Thursday, June 27, 2013

Defenisi Kredibilitas Komunikator

Kredibilitas Komunikator  : Seseorang mau menerima pesan-pesan komunikasi dari komunikator adalah karena faktor kredibilitas komunikatornya. Menurut Onong Uchjana Effendy kredibilitas adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang komunikator, yakni apa yang dinyatakannya, baik secara lisan maupun tulisan oleh komunikan dianggap benar dan memang benar adanya. (Effendy, 1989:79) 

Sedangkan menurut Jalaluddin Rakhmat kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung 2 hal yaitu (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikate, jadi tidak inheren dalam diri komunikator ; (2) kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen-komponen kredibilitas. (Rakhmat, 1994:257) 

Komponen kredibilitas yang paling penting adalah keahlian dan kepercayaan. Keahlian adalah penilaian komunikan mengenai kemampuan, keceradasan, pengalaman seorang komunikator. Komunikator yang dianggap mempunyai keahlian yang tinggi biasanya akan lebih di hargai. 

Kepercayaan adalah kesan komunikan tentang watak komunikator. Komunikan biasanya akan menilai apakah komunikator itu mempunyai sifat jujur, tulus, sopan dan etis. (Rakhmat, 1994 : 260) 

Seseorang disebut komunikator jika ia menyampaikan sesuatu kepada rang lain. Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pikirannya atau perasannya kepada orang lain. (Effendy, 1993 :14) 

Seorang komunikator harus tetap memperhatikan sikapnya di depan komunikannya. Hal ini bertujuan agar pesab yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh komunikan. Untuk menciptakan komunikasi yang baik dan tepat maka komunikator harus memperhatikan pesan yang disampaikan. Pesan itu harus disampaikan dengan sopan, harus di perhitungkan kadar kepribadiannya, kebiasaan, pola hidup nilai-nilai komunikan. Nilai etis etis sangat menentukan sekali bagaimana orang bisa bersikap terbuka. (Siahaan, 1991 :64) 

Komunikator harus memperhatikan perilaku ketika menyampaikan pesan. Komunikan akan melihat terlebih dahulu siapa yang menyampaikan pesan kepada dirinya. Jika komunikan telah memandang negatif kepada komunikatornya itu maka komunikan tidak akan mempercayainya. 

Kredibilitas sangat penting untuk menentukan berhasil tidaknya suatu pesan yang disampaikan, penilaian tersebut tergantung kepada persepsi komunikan terhadap komunikatornya. Namun pihak komunikatorpun tentu akan berusaha agar dirinya dinilai baik sehingga komunikan akan dapat mempercayainya. Komunikator harus terus melatih diri untuk berbicara kepada komunikan sehingga jika sering melakukannya akan timbul kepercayaan diri pada diri komunikator . Untuk meningkatkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu. Percaya diri adalah faktor yang menentukan ketakutan orang untuk berkomunikasi. (Rakhmat, 1994 :109) 

Jika komunikator sudah tidak memiliki kepercayaan diri untuk berbicara di depan komunikan maka nilai kredibilitas dia rendah. Apa yang disampaikan tidak akan di dengar oleh komunikan. Komunikator akan memperlihatkan ketakutannya dalam berkomunikasi. Bicaranya menjadi tidak jelas dan tidak bersemangat karena ketakutannya itu. 

Untuk itu perlu dibiasakan tampil di depan khalayak agar terbiasa berbicara kepada komunikannya. Jika sudah terbiasa maka pesan yang disampaikan akan disampaikan dengan situasi yang menyenangkan bagi komunikan. Dengan seringnya tampil maka pengalaman dari komunikator akan bertambah dan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. 

Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak hanya datang lewat proses belajar normal tetapi pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah dihadapi. (Rakhmat, 1994 : 89) 

Untuk dapat dipercaya oleh komunikan, seorang komunikator harus memiliki kesamaan dengan komunikannya. Kesamaan antara komunikator dengan komunikannya ini untuk memudahkan terjadinya perubahan pendapat, hal ini di maksudkan sebagai strategi dari komunikator untuk mempengaruhi orang lain. Komunikator yang ingin mempengaruhi orang lain sebaiknya memulai dengan menegaskan kesamaan antara dirinya dengan komunikan. 

Menurut Wilbur Schramm yang dikutip Onong Uchjana Effendy (2000 : 30-31) menyebutkan bahwa field of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlansung lancar. Sebaliknya, jikalau pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain; dengan lain perkataan situasi menjadi tidak komunikatif; atau dengan rumusan lain terjadi misscommunicatio. 

Komunikator yang memiliki kesamaan dengan komunikan cenderung berkomunikasi dengan efektif karena ada ketertarikan komunikan kepada komunikatornya disebabkan adanya kesamaan itu. Jika komunikator dan komunikan memiliki kesamaan persepsi mengenai sikap dan kepercayaan terhadap suatu persoalan maka akan lebih mudah untuk memecahkannya karena mempunyai keinginan dan harapan yang sama pula dalam memandang persoalan itu. 

Komunikator yang memiliki kredibilitas yang tinggi selalu memperhatikan pesan yang akan disampaikannya dan selalu berubah dalam menyampaikan pesannya karena senantiasa di sesuaikan dengan sifat dan kedudukan komunikannya. Apabila komunikasi yang dijalankan komunikator telah berjalan dengan efektif, maka pesan yang disampaikan komunikator akan menimbulkan perubahan sikap dan perilaku dalam diri komunikan. 

Berdasarkan uraian diatas maka disimpilakn bahwa komponen kredibilitas yang paling penting adalah keahlian dan kepercayaan. Seorang komunikator harus bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan komunikan. Seorang komunikator yang sukses dalam menyampaikan pesannya yaitu apabila komunikator tersebut mampu menyampaikan pesan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan komunikannya. Dengan demikian komunikasi yang dilakukannya berjalan dengan efektif. 

