Dalam
perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya teknologi yang semakin pesat sekarang
ini . Pengaruh jasa dan informasi dikatakan sangat menonjol, di samping ilmu
disiplin lainnya. Kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi
mengakibatkan banyaknya perubahan untuk masa sekarang maupun masa yang akan
datang. Kesemuanya ini tentu tidak terlepas dari jasa informasi berkat ditemukannya komputer yang dapat membantu
manusia dalam menyelesaikan masalah informasi.
Komputer
sebagai alat bantu yang perkembangannya sangat cepat berperan penting dalam
mengolah dan memanipulsi data.
Jika
10 tahun belakangan komputer dianggap sebagai peralatan mahal dan mewah, namun
sekarang ini sudah menjadi kebutuhan sama pentingnya dalam mesin ketik pada
suatu instansi pemerintahan. Hampir
semua instansi pemerintahan menggunakan komputer meski hanya sebagai media pembuatan work sheet sederhana
maupun untuk pengolahan data.
Dalam
proses pengolahan data salah satu hal yang teramat penting yang harus
diperhatikan adalah system penanganannya. Penanganan secara manual akan
mengakibatkan biaya, waktu dan tenaga yang cukup banyak. Untuk menanggulangi
hal tersebut di anjurkan memakai system peralatan komputer yang memakai aplikasi
pemograman. Peranan komputer sangat menonjol, hampir setiap perusahaan besar
dan instansi pemerintahan selalu menggunakan komputer bahkan perusahaan kecil
saat sekarang ini mulai melangkah pada
komputerisasi.
PT.Delami
Garment Industries adalah perusahan yang bergerak di bidang retail . Dalam kegiatan Penginputan Penjualan
perhari PT.Delami Garment sangat
berhubungan langsung dengan komputer. Karena system pengolahan data sangat
menunjang dalam penetapan strategi kebijaksanaannya. Informasi yang di butuhkan
juga sangat penting dari manajement instansi pemerintahan khusus nya dalam penginputan penjualan
perhari.
Untuk
itu penulis mencoba merancang dan menganalisa system penginputan penjualan
perhari yang dapat menunjang kelancaran dan kecepatan penginputan penjualan
perhari menggunakan peralatan komputer. Bertitik tolak dan permasalahan
tersebut diatas maka penulis memilih judul sesuai dengan masalah dan kendala
yang dihadapi oleh PT.Delami Garment Industries. Dalam penjualan untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan yaitu: “SISTEM INFORMASI PENJUALAN HARIAN
BRAND JOCKEY PADA PT.DELAMI
GARMENT INDUSTRIES”
1.2Perumusan Masalah
Pada
dasarnya perusahaan atau instansi tidak luput dari permasalahan.
Permasalahannya bisa timbul dari aktivitas untuk mencapai tujuan atau sarana
pendukung dalam pengambilan keputusan.
Adapun perumusan masalah yaitu :
1.Bagaimana Penginputan penjualan harian dilakukan
pada PT.Delami Garment Industries dengan mengunakan Laporan tertulis ?
2.Bagaimana merancang system informasi
penginputa penjualan perhari pada PT. Delami Garment Industries ?
1.3Ruang Lingkup Masalah
Untuk
menghindari kekeliruan yang menyimpang maka penulis memberikan batasan masalah
penulisan tugas akhir mengenai system informasi penginputan penjualan harian pada
PT.Delami Garment Industries, adapun batasan masalah sebagai berikut :
1.Dalam tugas akhir ini penulis hanya membahas tentang penginputan
penjualan harian brand jockey pada PT. PT.Delami Garment Industries.
2.Membuat laporan harian pada PT.Delami Garment Industries.
3.Dalam membuat system informasi ini
menggunakan program Visual Basic 6.0
dengan menggunakan database Mysql.
1.4Tujuan dan Manfaat Penelitian
a.Tujuan
Penelitian
Yang menjadi tujuan
utama dalam penulisan tugas akhir ini adalah untuk :
1.Mengetahui secara mendetail mengenai pelaksanna
penginputan penjualan harian PT.Delami Garment Industries yang menggunkan
laporan tertulis
2.Menciptakan suatu rancangan program yang
dapat diaplikasikan pada PT.Delami Garment Industries agar dapat menjadi bahan
masukan pada PT.Delami Garment Industries dalam mengelolah data penjualan
harian sehingga dapat meningkatkan
kualitas kerja secara cepat dan akurat.
b.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari
penulisan tugas akhir ini yang berkaitan
dengan system penginputan penjualan harian PT.Delami Garment Industries sebagai
berikut:
1.Menjadi gambaran untuk membuat dan
mengembangkan suatu system informasi yang dibutuhkan dimasa yang akan datang,
sehingga dapat menangani permasalahan yang semakin komplek yang merupakan
sebuah jawaban terhadap masalah yang dihadapi perusahaan dalam menangani proses
system informasi dalam penginputan penjualan.
2.Mempermudah
dalam pembuatan laporan penjualan harian
1.5 Metode pengumpulan data
Untuk
memngumpulkan data ini,metodologi penelitian yang digunakan penulis adalah
sebagai berikut :
1.Metode Lapangan
Metode
penelitian ini dilakukan langsung ada objek penulisan data serta keterangan
yang dikumpulkan yang dilakukan dengan cara :
a.Pengamatan (observasion)
Dalam hal ini penulis
melakukan pengamatan untuk mendapatkan data secara umum dengan melihat
langsung,mengamati dan mencatat system yang sedang berjalan saat ini, serta melihat
format format yag dilakukan selama ini.
b.Wawancara (Interview)
Dalam hal ini penulis
melakukan wawancara untuk melengkapi bahan yang sudah ada selama observasi .
penulis melakukan tanya jawab kepada staf (Pegawai PT.Delami Garment
Industries) yang berkaitan dengan system yang diteliti.
2.Metode Kepustakaan
Metode
ini dimaksudkan untuk mendapatkn landasan teori yang memadai dalam penyusunan
tugas akhir ini, dalam hal ini data dan keterangan di kumpulkan dari
sumber-sumber seperti buku-buku teks, bacaan,bacaan, bahan-bahan perkuliahan
serta materi-materi lainnya yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau dalam
penyusunan akhiri ini
1.6Sistematika Penulisan
Adapun sistematika
penulisan laporan penelitian atau tugas akhir ini terdiri dari 4 bab, dan diuraikan sebagai
berikut :
BAB
I : PENDAHULUAN
Pada bab ini menjelaskan secara
singkat tentang latar belakang,pemilihan judul,perumusan masalah,
ruanglingkup masalah, tujuan penelitian, metode pengumpulan data dan
sistematika penulisan.
BAB
II : TUJUAN PERUSAHAAN
Pada
bab ini menjelaskan tentang sejarah berdirinya PT.Delami Garment Indutries,
struktur organisasi,tugas,wewenang, dan tanggung jawab.
BAB III : LANDASAN TEORI
Pada
bab ini menjelaskan mengenai pengertian system informasi,
penginputan,penjualan,perhari, dan sejarah singkat Visual Basic.
BAB
IV : EVALUASI SISTEM
Bab
ini menguraikan langkah-langkah perencanan system informasi dan system yang
mendukung.
BAB
V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penulis
menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran.
B. Status Usaha : Usaha yang akan kami jalankan adalah usaha yang memiliki
prospek cerah, dan memiliki nilai jual yg sangat tinggi.
C. Rasionallitas Usaha : Usaha server isi ulang pulsa yang merupakan cakupan dari bisnis cellular adalah termasuk 10 bisnis paling diminati di Indonesia. Prospeknya masih cukup cerah mengingat pengguna handphone terus bertambah. Indonesia adalah negara besar dengan tingkat konsumsi yang termasuk tinggi. Fakta membuktikan pulsa saat ini telah menjadi barang kebutuhan pokok mirip seperti nasi yang dibutuhkan oleh hampir semua orang. Baik pebisnis, orang tua, pemuda, pelajar dan bahkan anak yang masih balita.
Dilihat dari fungsinya sendiri, pulsa saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, namun oleh developer juga telah digunakan sebagai media pendistribusian produk hiburan lain. Seperti untuk berlangganan NSP, Games, Internetan dan sebagainya.
Adapun alasan mendasar memilih usaha server isi ulang pulsa adalah (a). Memiliki prospek yang cerah. (b). Permodalan yang dibutuhkan relatif kecil. (c ). Produk merupakan barang unik yang sistem pendistribusiannya menggunakan sistem elektronik sehingga biayanya murah. (d). Produk merupakan barang unik yang tidak akan pernah basi. (e). Memiliki nilai jual yang sangat pesat (f). Produk bisa didistribusikan secara nasional dengan sangat mudah dan bisa diikuti banyak orang yang berminat bermitra.
D. Tujuan Kegiatan Usaha: Tujuan dari didirikannya usaha ini adalah :
1.Sebagai kegiatan usaha yang bersifat positif untuk mendapatkan penghasilan.
2.Sebagai kegiatan usaha yang bersifat positif untuk membantu pemerintah mengurangi masalah pengangguran. Dimana masalah pengangguran selama ini tidak pernah bisa diatasi karena jumlah pertumbahan tenaga kerja tidak pernah sebanding dengan jumlah penambahan lapangan pekerjaan.
3.Meningkatkan wawasan pengetahuan dan pelayanan dibidang teknologi informasi sekaligus sebagai pembuka bisnis untuk merambahi bisnis lain yang berprospek cerah.
BAB. II. METODE PELAKSANAAN
Sebelum membuat proposal ini telah kami lakukan studi kelayakan usaha dengan melakukan sendiri dan sharing dengan teman-teman server, dengan menjadi agen dari server yang sudah jalan, dengan mempelajari tentang seluk beluk bisnis server isi ulang pulsa, pengamatan pasar dan konsultasi dengan mereka yang telah berpengalaman.
Dalam melakukan survey kelayakan usaha sebelumnya juga telah kami pelajari secara rinci tentang pengertian bisnis server isi ulang pulsa, cara memulai, cara mengelola, analisa pengembangan dan analisa resiko. Selanjutnya untuk lebih jelasnya akan sedikit kita uraikan tentang metode pelaksanaan usaha ini :
A. Pengertian Bisnis Server Isi Ulang Pulsa.
Bisnis server isi ulang pulsa adalah bisnis pendistribusian voucher isi ulang pulsa dari
berbagai provider. Disini posisi dari Server adalah sebagai grosir yang membawahi outlet.
B. Peralatan
Modal yang dibutuhkan dalam membangun bisnis ini relatif kecil. Untuk pemula cukup menggunakan Komputer lengkap dengan spesifikasi minimal CPU P4 dan lebih tinggi lebih baik, Memori 1Gb – 4Gb, Operasional windows XP, Beberapa Handphone atau modem sebagai konektor dan peralatan pendukung lain seperti UPS, Monitor, USB card dan yang tidak kalah pentingnya adalah aplikasi server isi ulang pulsa.
Dalam membangun bisnis server isi ulang pulsa banyak pilihan software yang bisa digunakan dengan harga yang sangat mahal dan lepas support, namun kami memilih untuk menyewakanya dengan alasan :
> Team Indocenter akan selalu men-support setiap ada kerusakan/ gangguan .
> Team Indocenter akan melayani dengan cepat setiap ada gangguan melalui remote.
> Team Indocenter menggunakan software yang sudah lengkap dan bisa digunakan
untuk beberapa client PC dan transaksi tanpa batas (unlimited) .
Dengan menggunakan software yang sudah teruji, simpel dan sistem support yang jelas kami yakin itu nantinya akan sangat membantu bagi pemula dan team untuk bisa segera menguasai program sehingga bisa konsen dalam pengembangan bisnis tanpa banyak mengalami kendala yang berarti.
C. Pendirian
Disini prinsip efisiensi kami dayagunakan semaksimal mungkin agar dalam pendirian usaha ini bisa dilakukan dengan permodalan yang relatif kecil, resiko kecil sedangkan peluang perkembangan yang cukup besar. Salah satu dari penerapan prinsip efisiensi ini kami akan menggunakan software server isi ulang yang merupakan software standar full support dengan fasilitas yang sudah lengkap dengan system sewa.
D. Pengerjaan
Usaha ini akan kami mulai setelah ada target dana dari Penyewa tersedia. Sebagai acuan pengerjaan nantinya usaha ini akan kami kerjakan dengan basis dirumah kami/ dengan remote kontrol. Selanjutnya kami akan bekerja menurut tugas dan wewenang masing – masing dengan tetap menjaga flexibilitas kerja. Saling melakukan kontrol dan mengadakan evaluasi secara berkala seminggu sekali. Sedangkan server isi ulang pulsa sendiri akan kami jalankan 24.00 jam non stop.
E. Pengadaan Stok
Stok pulsa diadakan dengan sistem kombinasi antara penggunaan chip atau stok sendiri yang bisa didapatkan pada dealer masing – masing provider terdekat dan apabila menghendaki dan bila modal masih sedikit kami juga menyediakan sistem Host to Host ke server kami yang sudah berkembang sebagai backupan jika stok yang dimiliki Penyewa sedang kosong.
Untuk mempercepat proses transaksi dan efisiensi biaya koneksi H2H antar server akan dilakukan menggunakan internet, Yaitu memanfaatkan fasilitas YM aplikasi dengan layanan Hotspot-speedy kami.
Selanjutnya mengenai harga, harga stok dari dealer langsung tidak selamanya pasti lebih rendah dari harga h2h (host to host) ke server lain. Hal ini bisa terjadi karena pada posisi tertentu server memang tidak mengambil keuntungan langsung melainkan hanya untuk menaikan quota penjualan. Kalaupun harga stok dari server yang kita tembak harganya lebih mahal itu wajar, kita masih bisa mengambil keuntungan dari sisi efisiensi penggunaan deposit.
F. Pemasaran
Pemasaran menurut cakupan wilayah akan dilakukan bertahap. Untuk awal dilakukan kedaerah – daerah terdekat sambil memantapkan penguasaan sistem. Selanjutnya jika sudah berjalan akan dilakukan secara nasional dengan menggunakan media internet, iklan koran dan penyebaran brosur melalui reseller.
Disini dengan menggunakan Server pulsa pemasaran akan bisa dilakukan dengan sistem kedealeran maupun sistem MLM. Hal ini akan memungkinkan perkembangan usaha dapat berjalan dengan cepat plus biaya promosi yang kecil. Komisi dealer atau agen pemasaran juga sudah bukan menjadi kendala. Komisi akan bisa dilihat dan diambil sendiri oleh dealer yang bersangkutan setiap saat.
Beberapa fasilitas kedealeran sebagai sarana untuk mempermudah pemasaran server yang ada pada Server adalah :
> Fasilitas registrasi agen dari HP.
> Fasilitas transfer saldo dari HP.
> Fasilitas pengecekan saldo, penjualan dan bonus dari HP.
> Fasilitas registrasi otomatis langsung ke sms center
> Pencairan bonus
> Modul – modul Top up yang tak terbatas
> dan masih banyak lagi feature yang belum kami sebutkan
BAB.III. TARGET PENGELUARAN
A. Target Produk
Usaha server isi ulang pulsa yang akan kami bangun disini nantinya akan melayani semua kartu baik GSM maupun CDMA. Stok akan menggunakan sistem kombinasi stok pada chip langsung dari provider maupun mengambil ke server kami ( H2H ). Hal ini dilakukan melihat efisiensi pengelolaan dan permodalan.
Khusus untuk stok dari produk – produk yang masih belum banyak penggunanya akan diambilkan dengan sistem H2H. Sebab jika dipaksakan menggunakan chip sendiri nantinya cost biaya yang dikeluarkan untuk menghidupi kartu tidak sebanding dengan jumlah transaksi atau keuntungan.
Sebagai nahan pengembangan atau inovasi, nantinya selain produk voucher elektronik bisa juga dimasukan voucher gesek. Selain itu juga bisa digunakan untuk melayani pembelian voucher pulsa listrik PLN bila ambil h2h dari server kami.
B. Target Konsumen
Dalam usaha server isi ulang pulsa besar kecilnya pemasukan atau cepat lambatnya pencapaian sangat ditentukan dengan jumlah transaksi per hari. Sedangkan jumlah transaksi dipengaruhi oleh jumlah member yang berhasil direkrut.
Konsumen yang ditargetkan disini tidak hanya outlet yang sudah jadi. Namun kami juga akan membidik kios-kios kelontongan, warteg dan perseorangan untuk memanfaatkan HP yang mereka miliki untuk berjualan pulsa.
Target konsumen berdasarkan waktu :
No
Bulan
Jumlah Member
1
1
30 agen
2
2
75 agen
3
3
150 agen
4
4
250 agen
5
5
500 agen
6
6
750 agen
7
Mulai bulan ke-7 dan seterusnya ditargetkan akan ada pertambahan agen rata – rata 50 agen per bulan.
C. Target Pendapatan
Target pendapatan kami sesuaikan dengan target konsumen yang hendak kami capai. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di banyak outlet didaerah yang masih belum ramai jumlah transaksi penjualan pulsa mereka rata – rata 10 penjualan per hari. Anggap saja agen yang kita rekrut nantinya juga bergabung dibisnis server isi ulang pulsa yang lain sehingga dari 10 penjualan yang terjadi yang masuk ke server kita hanya 5 transaksi saja.
Selanjutnya jumlah keuntungan yang kita targetkan adalah sebesar Rp.200,- per penjualan pulsa. Semua nominal dan semua kartu. ( Disini nantinya dalam penerapannya akan dilakukan penyilangan. Produk yang belum banyak diminati akan kita ambil keuntungan lebih. Begitu juga dengan produk dengan denominasi besar ).
Berdasarkan target konsumen pada penjelasan sebelumnya, maka target pendapatan bisa dilihat sebagai berikut :
Adapun latar belakang diadakannya pengobatan gratis ini adalah
1.Karena Allah Bapa sudah terlebih dahulu mengasihi kami, dan bukti kasih-Nya yang paling besar adalah ketika dia merelakan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus mati terhina di kayu salib untuk menebus dosa kami, sehingga kami rindu dimanapun merasakan kasih yang kami rasakan.
2.Untuk menggalang kasih diantara kami, para Alumni Kristen FKG USU Medan.
3.Kami juga ingin membantu mensukseskan program pemerintah Indonesia sehat 2010
B.TUJUAN
1.Menciptakan masyarakat atau sesama manusia yang sehat.
2.Menciptakan tali kasih persaudaraan diantara para alumni Kristen FKG USU Medan
C.SARAN
Adapun sasarannya adalah 150 orang anak-anak sekolah minggu GMII
D.Waktu Dan Tempat Kegiatan-Kegiatan Pengobatan Ini Diadakan Di Pada :
Hari/Tgl : Sabtu, 21 November 2009
Tempat : GMII Kasih Karunia Jl. Titi Papan Gg. Turi Medan
Pukul : 8.00 – 13.00
E.SUMBER DANA DAN PENGGUNAAN DANA
1.Sumber Dana
-Donatur alumni FKG
45 x Rp. 200.000 = Rp. 9.000.000
Total = Rp. 9.000.000
2.Pengeluaran
- Obat-obata = Rp. 3.000.000
- Pembicara dari Siantar dan Bandung = Rp. 2.500.000
- Pemusik = Rp. 200.000
- Kacang hijau dan gelasnya = Rp. 200.000
- Nasi kotak untuk alumni 100 orang x Rp. 15.000 = Rp. 1.500.000
- Makanan untuk anak anak 150 orang x Rp. 10.000 = Rp. 1.500.500
- Acara dan surat-menyurat = Rp. 100.000
Total = Rp. 9.000.000
Demikian proposal ini kami sampaikan, kiranya Tuhan Yesus membalas segala kemurahan saudara-saudara kami Alumni Kristen FKG USU Medan. Dan kami akan menyalurkan pemberian dengan sebaik-baiknya dan segala kemuliaan dan hormat hanya bagi Allah ditempat yang Maha Tinggi.
BAB I PENDAHULUAN - A. Latar Belakang : Secara umum pengajaran bahasa Indonesia pada jenjang pendidikan ditujukan untuk membina dan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Keterampilan tersebut meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Dengan demikian, output yang diharapkan dimiliki siswa pembelajaran bahasa Indonesia adalah terampil menyimak, berbicara, membaca, dan terampil menulis dalam level komunikasi. Dari keempat keterampilan itu, salah satunya adalah berbicara. Di dalam keterampilan membaca terdapat materi mengenai menanggapi isi ringkasan berita, artikel, dan buku yang disampaikan oleh peserta diskusi, peneliti memfokuskan menanggapi pada isi berita bertema pendidikan, lingkungan, dan budaya pada Koran Harian Kompas.
Selama melaksanakan kegiatan PPL-T, peneliti melihat kemampuan siswa dalam menanggapi isi berita sangat kurang. Ada banyak faktor yang mungkin menyebabkan hal itu, di antaranya siswa kurang tertarik akan materi tersebut. Kekurangtertarikan itu dapat diakibatkan oleh manfaat menanggapi isi berita belum diketahui siswa. Untuk memberikan pengalaman yang berarti bagi siswa dalam mempelajari materi menanggapi isi berita sebaiknya dilakukan dengan model pembelajaran yang tepat, menanggapi dengan baik terhadap isi berita membuat siswa lebih memiliki wawasan luas, dan lebih berani mengungkapkan pendapat serta kritik terhadap isi berita yang dibaca. Menanggapi berarti seseorang itu mengungkapkan ide/gagasan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan lain-lain.
Menanggapi dengan baik terhadap isi berita tentu tidak begitu saja diperoleh siswa. Diperlukan proses belajar dengan model pembelajaran yang tepat. Dewasa ini, ada banyak model pembelajaran, salah satunya model pembelajaran Discussion Starter Story (DSS). Berdasarkan sepengetahuan peneliti, pembelajaran model Discussion Starter Story (DSS) belum pernah digunakan dalam pemahaman isi berita. Oleh karena itu, peneliti mencoba meneliti keefektifan model Discussion Starter Story (DSS) dalam peningkatan kemampuan menanggapi isi berita dengan mengangkat judul “Efektivitas Pembelajaran Model Discussion Starter Story (DSS) Terhadap Kemampuan Menanggapi Isi Berita Koran Harian Kompas oleh Siswa Kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010”
B. Identifikasi Masalah
Tujuan diterapkan identifikasi masalah adalah agar penelitian yang dilakukan semakin terarah. Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah.
Rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia pada pembelajaran menanggapi isi berita.
etode pembelajaran yang dilakukan selama ini masih kurang inovatif.
Efektifkah model Discussion Starter Story terhadap kemampuan menanggapi isi berita dibandingkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).
C. Pembatasan Masalah
Pada identifikasi masalah sudah disebutkan hal-hal yang akan diteliti, tetapi pembatasan masalah masih sangat perlu. Oleh karena itu, penulis membatasi penelitian ini pada seberapa besar peningkatan kemampuan menanggapi isi berita koran harian Kompas siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan dengan pembelajaran model Discussion Starter Story (DSS) bila dibandingkan Numbered Head Together (NHT)
D. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
Bagaimanakah kemampuan siswa dalam menanggapi isi berita dengan menggunakan model Numbered Head Together (NHT) siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010?
Bagaimanakah kemampuan siswa dalam menaggapi isi berita dengan menggunakan model Discussion Starter Story siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010?
Bagaimanakah keefektivan kemampuan menanggapi isi berita diantara model Discussion Starter Story dengan Numbered Head Together terhadap kemampuan menanggapi isi berita oleh siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sebagai berikut.
Untuk mengetahui siswa dalam menanggapi isi berita dengan menggunakan Numbered Head Together (NHT) siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010.
Untuk mengetahui siswa dalam menanggapi isi berita dengan menggunakan model Discussion Starter Story siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010.
Untuk mengetahui keefektivan metode diantara model Discussion Starter Story dengan model Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan menanggapi isi berita siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Sebagai bahan informasi kepada calon guru atau guru bidang studi Bahasa Indonesia tentang bagaimana cara menggunakan pembelajaran model Discussion Starter Story.
Sebagai penambah wawasan pengetahuan bagi penulis danpembaca tentang permasalahan penelitian ini.
Sebagai bahan masukan kepada peneliti lain yang melakukan penelitian yang berhubungan dengan permasalahan penelitian ini.
BAB II
LANDASAN TEORETIS, LANDASAN BERPIKIR DAN
HIPOTESIS PENELITIAN
A. Landasan Teoretis
Dalam kegiatan penelitian, kerangka teoretis memuat sejumlah teori yang berkaitan dengan judul penelitian. Teori-teori tersebut dijadikan sebagai landasan pemikiran dan titik acuan bagi uraian mengenai hal-hal yang diteliti.
1. Hakikat Kemampuan Menanggapi Isi Berita Pada Koran
a. Pengertian Kemampuan
Kemampuan berasal dari kata “mampu”. Dalam bahasa Inggris kemampuan adalah “ability”. Selanjutnya Tarigan (1985:1) mengemukakan:
“Kompetensi atau kemampuan diartikan sebagai pengetahuan yang dipunyai pemakai bahasa tentang bahasanya dan nilai-nilai yang merupakan objek penting. Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki oleh individu secara tidak sadar, secara diam-diam, secara instrinsik, intuisif dan terbatas.”
Selanjutnya Kamisa (1997:623) menyatakan, “Kemampuan dapat didefinisikan sebagai keterampilan yang memerlukan kesanggupan, kecakapan, kekuatan, kekayaan, dan disertai dengan tingkat latihan yang terus-menerus.”
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan diartikan sebagai kesanggupan atau kecakapan untuk melakukan sesuatu hal berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh individu secara diam-diam, secara instrinsik, intuitif, dan terbatas.
b. Pengertian Menanggapi
Winarso (2005:107) mengatakan, “Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seseorang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Pengalaman-pengalaman atau peristiwa yang diperolehnya dari lingkungan akan menghasilkan tanggapan yang berbeda-beda terhadap objek yang dilihatnya.”
Menurut Suryabrata (2003:94), “Tanggapan adalah bayangan yang tinggal dalam ingatan melakukan pengamatan.” Sementara itu Sarlito (1986:34) berpendapat bahwa “Tanggapan adalah suatu proses di mana seseorang sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui segenap pancaindera yang dimiliknya, yang mampu memberikan pandangan terhadap objek yang dilihat, diamat, atau dirasakannya.” Selanjutnya secara singkat Nasution (1993:64) mengatakan, “tanggapan adalah kesan-kesan yang tercipta dalam jiwa seseorang setelah melakukan suatu proses pengamatan.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tanggapan adalah kesan-kesan yang timbul sebagai hasil pengamata. Ini bermakna bahwa proses terjadinya tanggapan harus diawali oleh pengamatan, selanjutnya dari pengamatan tersebut menghasilkan kesan tersendiri bagi yang mengamati. Dengan demikian, menanggapi berarti seseorang harus mengetahui dan memahami apa isi berita yang dibacanya.
c. Isi Berita Koran
Tampubolon (1987:195) mengemukakan “Isi berita surat kabar terbagi kepada lima yaitu berita, opini, iklan, pemberitahuan dan fiksi.” Sesuai dengan pembatasan masalah, yang dikaji dalam teoritis ini adalah isi berita, bukan opini, iklan, pemberitahuan, atau fiksi. Berita adalah laporan yang benar pada waktunya tentang peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Menurut Effendy (2005:154) mengemukakan,
“Ciri-ciri berita surat kabar adalah publisitas, universalitas, dan aktualitas. Publisitas ialah surat kabar diperuntukkan untuk umum, karenanya isi berita harus menyangkut kepentingan umum, bukan untuk golongan tertentu. Universalitas maksudnya adalah isi berita surat kabar harus memuat aneka berita mengenai kejadian–kejadian di seluruh dunia dan tentang segala aspek kehidupan manusia. Sedangkan aktualitas adalah kecepatan penyampaian laporan mengenai kejadian di masyarakat kepada khalayak. Masyarakat umumnya lebih menyenangi berita yang terbaru (terkini) daripada berita berita yang sudah pernah didengarnya.”
Selanjutnya Effendy (2005:155) mengatakan:
“Ditinjau dari isi, maka bobot isi berita surat kabar mencakup 5W + 1H (what = apa, who = siapa, where = dimana, when = kapan, why = mengapa, dan how = bagaimana). Hal ini disebabkan isi berita dapat diketahui dan dipahami oleh pembaca jika mengandung keenam unsur tersebut. Hilang dari salah satu unsur tersebut, mengindikasikan bahwa isi berita yang disajikan tidak lengkap dan tidak berbobot, sebab pembaca tidak mengetahui dan memahami isi berita dengan benar. Misalnya isi berita menceritakan bencana alam, namun dalam berita surat kabar tidak disebutkan di mana terjadi (where), maka isi berita terkesan ngambang.
Berikut ini akan dijelaskan unsur-unsur berita surat kabar satu per satu.
a. What
What artinya apa. Kata “apa” dimaksudkan adalah setelah membaca berita surat kabar, siswa mengetahui apa yang diceritakan pada berita tersebut. Misalnya isi berita bercerita tentang peristiwa erosi, maka yang ditekankan pada berita persoalan apa saja yang dibicarakan dalam peristiwa tersebut.
b. Who
Who berarti siapa, yakni siapa yang menjadi palaku erosi dari berita tersebut. Jika isi berita mengetengahkan penebangan hutan dan siapa yang menanggung akibatnya kelak.
c. Why
Why artinya mengapa. Kata “mengapa” dimaksudkan adalah bahwa isi berita harus mampu menceritakan mengapa peristiwa erosi bisa terjadi. Pada berita tentang penebangan hutan, maka yang dituntut kepada pembaca adalah mengapa peristiwa penebangan itu bisa terjadi.
d. Where
Where artinya dimana. Pada unsur ini yang ditekankan pada isi berita adalah menceritakan dimana peristiwa terjadi.
e. When
When artinya kapan. Pada unsur ini yang ditekankan pada isi berita adalah menceritakan kapan peristiwa itu terjadi.
f. How
How artinya bagaimana, yakni bagaimana peristiwa itu terjadi. Pada unsur ini yang ditekankan dari surat kabar adalah memberitahukan secara kronologis suatu peristiwa berlangsung dengan bahasa singkat dan padat.
Menurut Winarso (2005:110), “Dalam menyampaikan isi berita kepada masyarakat, maka redaktur surat tidak hanya menceritakan isi pokoknya saja, melainkan juga harus dibarengi dengan keterangan-keterangan pendukung, sehingga pembaca dapat memahami isi berita secara keseluruhan.” Dalam konteks wacana hal ini disebut ide pokok dan ide pendukung. Ide pokok berarti unsur utama yang harus ditonjolkan pada isi berita, sedangkan ide pendukung adalah gagasan-gagasan yang sifatnya menguatkan atau membuat isi berita menjadi lebih menarik.
Ide yang disampaikan redaktur surat kabar dapat ditangkap oleh pembaca. Jika dalam tulisan menggunakan ide pokok dan ide pendukung/penunjang, maka pembaca pun harus mengetahui man aide pokok dan ide pendukung dari isi berita yang dibacanya. Pembaca yang baik adalah pembaca yang mengetahui ide pokok dan ide pendukung seperti yang dimaksudkan oleh penulis, sehingga ada kesepahaman maksud antara penulis dengan pembaca.
Sebuah berita yang disajikan secara tertulis tanpa dibarengi dengan ide pendukung maka isi berita akan ditinggalkan pembaca. Ide pokok dan ide pendukung adalah ibarat kebutuhan manusia sehari-hari. Manusia hidup memerlukan kebutuhan pokok, namun di samping itu manusia berusaha mencari kebutuhan-kebutuhan pendamping (kebutuhan sekunder) sehingga hidup menjadi lebih sempurna. Demikian halnya dengan isi berita, di mana ide pokok harus dibarengi dengan ide pendukung. Baik tidaknya kualitas isi berita dari surat kabar banyak ditentukan oleh kemampuan redaktur untuk meletakkan ide pokok dengan ide pendukung secara tepat pada berita yang ditulisnya.
Setelah diketahui pengertian kemampuan, menanggapi dan isi berita dapat disimpulkan bahwa kemampuan menanggapi isi berita koran adalah kesanggupan siswa memberikan penilaian terhadap isi berita setelah melakukan kegiatan belajar meliputi tanggapan terhadap ide pokok dan ide pendukung dari isi berita.
2. Hakikat Teknik Cerita Pemula Diskusi (Discussion Starter Story)
a. Pengertian Discussion Starter Story
Sudjana (2001:119) mengemukakan bahwa Discussion Starter Story adalah teknik pemecahan masalah tentang situasi kehidupan yang khusus seperti ruang lingkup masalah, dan issu yang nyata. Teknik ini memberikan informasi tentang kasus tertentu kepada para peserta didik sehingga dengan informasi tersebut mereka dapat mengenal, memahami dan menganalisis kasus itu secara mendalam. Dengan studi kasus dapat ditemukan berbagai alternatif pemecahan masalah tersebut. Bahan belajar dapat dingakat dari bahan bacaan atau dari pengalaman langsung di lapangan. Kasus itu dapat disajikan secara lisan atau rekaman suatu kejadian. Isinya menggambarkan apa masalahnya, siapa yang terlibat, di mana, kapan, mengapa masalah itu timbul, dan bagaimana kemungkinan pemecahannya.
Langkah-langkah penggunaan
Langkah-langkah penggunaan teknik cerita pemula diskusi menurut Sudjana (2001:119) adalah sebagai berikut:
1. Pendidik, mugkin bersama peserta didik, menyiapakn bahan belajara yaitu suatu kasus yang sesuai dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan.
2. Pendidik member penjelasan tentang:
Kegiatan apa yang harus dilakukan oleh para peserta didik, misalnya mereka akan mendiskusikan kasus itu.
Apabila dipandang perlu, ia membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai dengan kebutuhan
Peranan pimpinan diskusi, pelapor dan para peserta
Pendidik membagaikan bagan belajar, seperti lembaran yang berisi uraian terlulis, kepada para peserta didik
Pendidik membantu peserta didik yang membutuhkan bimbingan dalam mengalisis dan memecahkan masalah yang diidentifikasi dari kasus itu, umpamanya dengan menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh atau cara menggunakan data/informasi dalam kasus tersebut.
Pendidik atau salah seorang peserta didik merangkum hasil diskusi kelompok. Rangkuman ini antara lain memuat hal-hal sebagai berikut:
Masalah-masalah yang dihadapi
Alternative pemecahan masalah dan pilihan prioritas pemecahannya.
Program dan langkah-langkah pemecahan masalah.
Apabila studi kasus dilakukan oleh sub-sub kelompok maka perlu diadakan pelaporan hasil sub-sub kelompok itu dalam kelompok besar.
3. Pendidik bersama peserta didik mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan studi kasus.
b. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Discussion Starter Story
Keunggulan model pembelajaran Discussion Starter Story menurut Sudjana (2001:121) antara lain.
Kasus dapat disajikan dengan berbagai bentuk (tertulis, lisan, film, slide, rekaman, atau permainan peran).
Setiap peserta didik diberi kesempatan yang sama untuk menganalisis dan mengajukan informasi tentang alternatif pemecahan masalah.
Peserta didik dapat mengenal masalah-masalah dari kehidupan nyata.
Mengembangkan suasana bertukar pikiran dan pendapat dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Sedangkan kelemahan model pembelajaran Discussion Starter Story menurut Sudjana (2001:121) antara lain.
1. Memerlukan kreativitas dan keterampilan dalam menyusun kasus yang dingkat dari kehidupan nyata.
2. Semua peserta didik tidak sama kepentingannya teradap masalah yang diajukan
3. Waktu yang diperlukan dapat bertambah, lebih-lebih apabila analisis kasus dilakukan secara mendalam.
4. Membutuhkan pimpinan diskusi yang terampil untuk menghindarkan perdebatan yang tidak perlu.
B. Kerangka Konseptual
Dalam mencapai hasil pembelajaran, banyak model pembelajaran yang dapat digunakan. Salah satu model pembelajaran yang banyak digunkan saat ini adalah pembelajaran kooperatif model Discussion Starter Story dan model pembandingnya adalah pembelajaran model Numbered Head Together (NHT). Kedua model tersebut digunakan untuk melihat model mana yang efektif digunakan untuk pembelajaran menanggapi isi berita.
Hasil belajar merupakan hasil dari interaksi guru dengan siswa yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik dan efektif apabila guru menggunakan satu atau lebih model pembelajaran di dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Hasil belajar pada penelitian ini adalah hasil yang dicapai melalui perbuatan belajar. Dalam hal ini hasil belajar menanggapi isi berita siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Discussion Starter Story dan Numbered Head Together (NHT).
Pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) merupakan model pembelajaran yang bertumpu pada keterlibatan banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Di satu sisi model pembelajaran NHT baik digunakan, namun dalam bidang studi Bahasa Indonesia khususnya dalam materi menanggapi isi berita, model pembelajaran NHT dirasa kurang cukup membantu bagi siswa. Dikarenakan dalam menemukan informasi berita melalui kegiatan menyimak, tidak hanya dibutuhkan juga kerjasama dan rasa tanggungjawab tiap-tiap anggota kelompok dalam menemukan informasi berita melalui kegiatan menyimak.
Kemampuan menanggapi isi berita merupakan kemampuan kesanggupan siswa memberikan penilaian terhadap isi berita setelah melakukan kegiatan belajar meliputi tanggapan terhadap ide pokok dan ide pendukung dari isi berita.
C. Hipotesis Penelitian
Bertitik tolak dari judul penelitian, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yakni Model pembelajaran Discussion Starter Story lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dalam meningkatkan kemampuan menanggapi isi berita koran harian Kompas oleh siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Santo Thomas 3 Medan. Adapun pertimbangan peneliti memilih lokasi ini adalah:
jumlah siswa di SMA Santo Thomas 3 Medan cukup memadai untuk dijadikan sampel penelitian sehingga data yang diperoleh lebih sahih
di sekolah tersebut belum pernah diadakan penelitian mengenai judul dalam penelitian
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pembelajaran 2009/2010.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen pretest-posttest kontrol group design. Metode ini digunakan karena peneliti ingin menggambarkan efektivitas model pembelajaran Discussion Starter Story dalam menanggapi isi berita.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Santo Thomas 3 Medan Tahun pembelajaran 2009/2010 dibagi atas 6 (enam) kelas paralel (X -1 s/d X-6) dengan jumlah keseluruhan 240 orang siswa, sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
2. Sampel
Arikunto, (2006:131) menyatakan bahwa “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.”
Jogianto (2008:75) mengatakan “pengambilan sampel secara cluster adalah pemilihan sampel dengan membagi populasi menjadi beberapa grup bagian (cluster) dan dari beberapa cluster kemudian dipilih secara random untuk menentukan sampel.”
Dalam penelitian ini populasi yang ada telah terbagi menjadi beberapa bagian berdasarkan kelas yang ada yaitu X-1 hingga X-6. Untuk menentukan sampel dalam penelitian ini, peneliti melakukan random terhadap populasi kelas yang ada dengan cara melakukan pengocokan. Karena penelitian ini merupakan penelitian eksperimen design two group maka proses pengocokan dilakukan dua kali.
Pengocokan pertama dilakukan untuk menentukan kelas kontrol dan pengocokan kedua untuk menentukan kelas eksperimen, setelah dilakukan pengocokan maka di dapat hasil kelas X-5 sebagai kelas kontrol dan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen.
D. Defenisi operasional Variabel Penelitian
Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman serta untuk memperjelas permasalahan yang dibahas, maka perlu dirumuskan defenisi operasional variabel penelitian. Adapun defenisi operasional variable penelitian ini adalah Metode pembelajaran Discussion Starter Story merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memecahkan suatu masalah dengan kerja kelompok memilki tanggungjawab untuk mengajarkan materi pelajaran yang ia peroleh dalam kelompok ahli kepada rekan-rekannya di kelompok asal. Sehingga dari metode pembelajaran ini siswa diharapkan dapat bertanggungjawab mengenai materi pelajaran baik secara induvidu maupun secara kelompok.
Kemampuan menemukan informasi berita melalui kegiatan menanggapi yang diperoleh siswa atas kemampuannya dalam menemukan informasi berita yang terangkum dalam rumus 5W + 1 H yaitu what, who, where, who, when, and how yang merupakan unsur dalam berita pendidikan, lingkungan dan kebudayaa.
E. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah kontrol group pre-test-post-test. Desain penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan perbedaan pencapaian antara kelompok eksperimen dengan pencapaian kelompok control