikator sensitif untuk beberapa bentuk dari kelainan makula yang didapat atau penyakit saraf, seperti pada optik neuritis atau tekanan saraf optik oleh karena adanya massa, kelainan penglihatan warna lebih awal muncul dibanding penurunan tajam penglihatan.

BUTA WARNA

PENDAHULUAN
Salah satu gangguan yang dapat terjadi pada mata adalah buta warna. Buta warna pada manuasia adalah ketidakmampuan untuk membedakan persepsi beberapa warna atau semua warna, dimana orang normal mampu membedakannya (Daniel,2006). Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna sesungguhnya.

Buta warna bisa disebabkan karena beberapa faktor genetis maupun faktor lain seperti karena Shaken Baby Syndrome, cedera atau trauma pada otak dan retina, maupun pengaruh sinar ultra violet (Ilyas, 2008). Buta warna yang diturunkan secara genetic dibawa oleh kromosom X pada perempuan, dan diturunkan pada anak-anaknya.Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.Sementara buta warna yang didapat, biasanya terjadi ketika anak mengalami kerusakan retina atau trauma pada otak yang menyebabkan pembengkakan di lobus occipital.Kerusakan akibat paparan sinar ultra violet karena tidak menggunakan pelindung mata secara benar juga menyebabkan buta warna.Selain itu konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka waktu yang lama juga bisa menyebabkan buta warna.

DEFINISI
Buta warna pada manusia adalah ketidakmampuan untuk membedakan persepsi beberapa warna atau semua warna, dimana orang normal mampu membedakannya (Daniel, 2006). Buta warna juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya.

Buta warnamerupakan penyakit keturunan yang terekspresipada para pria, tetapi tidak pada wanita.Wanita secara genetis sebagai carrier.Istilah buta warnaatau color blind sebetulnya salah pengertiandikarenakan seorang penderita butawarna tidak buta terhadap seluruh warna, akanlebih tepat bila disebut gejala defisiensi dayamelihat warna tertentu saja atau color vision deficiency (CVD).

ANATOMI RETINA
Retina adalah lembaran jaringan saraf yang tipis dan semi transparan yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata (Vaughan, 2008). Retina merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya, yang mengandung sel-sel kerucut, yang berfungsi untuk penglihatan warna, dan sel-sel batang yang terutama berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih dan penglihatan dalam gelap (Guyton, 2007).

Retina membentang ke anterior sampai sejauh korpus siliaris dan berakhir pada ora serrata dengan tepi yang tidak rata. Pada orang dewasa, ora serrata berada sekitar 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan 5,7 mm pada sisi nasal. Permukaan luar retina sensoris bertumpuk dengan lapisan epitel berpigmen retina sehingga juga berhubungan dengan membran Bruch, koroid, dan sklera (Vaughan, 2008).

Retina terdiri atas dua bagian. Bagian posterior bersifat fotosensitif; bagian anterior, yang tidak fotosensitif, menyusun lapisan dalam badan siliar dan bagian posterior iris (Junqueira, 2007).
Lapisan-lapisan retina, mulai dari sisi dalamnya, adalah sebagai berikut:
  1. Membran limitans interna
  2. Lapisan serat saraf, yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju nervus optikus
  3. Lapisan sel ganglion
  4. Lapisan pleksiform dalam, yang mengandung sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar
  5. Lapisan inti dalam badan-badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal
  6. Lapisan pleksiform luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor
  7. Lapisan inti luar sel fotoreseptor
  8. Membran limitans eksterna
  9. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar sel batang dan kerucut
  10. Epitel pigmen retina. Lapisan dalam membran Bruch sebenarnya merupakan membran basalis epitel pigmen retina (Vaughan, 2008).
Retina mempunyai tebal 0,1mm pada ora serrata dan 0,56mm pada kutub posterior. Di tengah-tengah retina posterior terdapat makula berdiameter 5,5-6mm, yang secara klinis dinyatakan sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang-cabang pembuluh darah retina temporal. Daerah ini diterapkan oleh ahli anatomi sebagai area sentralis, yang secara histologis merupakan bagian retina yang ketebalan lapisan sel ganglionnya lebih dari satu lapis. Makula lutea secara anatomis didefinisikan sebagai daerah berdiameter 3 mm yang mengandung pigmen luteal kuning-xantofil (Vaughan, 2008). Bagian tengah sebesar 1,5 mm dari makula ditempati oleh fovea (atau fovea sentralis), yang berkomposisi fotoreseptor, dikhususkan untuk ketajaman penglihatan yang tinggi dan penglihatan warna. Di dalam fovea terdapat area tanpa pembuluh darah yang dikenal sebagai foveal avascular zone (FAZ). Secara histologis, fovea ditandai dengan menipisnya lapisan inti luar dan tidak adanya lapisan-lapisan parenkim lain karena akson-akson sel fotoreseptor (lapisan serabut Henle) berjalan oblik dan lapisan-lapisan retina yang lebih dekat dengan permukaan dalam retina lepas secara sentrifugal. Di bagian tengah fovea, 4 mm lateral diskus optikus, terdapat foveola dengan diameter 0,25 mm dan merupakan bagian paling tipis dari retina, dan hanya mengandung fotoreseptor sel kerucut (Vaughan, 2008).

Sel batang dan kerucut, yang diberi nama sesuai bentuknya, adalah neuron yang terpolarisasi; pada satu kutub terdapat satu dendrit fotosensitif, dan pada kutub yang lain terdapat sinaps dengan sel lapisan bipolar. Sel batang dan kerucut dapat dibagi menjadi segmen luar dan segmen dalam, daerah inti, dan daerah sinaps (Junqueira, 2007). Fotokimiawi yang peka cahaya ditemukan pada segmen luar. Dalam sel batang terdapat rodopsin, dan dalam sel kerucut terdapat satu dari ketiga fotokimiawi “warna”, biasanya disebut pigmen warna sederhana, yang fungsinya hampir sama persis dengan rodopsin kecuali adanya perbedaan dalam kepekaan terhadap spektrum cahaya (Guyton, 2007).

Retina menerima darah dari dua sumber: koriokapilaris yang berada tepat di luar membran Bruch, yang mendarahi sepertiga luar retina, termasuk lapisan pleksiform luar dan lapisan inti luar, fotoreseptor, dan lapisan epitel pigmen retina; serta cabang-cabang dari arteria retinasentralis, yang mendarahi dua pertiga dalam retina. Fovea seluruhnya didarahi oleh koriokapilaris dan rentan terhadap kerusakan yang tak dapat diperbaiki bila retina mengalami ablasi. Pembuluh darah retina mempunyai lapisan endotel yang tidak berlubang, yang membentuk sawar darah-retina. Lapisan endotel pembuluh koroid berlubang-lubang. Sawar darah-retina sebelah luar terletak setinggi lapisan epitel pigmen retina (Vaughan, 2008).



Tuesday, January 26, 2016

Percakapan 2 orang dalam bahasa inggris

WRITING A PROFILE

Jazil : Vi, let us go to Eva’s house after school

Evi : I want to go to Internet cafeJazil : Why do you go there? It is a waste of money.Evi : I have an assignment to search for narrative text in internetJazil : Is English assignment, is’n it?Evi : YesJazil : When will it be collected?Evi : Tomorrow, therefore I have to go to internet cafe todayJazil : I think my class also has this assignment as well; might you search it for me?Evi : Why don’t we go together to internet cafe?Jazil : I can’t, I have promised to Eva. Would you mind searching it for me?Evi : Ok, but you should paid for the printing cost.Jazil : all right, Rp. 2.000,- is enough, right?Evi : Yeah, it is more than enoughJazil : Thank you, my lovely friend Evi, I have to go to Eva’s house right nowEvi : OkJazil : Don’t forget to search for my assignment. See you tomor