Dalam kaitannya dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, seorang komunikator harus mempunyai kredibilitas yang tinggi, dalam hal ini adalah Humas dan orang-orang PT.PLN (Persero) DJBB yang ahli dan memiliki kompetensi di bidang kelistrikan agar para pelanggan dapat percaya dan dapat mengikuti apa yang dibicarakan pada acara siaran dialog interaktif. 

Pesan dalam Komunikasi Massa 
Pesan menurut A.W Widjaja mengemukakan bahwa pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator, pesan itu mempunyai inti pesan atau tema yang sebenarnya menjadi pengarah didalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. (Widjaja, 1986:31) 

Pesan dapat secara panjang dan lebar mengupas berbagai segi namun inti pesan dari komunikasi selalu mengarah pada tujuan akhir dari komunikasi. Penyampaian pesan melalui lisan, face to face, langsung, menggunakan media dan saluran. Bentuk pesan ada yang informatif, persuasif, koersif. Pesan yang mengena harus memenuhi syarat yaitu : umum, jelas dan gamblang, bahasa yang jelas, positif, seimbang, penyesuaian dengan keinginan komunikan. Hambatan-hambatan pesan terdiri dari hambatan bahasa dan teknis. 

Menurut Toto Tasmara (1997:18) pesan-pesan akan sangat dipengaruhi oleh : 
1. Kemampuan menerima dari komunikan 
2. Proses pengaruh-mempengaruhi, bertambah intensif suatu interaksi sosial, bertambah kaya pula 
3. Daya tanggap (interpretasi) dari komunikan dalam menerima suatu pesan komunikasi sangat ditentukan 
   oleh situasi dirinya serta keterikatannya dengan norma-norma dimana dia hidup sebagai anggota kelompok 
   tertentu. 
4. Pesan suatu komunikasi dipengaruhi juga oleh faktor sense of selectivity dari komunikan, yaitu sejauh 
    manakah pesan tersebut menguntungkan atau merugikan bagi kepentingan dirinya. 

Menurut Wilbur Schramm yang dikutip Onong Uchjana Effendy (2000 : 41-41) menampilkan apa yang ia sebut the condition of success in communication, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki : 
  1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan 
  2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti. 
  3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut 
  4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. 
Minat Pelanggan 
Menurut Lew Hann seperti yang dikutip oleh Onong “sukses yang besar yang diperoleh suatu perusahaan ialah mendapatkan pelanggan, bukan penjualannya itu sendiri”. Setiap barang dapat saja dijual untuk satu kali kepada seorang pembeli, akan tetapi sebuah perusahaan dikatakan sukses kalau bisa menngkatkan jumlah pelanggannya yang membeli berulang kali( Effendy, 1993:150) . 

Pelanggan merupakan orang yang menerima hasil pekerjaan seseorang atau suatu organisasi yang dapat menentukan kualitasnya seperti apa dan hanya mereka yang dapat menyampaikan apa dan bagaimana kebutuhan mereka.(Tjiptono dan Anastasia, 1998:105). 

Sedangkan menurut Deming dalam buku Fandy Tjiptono menyatakan bahwa pelanggan adalah pemakai akhir dari suatu produk dan pembeli dari produk yang dihasilkan pemasok. (Tjiptono,1998:111) 

Minat adalah kelanjutan dari perhatian yang merupakan titik tolak bagi timbulnya hasrat (desire) untuk melakukan suatu kegiatan yang diharapkan komunikator. (Effendy, 1993:90) 


R.A Santoso Sastro Poetro (1990:37) mengemukakan bahwa: 
  • Timbulnya minat : minat dapat dibagi ke dalam 3 unsur 
  • Kemudian adanya perhatian, yang berarti bahwa komunikasi dalam benaknya atau dalam tingkah lakunya mencari keterangan tentang pesan yang diterimanya itu karena menarik 
  • Selanjutnya pada komunikan akan timbul keinginan, artinya ia menginginkan pesan itu bermamfaat baginya dan dimilikinya 
  • Kegiatan terdahulu kemudian disusul dengan pertimbangan mengenai mamfaat tidaknya bilamana ia menerima pesan tersebut dan memaksanya. 
Minat timbul karena adanya Attention (Perhatian), Interest (Ketertarikan), dan akhirnya Desire (Keinginan) yang kesemuanya itu termasuk dalam komponen kognitif serta konatif. Tahap-tahap pada fasse AID ini merupakan fase psikologik komunikan. Barulah setelah fase psikologik terlampaui akhirnya komunikator dapat mengarahkan tindakan komunikan pada tujuan yang diinginkan (Susanto,1989:215) 

Perhatian dalam sebuah penyajian suatu acara merupakan hal yang pertama yang dilakukan oleh para pendengar, untuk itu diperlukan daya tarik penyajian acara tersebut. 

Setelah perhatian berhasil di dapat, persoalan yang dihadapi adalah agar mereka tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh. Untuk itu mereka harus dirangsang agar mau mengikuti acara tersebut 

Jika pendengar sudah tertarik, maka proses selanjutnya adalah menggerakkan minat orang untuk melakukan sesuatu. Dengan melalui proses-proses tadi, maka sampai disini minat sudah mulai terbentuk pada diri komunikan. Setelah komunikan mulai goyah dan emosinya mulai tersentuh, dan mereka akan mengambil keputusan baru akhirnya sesegera mungkin melakukan tindakan.

Ditulis Oleh : Efendi Pakpahan // 11:36 PM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment