Thursday, August 1, 2013

PRINSIP PENGOBATAN KARSINOMA NASOFARING

PRINSIP PENGOBATAN KARSINOMA NASOFARING
Prinsipnya pengobatan untuk karsinoma nasofaring meliputi terapi sbb :7,8
  1. Radioterapi
  2. Kemoterapi
  3. Kombinasi
  4. Operasi
  5. Imunoterapi
  6. Terapi paliatif

Pemilihan Terapi Kanker
Memilih obat kanker tidaklah mudah, banyak faktor yang perlu diperhatikan misalnya :9
-          Jenis kanker
-          Kemosensitivitas dan radiosensitivitas kanker
-          Imunitas Tubuh dan kemampuan pasien untuk menerima terapi yang kita berikan.
-          Efek samping terapi yang kita berikan


Jenis Kanker
Untuk keperluan pemberian kemoterapi , kanker dibagi menjadi 2 jenis yaitu :9
  1. Kanker Hemopoitik dan limfopoitik.
Kanker hemopoitik dan limfopoitik umumnya merupakan kanker sistemik. Termasuk dalam jenis kanker ini adalah kanker darah (leukemia), limfoma maligna dan sumsum tulang (myeloma). Terapi utama kenker hematologi adalah kemoterapi, sedangkan operasi dan radioterapi sebagai adjuvan.
  1. Kanker padat (solid).
Kanker padat bisa  lokal, bisa menyebar ke regional dan atau sistemik ke organ-organ lain. Dalam kanker jenis ini termasuk kanker diluar hematologi. Terapi utama kanker ini adalah operasi dan atau radioterapi, sedangkan kemoterapi baru diberikan pada stadium lanjut sebagai adjuvan.

Sensitivitas Kanker
            Sensitivitas tumor terhadap obat anti-kanker tidaklah sama, sehingga terbagi menjadi 3 macam : 9
  1. Sensitif
Kemosensitif :
-          leukemia
-          limfoma maligna
-          myeloma
-          choriocharsinoma
-          kanker testis
Radiosensitif :
Tumor yang dapat dihancurkan dengan dosis 3500-6000 rads dalam 3-4 minggu
-          Lymphoma maligna
-          Myeloma
-          Retinoblastoma
-          Seminoma
-          Basalioma
-          Kanker laring T1
  1. Responsif
Kemoresponsif :
-          Tumor yang kecil
-          Tumor yang pertumbuhannya cepat
-          Tumor yang deferensiasi selnya jelek
Radioresponsif
-          Kanker yang ukurannya sedang, T2-T3 dan dapat dihancurkan dengan dosis 6000-8000 rads dalam 3-4 minggu
  1. Resisten
Kemoresisten :
-          Tumor besar
-          Kanker yang pertumbuhannya pelan
-          Kanker yang diferensiasi selnya baik
Contoh : kanker otak, fibrosarkoma, melanoma maligna
            Radioresisten
Tumor yang baru bisa dihancurkan dengan dosis lebih dari 8000 rads. Contoh : Melanoma maligna, adenokarsinoma, kanker otak, sarkoma jaringan lunak.
Radiosensitivitas tumor tergantung dari banyak faktor, antara lain :
a.       Tipe histologi tumor
b.      Derajat diferensiasi sel
c.       Besar tumor
d.      Vaskularisasi Tumor
e.       Lokasi topografi tumor
Beberapa jenis obat dan keadaan yang dapat menambah sensitifitas radioterapi : Oksigenasi, Hipertermi, Levamisol, beberapa sitostatika.9
            Sensitifitas kanker terhadap kemoterapi biasanya ada sejak awal mulanya dan dapat pula timbul dalam perjalanan pengobatan kanker.

Resistensi Terhadap Kemoterapi
Resistensi terhadap kemoterapi dapat terjadi karena farmakokinetika obat itu seperti : 9
a. Perubahan absorbsi
-          Variabilitas absorbsi obat di gastrointestinal
-          Adanya penyakit gastointestinal
-          Tidak makan obat seperti seharusnya (non compliance)
-          Formulasi obat yang tidak cocok
b. Perubahan distribusi
-          Perubahan ikatan obat dengan protein serum
-          Perubahan distribusi karena obat lain yang mengikat protein serum
c. Perubahan metabolisme
-          Perubahan enzim yang mengadakan detoksifikasi
-          Penyakit hati
-          Ada obat lain yang ikut serta
-          Pengurangan konjugasi obat karena usia
d. Pengurangan ekskresi
-          Penyakit hati
-          Penyakit ginjal

DAFTAR PUSTAKA
1.      Pignon JP,  Bourhis J,  Domenge C. Chemotherapy added to locoregional  treatment for head and neck squamous-cell carcinoma, The Lancet  ,  2000; Vol 355: 949-55
2.      Chao SS. Modalities of surveillance in treated nasopharyngeal cancer; Otolaryngol Head Neck Surg 2003; 129 :61-4
3.      Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher, Binarupa       Aksara, Edisi 13, Staf Ahli Bagian THT RSCM-FKUI, Indonesia 1994 : 839-54
4.      Mulyarjo. Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring, Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan III Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok- Kepala     Leher, SMF Ilmu Penyakit THT FK Unair/ RSUD dr. Soetomo, Surabaya  2002: 38-47
5.      Lin HS, Fee WE. Malignant Nasopharygeal Tumors. 2003
6.      Cody DT. Kern EB. Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan; EGC, Jakarta 1993: 371-2
7.      Vijayakumar S,  Hellman S;Advances in radiation oncology ; Lancet 1997: 349 (suppl  II): 1-3
8.      Suwitodiharjo S. Radioterapi pada Tumor Ganas Kepala dan Leher      (Squamous Cell Ca ), Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan III Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher, SMF Ilmu Penyakit THT FK Unair/ RSUD dr. Soetomo, Surabaya   2002: 101-7
9.      Sukardja IGD. Onkologi Klinik , Edisi 2, Airlaga University Press, 2000 : 243 – 55
10.  Lika L. Radiation therapy: Gale Encyclopedia of Medicine. Gale Research, 1999
11.  Balkwill F, Mantovani A, Inflammation and cancer: back to Virchow? ; The Lancet  Vol 357, 2001;  539-45 
12.  Kentjono WA, Kemoterapi pada Tumor Ganas THT-Kepala Leher Pendidikan     Kedokteran Berkelanjutan III Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher, SMF Ilmu Penyakit THT FK Unair/ RSUD dr. Soetomo, Surabaya  November 2002,108- 21
13.  Chan TC, Teo PM ; Nasopharyngeal Carcinoma : Review; Annals of Oncology 13: 2002; 1007-15
14.  Quinn FB, Ryan,WM ; Chemotherapy for Head and Neck Cancer; Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of Otolaryngology; April 16, 2003
15.  Manfred Schwab (Ed) Encyclopedia Refference of Cancer, Springer, Berlin, 2001 : 195
16.  Skeel RT, Handbook of Cancer Chemoterapy, 3th Edition, Little, Brown and Company, London, 1987; 59-78

Ditulis Oleh : Unknown // 3:10 AM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment