Thursday, June 27, 2013

Sektor Pertanian di Indonesia

Sektor Pertanian di Indonesia 
  • Selama periode 1995-1997è PDB sektor pertanian (peternakan, kehutanan & perikanan) menurun & sektor lain spt menufaktur meningkat. 
  • Sebelum krisis moneter, laju pertumbuhan output sektor pertanian < ouput sektor non pertanian 
  • 1999 semua sektor turun kecuali listrik, air dan gas. 
Rendahnya pertumbuhan output pertanian disebabkan: 
  • Iklimè kemarau jangka panjang berakibat volume dan daya saing turun 
  • Lahanè lahan garapan petani semakin kecil 
  • Kualitas SDMè rendah 
  • Penggunaan Teknologièrendah 
Sistem perdagangan dunia pasca putaran Uruguay (WTO/GATT) ditandatangani oleh 125 negara anggota GATT telah menimbulkan sikap optimisme & pesimisme Negara LDC’s: 
  • Optimisè Persetujuan perdagangan multilateral WTO menjanjikan berlangsungnya perdagangan bebas didunia terbebas dari hambatan tariff & non tariff 
  • Pesimisè Semua negara mempunyai kekuatan ekonomi yg berbeda. DC’s mempunyai kekuatan > LDC’s 
Perjanjain tsb merugikan bagi LDC’s, karena produksi dan perdagangan komoditi pertanian, industri & jasa di LDC’s masih menjadi masalah besar & belum efisien sbg akibat dari rendahnya teknologi & SDM, shg produk dri DC’s akan membanjiri LDC’s. 

Butir penting dalam perjanjian untuk pertanian: 
  • Negara dg pasar pertanian tertutup harus mengimpor minimal 3 % dari kebutuhan konsumsi domestik dan naik secara bertahap menjadi 5% dlm jk waktu 6 tahun berikutnya 
  • Trade Distorting Support untuk petani harus dikurangi sebanyak 20% untuk DC’s dan 13,3 % untuk LDC’s selama 6 tahun 
  • Nilai subsidi ekspor langsung produk pertanian harus diturunkan sebesar 36% selama 6 tahun & volumenya dikurangi 12%. 
  • Reformasi bidang pertanian dlm perjanjian ini tdk berlaku utk negara miskin 
Temuan hasil studi dampak perjanjian GATT: 
  • Skertariat GATT (Sazanami, 1995)è Perjanjian tsb berdampak + yakni peningkatan pendapatan per tahun è Eropa Barat US $ 164 Milyar, USA US$ 122 Milyar, LDC’s & Eropa Timur US $ 116 Milyar. Pengurangan subsidi ekspor sebesar 36 % dan penurunan subsidi sector pertanian akan meningkatkan pendapatan sector pertanian Negara Eropa US $ 15 milyar & LDC’s US $ 14 Milyar 
  • Goldin, dkk (1993)è Sampai th 2002, sesudah terjadi penurunan tariff & subsidi 30% manfaat ekonomi rata-rata pertahun oleh anggota GATT sebesar US $ 230 Milyar (US $ 141,8 Milyar / 67%0 dinikmati oleh DC’s dan Indonesia rugi US $ 1,9 Milyar pertahaun 
  • Satriawan (1997)è Sektor pertanian Indonesia rugi besar dlm bentuk penurunan produksi komoditi pertanian sebesar 332,83% dengan penurunan beras sebesar 29,70% dibandingkan dg Negara ASIAN 
  • Feridhanusetyawan, dkk (2000)è Global Trade Analysis Project mengenai 3 skenario perdagangan bebas yakni Putaran Uruguay, AFTA & APEC. Ide dasarnya: apa yang terjadi jika 3 skenario dipenuhi (kesepakatan ditaati) dan apa yang terjadi jika produk pertanian diikutsertakan? Perubahan yang diterapkan dalam model sesuai kesepakatan putaran Uruguay adalah: 
a. Pengurangan pajak domestic & subsidi sector pertanian sebesar 20% di DC’s dan 13 % di LDC’s 
b. Penurunan pajak/subsidi ekspor sector pertanian 36% di DC’s & 24% di LDC’s 
c. Pengurangan border tariff untuk komoditi pertanian & non pertanian 

Liberalisasi perdagangan berdampak negative bagi Indonesia thd produksi padi & non gandum. Untuk AFTA & APEC, liberalisasi perdagangan pertanian menguntungkan Indonesia dg meningkatnya produksi jenis gandum lainnya (terigu, jagung & kedelai). AFTAèIndonesia menjadi produsen utama pertanian di ASEANdan output pertanian naik lebih dari 31%. Ekspor pertanian naik 40%. 

3. Nilai Tukar Petani (NTP) 
Nilai tukarè nilai tukar suatu barang dengan barang lainnya. Jika harga produk A Rp 10 dan produk B Rp 20, maka nilai tukar produk A thd B=(PA/PB)x100% =1/2. Hal ini berarti 1 produk A ditukar dengan ½ produk B. Dengan menukar ½ unit B dapat 1 unit A. Biaya opportunitasnya adalah mengrobankan 1 unit A utk membuat ½ unit B. 

Dasar Tukar (DT): 
  • DT dalam negeriè pertukaran 2 barang yang berbeda di dalam negeri dg mata uang nasional 
  • DT internasional / Terms Of Tradeè pertukaran 2 barang yang berbeda di dalam negeri dg mata uang internasional 
Nilai Tukar Petaniè Selisih harga output pertanian dg harga inputnya (rasio indeks harga yang diterima petani dg indeks harga yang dibayar). 

Semakin tinggi NTPè semakin baik. 
NTP setiap wilayah berbeda dan ini tergantung: 
  • Inflasi setiap wilayah 
  • Sistem distribusi input pertanian 
  • Perbedaan ekuilibrium pasar komoditi pertanian setiap wilayah (D=S) D>Sè harga naik & D
Pekembangan NTP tsb menunjukkan pertani di JABAR & JATENG rugi dan di Yogja & JATIM untung. Hal ini dsebabkan oleh byk factor termasuk system distribusi pupuk di Yogya & JATIM lebih baik dari JABAR & JATENG. 

NTP provinsi luar jawa sbb: 

4. Investasi di Sektor Pertanian 
Investasi di sector pertanian tergantung : 
  • Laju pertumbuhan output 
  • Tingkat daya saing global komoditi pertanian 
Investasi: 
  • Langsungè Membeli mesin 
  • Tdk Langsungè Penelitian & Pengembangan 
Penurunan ini disebabkan ROI sector pertanian +/- 15 %,shg tdk menarik. 

5. Keterkaitan Pertanian dg Industri Manufaktur 
Salah satu penyebab krisis ekonomiè kesalahan industrialisasi yg tidak berbasis pertanian. Hal ini terlihat bahwa laju pertumbuhan sector pertanian (+) walaupu kecil, sedangkan industri manufaktur (-). Jepang, Taiwan & Eropa dlm memajukan industri manufaktur diawali dg revolusi sector pertanian. 

Alasan sector pertanian harus kuat dlm proses industrialisasi: 
  • Sektor pertanian kuatè pangan terjaminè tdk ada laparèkondisi sospol stabil 
  • Sudut Permintaanè Sektor pertanian kuatè pendapatan riil perkapita naikè permintaan oleh petani thd produk industri manufaktur naik berarti industri manufaktur berkembang & output industri menjadi input sektor pertanian 
  • Sudut Penawaranè permintaan produk pertanian sbg bahan baku oleh industri manufaktur. 
  • Kelebihan output siktor pertanian digunakan sbg sb investasi sektor industri manufaktur spt industri kecil dipedesaan. 
Kenyataan di Indonesia keterkaitan produksi sektor pertanian dam industri manufaktur sangat lemah dan kedua sektor tersebut sangat bergantung kepada barang impor. 

Ditulis Oleh : Efendi Pakpahan // 6:43 AM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment